Pemulung dan Kaum Ibu

pemulung

Pagi hari sebelum matahari benar-benar menyinari bumi, seorang pemulung berjalan dengan membawa keranjang atau karung besar. Ia dengan sabar dan tanpa merasa mual, membuka satu-persatu tong sampah dan mengorek isinya demi sebuah botol atau secarik kertas.

Ia kumpulkan sampah-sampah tersebut untuk kemudian dikumpulkan ke pengepul. Dan jadilah uang untuk makan keluarga hari itu.

Jika Anda rajin menengok keseharian, Anda akan melihat jumlah pemulung bertambah. Bukan hanya pagi, siang, bahkan malam pun ada pemulung yang  mengumpulkan sampah berguna untuk ditukar dengan uang.

Kondisi ekonomi yang makin terpuruk dan banyaknya PHK membuat orang terpaksa membuang gengsinya untuk bekerja apa saja asal halal. Dan pemulung pun menjadi profesi yang dulunya dipandang sebelah mata.

Yang membuat sedih, kaum wanita juga mulai terjun sebagai pemulung. Kadang membawa anaknya yang masih bayi dan balita. Sedih dan trenyuh melihatnya.

Seandainya saja pemerintah daerah tahu dan mengerti kondisi warganya, apakah ia tidak malu dan sedih melihat para Ibu terpaksa bekerja sebagai pemulung?

Gambar:andikafm.com

Iklan

~ oleh dewipuspasari pada September 9, 2015.

Satu Tanggapan to “Pemulung dan Kaum Ibu”

  1. […] Baca selengkapnya… […]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: