“Akulah Vivian” dan Sekelumit Koleksi Museum Perfilman Sinematek Indonesia

Film Akulah Vivian dulu kontroversial sekaligus sangat populer pada era 1970-an, ujar Pak Taufik. Ucapannya membuatku dan Mbak Windhu langsung memperhatikan poster film yang dimaksud. Film tersebut disebut sebagai film bertema transgender pertama di Indonesia.
Poster hitam-putih itu sederhana, tetapi pesannya begitu kuat. Di depan sebuah cermin klasik berdiri seorang pria. Bayangan yang memantul tampak serupa dengan dirinya, tetapi berwajah cantik, berambut panjang, dan bertubuh feminin.
Sesampainya di rumah, aku langsung mencari informasi tentang film tersebut. Rupanya Akulah Vivian dirilis pada tahun 1977 dan dibintangi oleh Vivian Rubiyanti, seorang aktris transgender yang kisah hidupnya menjadi inspirasi film ini. Sutradaranya adalah M. Endraatmadja.

Film ini memperlihatkan banyak hal yang menarik untuk ukuran zamannya. Misalnya, proses operasi pergantian kelamin di Singapura, adegan persidangan untuk mengesahkan perubahan jenis kelamin Vivian, hingga alasan yang mendorongnya mengubah identitas dari pria menjadi wanita.
Wah, film ini sungguh berani untuk ukuran era 1970-an. Luar biasa!
Mbak Windhu kemudian bertanya kepada Pak Taufik tentang kabar Vivian. Rupanya jejak dirinya perlahan menghilang seiring waktu. Ia tak lagi berakting. Film biopik tersebut menjadi karya terakhirnya di perfilman nasional. Setelah itu ia seolah lenyap, bak terbang ke negeri antah-berantah tertiup angin kencang.

Aku kembali asyik mengamati deretan poster film di bagian luar Studio Mini Sinematek yang menjadi bagian dari Museum Perfilman Sinematek Indonesia. Lokasinya berada di Pusat Perfilman H. Usmar Ismail, Jalan H.R. Rasuna Said, berdampingan dengan Pasar Festival.
Poster film era 70-an juga dipajang di lobi lantai dasar. Sebagian besar merupakan film-film Benyamin Sueb dengan judul yang membuatku tersenyum, seperti Drakula Mantu, Biang Kerok, dan Tarsan Kota. Ada pula film-film populer lainnya, seperti Nyai Dasimah, Si Manis Jembatan Ancol, Si Pitung, Cinta Pertama, Inem Si Pelayan Sexy, dan Si Doel. Rupanya pada dekade tersebut film-film bertema sensual mulai bermunculan di Indonesia.

“Wah, ada Duo Kribo!” seruku sambil tertawa melihat posternya yang menampilkan Ahmad Albar dan Ucok Harahap.
Di bagian lain terpajang kumpulan poster film Indonesia dari era 1920-an hingga 1960-an. Di antaranya Loetoeng Kasaroeng, Pandji Semirang, dan Damar Wulan. Hmm… masih banyak film yang belum kutonton. Beberapa judul bahkan langsung membangkitkan rasa penasaranku. Sepertinya aku memang harus mulai menontonnya agar wawasanku tentang perfilman Indonesia semakin bertambah.

Eh, ada juga Koboi Cengeng yang dibintangi Bing Slamet dan disebut sebagai film koboi pertama Indonesia. Tak jauh dari sana terpajang poster Arwah Penasaran yang dibintangi Dewi Puspa. Hahaha namanya sama denganku, ia adalah penyanyi sekaligus aktris favorit ayah.

Koleksi Foto, Proyektor, dan Kamera
Di luar studio mini juga dipajang foto-foto para sineas Indonesia beserta dokumentasi di balik layar proses pembuatan film. Termasuk di antaranya dokumentasi era Usmar Ismail yang dikenal sebagai Bapak Perfilman Nasional.

Koleksi lainnya meliputi berbagai proyektor dan kamera film yang dipamerkan di lobi maupun di luar studio mini. Salah satunya adalah proyektor Simplex 35 Model Millennium berformat 35 mm buatan Amerika Serikat tahun 2001. Proyektor ini banyak digunakan di industri perfilman karena mampu memproyeksikan gambar dengan kualitas tinggi serta didukung sistem suara Dolby.

Di dalam sebuah vitrin juga dipamerkan kamera sine 35 mm bermerek Pathé buatan Prancis tahun 1915. Kamera yang dioperasikan dengan cara diputar menggunakan tangan ini pernah digunakan Wong Bersaudara untuk merekam sejumlah film, salah satunya Lily van Java yang dirilis pada tahun 1928.
Sebenarnya koleksinya cukup banyak. Sayangnya, hanya sedikit yang dilengkapi keterangan. Bahkan sebagian besar koleksi tidak mencantumkan nama maupun tahun pembuatannya sehingga pengunjung harus menebak-nebak fungsi dan sejarah benda tersebut.
Masih Banyak Koleksi Perfilman dan Hal Seru Lainnya di Sinematek Indonesia
Koleksi yang dipajang di lobi dan di luar studio mini hanyalah sebagian kecil dari kekayaan arsip Sinematek Indonesia. Di lantai lima terdapat perpustakaan yang juga mencakup ruang penyimpanan poster dan reklame film. Selain itu, gedung ini memiliki gudang arsip film, ruang restorasi film, ruang kreatif, studio green screen, serta galeri peralatan perfilman.
Sayangnya, perpustakaan dan koleksi lainnya hanya dapat diakses pada hari kerja, Senin hingga Jumat, pukul 09.00–16.00 WIB. Sementara itu, untuk melihat arsip film, pengunjung harus didampingi petugas.

Kemarin aku hanya sempat menonton film dokumenter tentang Pramoedya Ananta Toer di Studio Mini Sinematek. Studio ini berkapasitas sekitar 30 kursi dengan tempat duduk yang nyaman dan layar yang cukup lebar. Rasanya cocok untuk pemutaran film festival maupun kegiatan komunitas.
Ya, aku baru menyaksikan sebagian kecil koleksi Museum Perfilman Sinematek Indonesia. Semoga di lain kesempatan aku bisa kembali lagi ke sini untuk mengenal dan belajar lebih banyak tentang sejarah perfilman nasional.
