Mendengar (Lagi) Sarah McLachlan

Tembang “Angel” dan “Adia” melambungkan nama solois perempuan ini ke kancah global. Ia memang multitalenta, mampu menulis lagu, memainkan piano dan gitar, juga bernyanyi. Namun, kekuatan utamanya adalah suaranya yang punya ciri khas.

Warna vokal Sarah lembut dan rapuh. Suaranya tak terlalu powerful. Tapi, ia memiliki kemampuan bercerita yang kadang membuat terharu.

Ketika mendengar lagunya, aku juga seperti diajak menyimak ceritanya. Lagu-lagunya punya emosi yang ampuh dalam membangun nuansa dalam lagu-lagunya.

Lagu “Angel” yang populer lewat film “City of Angels” memang indah dan berkelas, meski hanya menggunakan iringan piano. Suara Sarah dan emosinya berperan besar. Tembang “Adia” juga memiliki ciri khas warna vokal Sarah yang kuat.

Penyanyi asal Kanada ini kemudian juga laris mengisi soundtrack film. Dua di antaranya adalah “I Will Remember You” dan “When She Loved Me”. Kedua lagu ini lembut dan mudah disukai, tapi bagiku cenderung aman dan agak membosankan.

Di luar keempat tembang tersebut, Sarah juga punya sejumlah hits yang mungkin tidak begitu populer di Indonesia. Dalam lagu-lagu tersebut Sarah nampak bereksplorasi dengan gaya bernyanyi, tema lagu, dan instrumen musiknya. Ia nampaknya bersenang-senang. Alhasil lagunya anti mainstream.

Lagu-lagu tersebut di antaranya adalah “Black”, “Sweet Surrender”, “Building a Mystery”, dan “Silence”.

Tembang “Black” langsung membuatku jatuh hati. Aku mengenal lagu ini kali pertama di album soundtrack “The X-Files: Fight the Future”. Dan kali kedua di video yang mempopulerkan film animasi dark horror “Coraline”. Kedua lagu ini meski sama-sama “Black”, memiliki aransemen yang berbeda. Alhasil, nuansanya juga berlainan ketika didengar.

Tembang “Black” dalam “The X-Files” memiliki layer efek dan sentuhan elektronika yang memberikan kesan seperti terombang-ambing di luar angkasa. Sedangkan dalam “Coraline” musiknya janggal seperti musik eksperimental. Ada musik tiup, mandolin, akordion yang saling bertemu menghasilkan perpaduan musik yang tak biasa. Cocok sih dengan tema film “Coraline” yang aneh dan misterius, serta tak nyaman.

Rupanya lagu tersebut memiliki pesan politis, meski liriknya banyak menyinggung burung hitam dan berulang. Apa yang dirasai oleh pemimpin pada malam hari ketika putusannya banyak mencederai rakyat dan merusak negerinya?

Tembang “Building a Mystery” memiliki lirik yang unik tentang seseorang yang eksentrik. Ia mungkin berupaya keras agar terlihat unik dan misterius dengan tidur di dalam gereja dan membawa-bawa boneka voodoo. Ia juga sibuk mencari hantu dalam lorong-lorong sunyi.

Lagunya menarik. Tak heran bila dapat Grammy.

Tembang “Sweet Surrender” dan “Silence” menunjukkan kematangan Sarah dalam bermusik. Ia tak takut bereksplorasi dalam musik dan vokal. Ia juga berkolaborasi. Hasilnya, musik yang akan membuatmu terdiam, untuk menyimaknya dengan sungguh-sungguh. Kedua lagu yang ikonik.

Dalam “Silence”, Sarah berkolaborasi dengan Delerium. Lagu ini milik Delerium yang kemudian dibawakan ulang dengan menggandeng Sarah. Musiknya kompleks dan kaya. Suara Sarah seperti menghantui. Lagu ini sendiri tentang tekanan, penderitaan, perasaan terasing, dan keinginan lepas dari penderitaan.

Sedangkan “Sweet Surrender” merupakan lagu romantis yang manis. Lagu ini tentang mencintai apa adanya. Gaya bernyanyi Sarah di sini juga memikat. Saat tampil langsung, suaranya juga stabil dan indah.

Aku memang menyukai lagu-lagu Sarah era di bawah tahun 2000 yang lebih eksploratif. Ia seperti menikmati proses bernyanyi dan tampil apa adanya. Lagu-lagunya jadi tak pasaran dan ikonik hingga saat ini.

Gambar dari Spotify dan YouTube (Hipernova)

~ oleh dewipuspasari pada Agustus 20, 2026.

Tinggalkan komentar