Wah Kuahnya Ngaldu Banget, Minumannya Nyoklat Banget!

Konten-konten kulineran baik yang berupa foto-foto dan video makin banyak dijumpai di media sosial. Kualitas visualnya makin bagus sehingga bikin tertarik untuk mencobainya. Namun, apabila menilik ulasan makanannya, bisa jadi kalian akan mengerutkan dahi. Astaga miskin banget ya perbendaharaan katanya.


Mungkin di antara kalian pernah ada yang mendengar ulasan semacam ini. “Kalian harus coba, ini makanannya keju banget, rasa cake-nya coklat banget. Kaldunya juga ngaldu.. ”

Dan sebangsanya.

Kosakatanya kayak malas dan miskin banget. Cokelat jadi nyoklat, kaldu jadi ngaldu. Itu deskripsi rasa atau bagaimana ya?

Oke cara pengambilan gambar dan visual yang diperlihatkan sudah menarik. Namun, lagi-lagi wawasan kulinernya terlihat tumpul. “Hai gais ini makanannya enak banget dan bumbunya banyak. Kalian harus coba!”

Memang bumbunya kayak apa sih? Apa bumbu bawang putihnya tajam. Apa aroma adas atau daun ketumbarnya kuat dan sejenisnya? Jangan cuma asin, manis, apalagi cuma enak banget dan harus coba.

Menurutku konten yang hanya menunjukkan makanan tapi kesulitan mengungkapkan deskripsi makanan dan kualitasnya itu bukan ulasan kuliner, melainkan baru sekadar konten tentang info makanan.

Belajar dari Pak Bondan Winarno, ilmu jurnalistik yang kudapatkan saat jadi wartawan, dan juga minatku pada bahasan kuliner sejak dulu, menulis ulasan makanan itu tidak mudah. Begitu juga artikel atau konten yang mendeskripsikan makanan.

Penulis ulasan dan artikel kuliner perlu memahami banyak hal dari jenis makanan, pengetahuan akan makanan yang diulas, kemampuan sensorik bukan hanya lidah, tapi juga mata, sentuhan untuk merasakan tekstur ketika menyantap dengan tangan, juga hidung untuk mengetahui aroma. Indera pendengaran juga penting karena bunyi kriuk krupuk tentu beda dengan bunyi krenyes kue kering.

Pengetahuan lainnya yang tak kalah penting adalah wawasan akan bumbu dan bahan makanan. Asal makanan juga perlu. Dan, yang tak kalah penting adalah kemampuan berbahasa dan kekayaan kosakata.

Alih-alih bilang kaldunya ngaldu bisa diganti dengan kaldu yang kental. Rasanya nyoklat bisa diubah menjadi rasa dan aroma cokelatnya dominan. Jika ingin lebih panjang maka bisa ditulis perpaduan pahit dan manis, juga aroma cokelat yang khas membuat cake ini cocok bagi pecinta cokelat.

Dulu favoritku adalah membaca buku-buku cerita ala Enid Blyton, Laura Ingalls, dan Umar Kayam yang begitu kaya dan detail dalam mendeskripsikan makanan. Bahkan bagian ini suka kubaca ulang.

Apa kalian pernah menyantap penggeng ayam yang bumbunya mlekoh atau pai dari daging burung hitam yang lembut dan gurih? Aku tak pernah menyantap pai ala Laura tapi jadi bisa membayangkan seperti apa rasa dan bentuknya. Cara Almanzo, suami Laura, bercerita tentang es krim telur yang dibuat hanya dengan telur, gula, dan susu segar kental juga membuatku terkesan dan ingin mencobanya.

Yuk banyak membaca agar pengetahuan kuliner dan perbendaharaan kosakata kita makin bertambah.

~ oleh dewipuspasari pada September 22, 2026.

Tinggalkan komentar