Daya Tarik Makanan Berkuah

Hujan masih sering datang menyapa. Kehadiran hujan membuat hawa terasa segar dan mengusir panas seharian. Bahkan belakangan hawa di Jakarta bagian tenggara ini terasa adem, aku sampai selimutan. Saat-saat seperti ini paling mantap menyantap makanan berkuah.

Setelah mata sembab banyak menangis karena Kiki meninggal, aku mengisi kembali energiku dengan menyantap makanan berkuah. Pilihan hemat dan sedap adalah soto mie daging dengan jeruk hangat.

Sudah lama aku langganan di Soto Mie Bogor Karasa. Kuahnya sedap, dagingnya empuk, bisa pilih daging sapi saja atau tambah jeroan. Selain soto mie, mereka juga menjual soto Betawi alias soto dengan kuah santan.

Aku menyantap seporsi soto sendirian. Saat itu aku singgah setelah menjemput jasad Kiki untuk dimakamkan. Mataku kembali sembab tapi aku bisa berdalih karena kepedasan.

Soto mie ini jadi semacam makanan penenang. Aku menyantap hingga kuah taj tersisa. Kemudian kuteguk jeruk hangat perlahan-lahan.

Soto mie daging ini tergolong hemat. Seporsi soto dengan nasi separuh dan jeruk hangat totalnya adalah 23 ribu rupiah. Wah sayang nasinya, seharusnya aku pesan seperempat porsi saja.

Aku kemudian menambah membeli dua buah ubi cilembu untuk makan malam. Totalnya dengan soto dan lain-lain jadi 32 ribu rupiah.

Saat Kiki sakit, aku kadang malas makan. Aku menambah energi dengan makan seadanya. Tetap kupilih makanan berkuah. Mie instan, misalnya. Kutambahkan cabe merah dan ayam rebus agar pedas dan ada proteinnya.

Rasa pedas membuat nafsu makan membaik. Kutambahkan telur rebus dan telur asin. Semuanya menambah protein. Sementara rasa segar, serat, dan sumber mineral-vitamin kudapat dari pakcoy alias sawi daging.

Ah melihat gambar makanan ini aku jadi lapar. Duh tadi aku hanya berbuka dengan makanan seadanya. Tapi sekarang sudah larut malam. Besok pagi saja deh makannya, seusai sholat Id saja.

~ oleh dewipuspasari pada Mei 26, 2026.

Tinggalkan komentar