Suwung
“Omahe suwung, Rek!” alias rumahnya kosong. Dalam bahasa Jawa, suwung memang berarti kosong. Namun, dalam kamus spiritual Jawa dan kaum sufi, makna suwung ini begitu dalam.
Suwung dalam kamus spiritual sulit dijelaskan dalam kata-kata. Suwung bisa bermakna kosong namun juga tidak hampa. Ketika seseorang telah berada dalam kondisi suwung maka bisa dimaknai sebagai kondisi sunyi dari gejolak emosi, bebas dari kemelekatan ego, tidak larut dalam duniawi, bebas dari ilusi dunia, dan memiliki pengendalian diri yang sempurna.
Oleh karena sulitnya mencapai kondisi tersebut maka suwung dianggap sebagai pencapaian tertinggi bagi pelaku spiritual Jawa. Suwung bisa disetarakan dengan mereka yang telah mencapai tahap makrifat setelah menempuh tahap syariat, tarekat, dan hakikat.
Konsep suwung ini bagiku cukup kompleks, kondisi suwung dan langkah-langkah menuju ke sana juga nampak susah untuk dipahami. Manusia perlu seorang guru agar tidak salah langkah dalam mencapai kondisi tersebut.
Bagi manusia awam sepertiku tentunya tidak mudah untuk mencapai kondisi suwung. Selain harus terus meningkatkan kesadaran spiritual, juga harus melatih diri agar tidak dikendalikan oleh ego. Apakah suatu ketika aku dan kalian bisa memahami dan memasuki kondisi suwung?
Gambar:Pexels/Photo by Harrison Haines:

Di tengah hiruk-pikuk dunia yang tak pernah berhenti, ada kata “suwung” yang bagi masyarakat Jawa menggambarkan kesunyian yang mendalam. Suwung bukan sekadar ketiadaan suara, melainkan ruang bagi jiwa untuk menelusuri kedalaman batin yang paling suci. Dalam kesenyapan itu, terdengarlah senandung keilahian, melodi yang hanya bisa dirasakan oleh hati yang tenang dan pikiran yang jernih. Prosa ini mencoba merangkai kata demi kata untuk menggambarkan suwung:
“`
Suwung—
Kesunyian yang terhampar luas,
Menjadi saksi bisu atas renungan jiwa.
Di sini, di ruang hening yang tak terjamah,
Batin berkelana, mencari makna.
Senyap—
Bukan sekadar ketiadaan bunyi,
Melainkan pintu menuju keabadian.
Hanya dalam diam, hati berbisik,
Mendengarkan suara yang tak terucapkan.
Dan dalam suwung itu,
Ketika dunia luar tak lagi berisik,
Kita menemukan irama langit,
Senandung keilahian yang abadi.
Hanya jiwa yang suwung,
Yang dapat meresapi nyanyian alam semesta,
Melodi yang tercipta dari keheningan,
Mengalun syahdu, membawa pesan keilahian.
“`
Prosa ini adalah upaya untuk menggambarkan bagaimana dalam kesunyian, kita dapat menemukan koneksi yang lebih dalam dengan alam semesta dan kekuatan yang lebih besar dari diri kita sendiri..
Wah bagus banget puisinya. Ini lebih jelas dalam menyampaikan makna dan kondisi suwun tersebut, sementara aku baru di permukaan. Terima kasih Cahya