Empat Anak Kemoceng Pun Diopname
Musim hujan tidak bersahabat bagi kucing. Setelah kucoba untuk merawat para kucing sakit sendirian, akhirnya aku menyerah. Aku tidak sanggup. Kubawa keempat anak kucing ke klinik dan akhirnya mereka dirawat inap.
Keluhan awalnya gara-gara Kemoceng sakit mata. Ia sakit mata sejak gagal steril. Eh kemudian menular ke anak–anaknya, dari satu kucing merembet ke kucing lainnya. Keempatnya pun kena.
Mulailah kegiatan yang melelahkan dan membosankan. Setiap hari minimal dua kali sehari aku membersihkan mata kucing dan memberinya obat tetes mata. Pemberian obat tetes ini susah, apalagi ke Kemoceng.
Namun belum lengkap penderitaan, kucing-kucing mulai diare, dari satu anak kucing merembet juga ke lainnya. Astaga. Kali ini mereka membuatku frustasi.
Sudah beberapa hari kucing juga batuk pilek, diawali dari Cemong, Opal, dan kemudian Naura. Pang, Clara, dan Kemoceng juga mulai tertular. Alhasil ada delapan kucing yang perlu perawatan dan perhatian. Ini membuat fisik dan mentalku kelelahan.
Akhirnya setelah menghitung tabungan, aku berangkat ke klinik dengan gundah. Biaya rawat inap kucing tidak murah, apalagi empat anak kucing. Tapi aku merasa berdosa jika membiarkan mereka meninggal tanpa aku berbuat semaksimal mungkin ke mereka.
Keempat anak kucing itu masih sekitar 8-9 minggu. Mereka langsung lemas padahal minggu lalu mereka masih aktif. Dua kucing lemas dan tidak bisa makan, sehingga diinfus. Satu kucing mengalami luka sehingga harus pakai kerah agar lukanya tidak dijilati. Satunya masih bisa makan sendiri meski mulai terpapar penyakit.
Uang bisa dicari lagi. Namun kebahagiaan kucing selama di dunia akan sulit diulangi.
