Wah Ada Episode Baru “Midnight Diner”

Aku belum menemukan series kuliner yang membuatku merasa santai saat menontonnya selain “Midnight Diner. Memang ada series kuliner yang cukup bagus seperti “The Road to Red Restaurants List”, “The Makanai: Cooking for the Maiko House”, ” The Bear”, dan “Izakaya Bottakuri”, Namun, tak ada yang senyaman ketika menonton “Midnight Diner”. Series ini berawal tahun 2009 dan berakhir tahun 2019 dengan total lima musim. Aku terkejut ketika semalam menjumpai ada musim baru series ini.
“Midnight Diner” bercerita tentang seorang pemilik kedai yang membuka kedai dari pukul 00.00 hingga 07.00 pagi. Pelanggannya menyebutnya Master. Pembeli kedai ini rupanya cukup banyak, dari pekerja kantoran, aktor, anggota yakuza, dan berbagai latar belakang lainnya.
Yang menarik dari kedai ini selain buka malam yaitu menunya yang sederhana. Hanya ada menu semacam sup daging dengan sayuran. Namun, ia bersedia memasak sesuai pesanan asal ia memiliki bahannya.
Meski ia juga menjual minuman keras seperti sake dan bir, ia tak ingin pelanggannya mabuk. Ia membatasi tiap orang boleh meminum maksimal tiga botol saja, kecuali saat malam tahun baru.

Di Netflix sayangnya hanya ada dua musim. Judulnya ditambah Tokyo Series. Tiga musim lainnya bisa dicari sendiri. Ulasan musim keempat dan kelima bisa dibaca di sini
Nah setelah tujuh tahun vakum, tiba-tiba hadir musim baru. Musim keenam dan episodenya baru ada satu. Jadinya kita harus sabar menunggu episode baru tiap minggu.
Latar tahun musim keenam ini adalah tahun 2021 ketika dunia dilanda Covid. Adanya kebijakan pemerintah membuat Master harus membuka kedai lebih awal dan tutup pukul delapan malam. Ada sekat-sekat di kedainya agar pengunjung berjarak sehingga jumlah pelanggan yang bisa ditampung makin terbatas.
Sayangnya pelanggan sangat sedikit. Kadang hanya dua, seringnya tak ada sama sekali. Ini membuat Master tampak tak bersemangat. Ia lalu menutup kedainya dan kemudian memilih bepergian.

Tak disangka olehnya ketika ia tutup lama, pelanggannya berdatangan dan mencemaskanya. Bahkan salah satu bos yakuza, Ryu, ikut memeriksanya bersama Gen, anak buahnya, karena cemas ia meninggal sendirian di kedainya.
Bagian ini menyedihkan sekaligus membuatku terkenang akan masa pandemi. Kondisi pandemi ini memang memukul banyak usaha, hingga hanya sedikit yang bertahan, itupun kembang kempis. Alhasil aku jadi ikut prihatin dan bersimpati dengan Master. Ia tampak putus asa dan bagian saat ia menunggu pelanggan tapi tak ada yang datang membuatku sedih.
Tokoh Master di sini digambarkan sudah jauh menua meski rentang vakum hanya tujuh tahun. Rambutnya sudah beruban semua dan fisiknya tak segagah seperti pada musim sebelumnya. Para pelanggan juga hampir semuanya wajah yang sama. Namun sama seperti Master, penampilan mereka agak berubah, dari kerutan di wajah, hingga rambut yang berbeda.
Yang menarik semua diperankan orang yang sama. Master masih diperankan oleh Kaoru Kobayashi. Pemeran lainnya di antaranya Mansaku Fuwa, Toshiki Ayata, Yutaka Matsushige, Kiyofumi Kaneko, Risa Sudo, Asako Kobayashi, dan Nahoko Yoshimito.
Sayangnya di episode pertama musim keenam ini belum ada menu baru selain harga yang dinaikkan. Master memasakkan tiap pelanggan menu favorit masing-masing, seperti sosis goreng, nasi ocha dengan tambahan lauk, nasi hangat dengan mentega, telur gulung, dan lainnya.
Menyaksikan episode ini membuatku merasa santai dan bernostalgia. Ketika dulu aku masih menjadi kuli tinta, aku dan kawan-kawan pernah bersantap tengah malam setelah deadline harian. Aku juga pernah bersantap soto saat dini hari sepulang dari Kediri menuju Surabaya. Entah kenapa bersantap saat tengah malam hingga dini hari itu memberikan perasaan ganjil tapi juga menenangkan.
Ya, pemeran dan penonton sama-sama menua. Aku merasa menua bersama para tokoh di series kuliner ini dan itu tak mengapa.
Aku menunggu episode berikutnya.
Gambar dari IMDb
