Pemulung dan Kaum Ibu
Pagi hari sebelum matahari benar-benar menyinari bumi, seorang pemulung berjalan dengan membawa keranjang atau karung besar. Ia dengan sabar dan tanpa merasa mual, membuka satu-persatu tong sampah dan mengorek isinya demi sebuah botol atau secarik kertas.
Ia kumpulkan sampah-sampah tersebut untuk kemudian dikumpulkan ke pengepul. Dan jadilah uang untuk makan keluarga hari itu.
Jika Anda rajin menengok keseharian, Anda akan melihat jumlah pemulung bertambah. Bukan hanya pagi, siang, bahkan malam pun ada pemulung yang mengumpulkan sampah berguna untuk ditukar dengan uang.
Kondisi ekonomi yang makin terpuruk dan banyaknya PHK membuat orang terpaksa membuang gengsinya untuk bekerja apa saja asal halal. Dan pemulung pun menjadi profesi yang dulunya dipandang sebelah mata.
Yang membuat sedih, kaum wanita juga mulai terjun sebagai pemulung. Kadang membawa anaknya yang masih bayi dan balita. Sedih dan trenyuh melihatnya.
Seandainya saja pemerintah daerah tahu dan mengerti kondisi warganya, apakah ia tidak malu dan sedih melihat para Ibu terpaksa bekerja sebagai pemulung?
Gambar:andikafm.com


[…] Baca selengkapnya… […]
Pemulung dan Kaum Ibu said this on September 28, 2015 pada 04:30 |