Spathodea Alias Pohon Hujan

Taman-taman di Jakarta beberapa di antaranya diisi oleh tanaman luar, seperti dari Afrika dan Amerika Selatan. Kalian tentu pernah mendengar atau mendatangi taman-taman yang memiliki pohon baobab, tabebuya, dan Spathodea. Ketiganya bukan tanaman lokal, baobab dan Spathodea dari Afrika dan tabebuya dari Amerika Selatan. Kali ini aku ingin membahas Spathodea atau yang dikenal dengan nama lain pohon hujan atau kecrutan.

Pohon ini tumbuh subur di taman yang mengenakan namanya, Taman Spathodea. Lokasi tamannya tak jauh dengan Taman Dadap Merah, yaitu di kawasan Jagakarsa.
Taman ini lumayan luas, berkisar 2,3 hektar. Kontur tamannya ada yang berbukit-bukit, ada pula yang landai alias datar. Di taman ini ada kolam teratai merah yang membuat taman makin menawan. Juga ada jembatan yang bisa menjadi spot berfoto wisatawan.
Waktu ke sana jarum jam baru menunjukkan pukul delapan lewat. Namun, sinar matahari yang berlimpah membuatnya seakan-akan sudah masuk pukul sebelas siang.

Kolam teratai menyita perhatian. Aku berlama-lama berdiri di sini menikmati pesonanya. Hawa segar dan dedaunan pelindung dari banyaknya pepohonan juga membuat sengatan sinar matahari yang mulai terik intensitasnya berkurang.
Aku menoleh ke sana ke mari tanaman mana ya yang bernama Spathodea sebagai ikon taman? Ooh rupanya tanaman dengan bunga jingga yang itu yang disematkan sebagai nama taman. Sayangnya aku tak bisa mendapatkan bunganya. Detail bunganya juga tidak tampak.
Hingga ketika aku bermain ke Taman Cempaka baru kutemukan bunganya. Rupanya bentuk bunganya ada kemiripan dengan bunga sepatu. Di Afrika bunga ini juga sering disebut sebagai bunga tulip Afrika.

Namun, bunga ini juga punya nama lokal yang unik yakni pohon hujan atau kecrutan. Rupanya sebutan ini dikarenakan ketika seseorang sedang berada di bawah pohon ini seperti ada tetesan air hujan. Air ini dari kuncup bunga.
Bunganya indah. Warnanya menarik perhatian. Apa kutanam juga saja ya di rumah agar ada efek tetesan hujan.
