Teman-teman Unyil di Museum Wayang

unyilPertunjukan wayang itu membuatku terkenang pada festival dalang tiga tahun silam di Surabaya. Sebuah tontonan yang membuatku jatuh hati pada seni yang telah merakyat ratusan tahun silam.

wayang3Bangunan rumah dari ribuan wayang dan boneka dari seluruh penjuru dunia itu berada di kompleks Taman Fatahillah. Ia berdiri kokoh di samping bangunan Museum Sejarah Jakarta. Gedung kuno itu berusia lebih dari 350 tahun, tepatnya dibangun tahun 1640 dengan nama De Oude Hoolandsche Kerk. Lalu pada tahun 1808 bangunan itu tinggal puing-puing akibat gempa bumi yang cukup dahsyat. Di atas reruntuhan itu kemudian berdirilah gedung yang sekarang menjadi Museum Wayang.

wayang kancil

Memasuki Museum Wayang, mata saya mencoba menyesuaikan diri dengan pencahayaan yang agak remang-remang. Setelah membayar tiket masuk sebesar Rp 2.000,- saya menyiapkan peralatan memotret. Namun, niat saya terbendung. Petugas menunjuk poster yang melarang mengambil foto di dalam museum selain di taman nisan. Sebelum menanyakan alasan pelarangan itu ke petugas, teman saya menebak alasan itu berkaitan dengan kualitas benda yang dipamerkan. Ada semacam teori yang mengemukakan, sinar yang dikeluarkan oleh kamera bisa mengurangi kualitas benda-benda seni. Meski sedikit ragu dengan teori yang dikemukakan teman, saya menghormati peraturan itu dan memasuki lorong demi lorong berisi beragam jenis wayang.

wayang wahyuJenis wayang yang saya temui pertama seperti yang biasa digunakan untuk pementasan. Ada wayang pandawa, punakawan dan para raksasa saudara rahwana. Semakin ke dalam, jenisnya semakin bervariasi. Banyak di antaranya yang tidak pernah saya jumpai. Ada wayang Kyai Intan, wayang Ngabean, wayang Tejokusuman, wayung Banyumas, wayang Betawi, wayang Cirebon, wayang golek lenong Betawi, wayang Kancil dan wayang Wahyu (foto diambil dari brosur, red)

Nah, ketika menuju taman tempat nisan-nisan para pejabat Belanda itulah saya mendengar bunyi gamelan dan suara sindhen. Ternyata, ada pagelaran wayang setiap Minggu, selain minggu pertama. Pertunjukan cuma-cuma ini dapat dinikmati pukul 10.00-14.00. Taman ini menyimpan nisan para gubernur jenderal VOC. Namun, makam mereka, seperti Gubernur Jenderal Jan Pieterszoon Coen sekarang telah berpindah ke Museum Taman Prasasti di Tanah Abang.

taman nisan

Setelah menyeberangi taman nisan, ada tangga menuju ke lantai dua.Di sana dipamerkan boneka-boneka, termasuk boneka mancanegara. Ada boneka si Unyil mulai dari Unyil sendiri, Menik, Usro, Meilani, Pak Ogah dan Cuplis. Adapula boneka pengiring mayat yang nampak menyeramkan. Di vitrin berikutnya terdapat boneka dari Thailand, Suriname, Tiongkok, Prancis, Inggris, Polandia, Vietnam, India dan Columbia.

Menuju ke lantai satu dipajang aneka topeng dari berbagai daerah. Perjalanan pun kemudian berakhir di ruang penjualan souvenir yang menjual aneka wayang di antaranya dalam bentuk gantungan kunci dan pembatas buku.

~ oleh dewipuspasari pada Juli 7, 2009.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: