“365 Days”, Drama Romantis yang Dangkal

365 days

Mungkinkan seseorang bisa jatuh cinta dan seolah-olah terikat dengan penculiknya? Ya, bisa saja. Aku menemukan ada beberapa kasus nyata seperti itu yang disebut dengan istilah “stockholm syndrome”. Di novel-novel dan film-film hal tersebut juga terjadi, misalnya di “King Kong (2005)” dan “In Time”. Salah satu film terbaru yang juga mengusung tema “stockholm syndrome” dengan bumbu erotis adalah film berjudul “365 Days”.

Film ini berkisah tentang keluarga mafia Sicilia yang kepala keluarganya tertembak pada saat sebuah pertemuan penting. Anak laki-lakinya, Don Massimo Torricelli (Michele Morrone) kemudian meneruskan bisnisnya. Awalnya ia pria yang lembut, tapi melihat kerasnya bisnis mafia yang dijalaninya sikapnya menjadi ‘diktator” dan kejam.

Massimo sudah punya segalanya. Namun ada satu hal yang belum lengkap. Ia terobsesi dengan gadis yang dilihatnya di pantai kala pertemuan mafia itu, sebelum ayahnya meninggal. Ia kemudian menemukan gadis tersebut yang rupanya adalah gadis cantik bernama Laura Biel (Anna-Maria Sieklucka). Ia menculiknya.

Lalu ia membuat perjanjian. Ia akan ‘mengurung’ gadis itu selama 365 hari sampai gadis itu jatuh cinta dengannya. Ia berjanji tak akan menyentuhnya tanpa persetujuannya.


Aku menonton film ini gara-gara penasaran karena film ini banyak ditonton dan dibicarakan. Kupikir filmnya seperti franchise “Fifty Shades” yakni film romantis, dengan si pria digambarkan kaya raya dan berpengaruh, dengan bumbu erotis. Tapi rupanya film ini lebih ‘vulgar’ sehingga menurutku film ini lebih cocok diberikan rating 21 tahun ke atas karena adegan-adegannya menurutku terlalu vulgar.

Dari segi cerita, film ini dangkal, tidak begitu terlihat pengembangan karakter, runtutan cerita yang tertata dan logis, serta akting pemeran pria, Morrone, yang datar. Filmnya seperti roman picisan yang ceritanya mudah tertebak dengan unsur ‘stockholm syndrome’ yang mengganggu. Sebagai perempuan aku merasa sedih dan kesal karena tokoh perempuannya digambarkan seperti itu.

Bagian penutupnya sepertinya sengaja dibuat seperti itu agar membuka kemungkinan ada film kelanjutannya. Bukan film yang layak ditonton, mungkin ditonton karena penasaran saja. Orang tua sebaiknya hati-hati jika anaknya menonton film ini.

Aku tidak begitu paham kenapa Netflix meloloskan film seperti ini. Dan setelah film ini banyak ditonton, ada film-film lain yang mengikuti jejaknya, dengan memberikan unsur erotis dan adegan vulgar yang lebih besar porsinya daripada kisahnya.

Skor: 3/10

Gambar: IMDb

~ oleh dewipuspasari pada Agustus 30, 2020.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: