Penjaja Sate Itu Kembali

Teeeesateee…
Suara itu, aku mengenali suara penjaja sate
Ia adalah penjaja sate yang biasa berjalan kaki berkeliling
Oh ia telah kembali
Oleh karena belakangan aku sering memasak, baru kemarin aku bertekad untuk membeli satenya. Berikan ia kesempatan agar ia berjualan dengan lebih semangat.
Ya, benar. Ia pedagang sate yang kukenal. Setidaknya aku sudah tahu rasa masakannya. Ia tipe penjaja sate yang tak menaburkan bawang goreng di atas satenya. Aku juga bisa memesan satenya dimasak lebih kering agar bumbunya lebih meresap.
Ia sepertinya juga masih mengenalku. Sudah berapa lama ya ia tak berdagang, kayaknya hampir setahun?
Kini seporsi satenya Rp18 ribu. Ehm naik sih sekian ribu. Ditambah satu lontong jadi Rp21 ribu.
Aku menyantap dengan sukacita. Malam itu aku tak memasak. Aku menyantap dengan perlahan-lahan, menikmati tiap tusuk dan bumbunya.
Oh para kucing tak tahan. Mereka berdemo berjajar. Mereka menagih makanan enak. Diberi makanan basah kaleng dan kering pun mereka belum puas.
Sate pun tak bersisa. Aku ternyata masih harus ke dapur juga. Menyiapkan ayam rebusan buat para kucing yang ngadat.
Hayooo jangan makan enak sendirian, ancam mereka dengan mengeluarkan cakar imutnya.
