Sampahku Tanggung Jawabku

Kamu bertanggung jawab atas apa yang kamu makan dan konsumsi. Aku lupa di mana aku mendengar kalimat ini. Namun, aku tertohok juga, lalu mencoba berpikir lama sebelum membeli. Apa aku benar perlu barang ini, apa aku ingin makan ini?

Pada dasarnya, sampah adalah tanggung jawab masing-masing. Kalau aku tak punya banyak kucing mungkin aku tak punya banyak kotoran dari pasir kucing hahaha. Kalau aku tak sering belanja, bubble wrap pembungkus pun tak akan menumpuk di sudut ruangan. Kalaupun ada, aku melipatnya rapi, lalu berupaya menggunakannya kembali saat mengirim paket agar tidak langsung menjadi sampah.

Dengan cara pandang baru ini aku jadi berhati-hati membeli sesuatu dan memasak sesuatu. Benarkah bahan makanan ini nanti akan kumasak, jangan sampai hanya menjadi sayuran layu? Kataku kepada diriku.

Memang sih bahan makanan dan sisa makanan bisa dikompos, tapi kan perlu waktu lama, kecuali menggunakan mesin tertentu yang mahal dan menggunakan banyak daya listrik. Kalau dibuat secara manual, proses pengomposan bisa memakan waktu satu hingga tiga bulan sendiri. Itu pun belum tentu berhasil.

Bagaimana dengan benda yang bisa didaur ulang seperti sampah plastik, kardus, kaleng, dan lainnya? Iya sih bisa didaur ulang tapi lagi-lagi perlu waktu dan biaya.

Sampah plastik yang terbuang sembarangan dapat membahayakan ekosistem. Sampah plastik sulit terurai. Jika hewan mengira plastik sebagai makanan dan kemudian menyantapnya, maka akan mengganggu sistem pencernaannya.

Karena tempat pembuangan sampah di Jakarta makin terbatas, maka sudah waktunya meminimalkan sampah dari tiap keluarga. Memilah sampah dan mengompos sudah menjadi kewajiban. Cuma ya, sampah dari kotoran anabul ini nih yang masih berlimpah dan sulit diolah. Bekas kaleng makanannya sendiri sih selalu kucuci bersih dan kukeringkan agar bisa didaur ulang.

Sampahku adalah tanggung jawabku. Oh mendengar kalimat ini kuucapkan keras-keras, membuatku merenung. Sudah waktunya aku lebih lebih lebih peduli pada bumi, jangan sampai bumiku dipenuhi sampah ini dan itu. Semua organisme berhak hidup dan punya ruang hidup.

Aku belum bisa hidup bebas sampah. Masih ada jenis sampah yang harus berakhir diangkut petugas sampah. Namun, aku berupaya untuk meminimalkannya.

Aku bertanggung jawab atas apa yang kukonsumsi. Sudah waktunya aku bersih-bersih dan irit konsumsi.

~ oleh dewipuspasari pada Juli 30, 2026.

Tinggalkan komentar