Dirgahayu Jakarta

Sejak beberapa hari lalu DKI Jakarta bersolek diri. Berbagai even digelar mulai Pekan Raya Jakarta di Kemayoran, arak-arakan ondel-ondel di berbagai sudut kota hingga beragam kegiatan seni di Taman Ismail Marzuki. Ternyata, 22 Juni ini ibukota Indonesia merayakan hari jadinya.

Even tahunan Pekan Raya Jakarta seperti tahun-tahun lalu selalu ramai dikunjungi warga Jakarta. Beragam produk mulai elektronik, makanan hingga barang kerajinan dari berbagai daerah dipamerkan. Tidak ketinggalan pula aneka permainan bagi anak-anak.

Sayangnya, meski termasuk kegiatan rutin tidak ada peningkatan kualitas layanan. Tidak ada lokasi parkir yang memadai. Pengunjung dibiarkan masuk dengan membayar Rp 10 ribu di pintu gerbang tanpa ada kepastian menempatkan kendaraannya. Banyak di antara mereka yang kemudian terpaksa keluar karena tidak mendapat parkir. Adapula yang nekat memarkirkan kendaraanya di jalanan, padahal jelas-jelas ada tanda dilarang parkir dan riskan terhadap curanmor.

Seharusnya, bila panitia acara tanggap dengan keluhan-keluhan pengunjung tahun lalu, mereka akan menyediakan lahan parkir yang tertata rapi. Misalkan lahan itu sudah penuh, alangkah baiknya bila di pintu gerbang diberitahukan seperti yang biasa di mal-mal. Tidak adil bila mereka tetap memungut biaya masuk bila nantinya pengujung itu tidak mendapat lahan parkir. Bayangkan berapa banyak uang yang dikeluarkan pengunjung secara sia-sia bila tiap mobil dikenakan Rp 10 ribu.

Berikutnya, tentang tiket masuk gratis ke Ancol. Jumat, 20 Juni lalu berbondong-bondong warga Jakarta menuju Ancol. Ancol penuh sesak, apalagi musim liburan. Kondisi ini akan sangat tidak nyaman bagi anak-anak. Penduduk Jakarta akan sangat berterima kasih bila tiket masuk gratis itu tidak hanya sehari namun beberapa hari. Dua hal itu menjadi catatan yang harus dibenahi untuk kenyamanan masyarakat mendatang.

Nah, bagi yang tidak sempat bepergian, ada beberapa lokasi yang menggelar arak-arakan. Seperti yang diadakan warga Cempaka Putih. Puluhan warganya dengan penuh suka cita berdandan untuk arak-arakanh. Ada yang mengenakan kostum ondel-ondel, menunggangi kuda, memukul gong dan rombongan dokar. Pemandangan ini tentu saja menarik perhatian pengguna jalan.

Usia Jakarta boleh bertambah. Yang masyarakat harapkan dari kota ini juga cukup banyak. Di antaranya pembenahan terhadap kesemrawutan lalu lintas dan penanganan banjir. Bila dua permasalahan vital itu ditangani dengan seksama, maka kehidupan di Jakarta ini akan lebih nyaman.

Selamat ulang tahun Jakarta!

~ oleh dewipuspasari pada Juni 23, 2008.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: