Tiba-tiba Enam Bayi

Waktu kecil aku suka akan cerita dongeng burung yang mengantar bayi manusia. Kadang-kadang aku berpikir para bangau tak hanya mengirim bayi manusia, melainkan juga bayi satwa. Ah pikiranku lagi sesak karena tiba-tiba aku harus mengurus enam bayi kucing yang ditelantarkan induknya.

Rumahku meriah. Terlalu ramai hingga aku merasa sesak. Suara meongan kucing itu memenuhi rumah. Terdengar dari teras, juga sampai loteng rumah, bahkan seperti merayap masuk ke bunga tidur, seperti mengingatkanku akan tanggung jawab.

Tiba-tiba aku jadi pengganti induk kucing. Mengurus enam bayi kucing yang baru berusia sekitar delapan hari.

Ini semua gara-gara Mumu, si kucing tetangga yang ditelantarkan pemiliknya. Ia sudah sering makan dan numpang tidur di rumah.

Ketika ia hamil, aku meminta ia jangan membawa anaknya ke rumah. Tolong, aku sudah kewalahan. Namun, ia tak mendengarkan. Ia melahirkan di sudut dapur yang gelap membuatku cemas, sebelum dipindahkan ke kamar pesawat.

Mumu kucing yang keras kepala. Dulu semua anaknya tewas. Kupikir karena baru lahiran pertama dan ia masih belajar. Namun, kini lagi-lagi ia menelantarkan anaknya.

Dulu Mumu memindahkan anak-anaknya entah ke mana. Ada yang kutemukan dan sudah meninggal. Lainnya sepertinya bernasib sama. Aku hanya bisa berdoa agar mereka melewati kematian dengan tenang dan tidak menyakitkan.

Mumu enggan menyusui anak-anaknya. Meski sudah kudekatkan ke anak-anaknya, ia langsung menghindar. Sudah tiga harian ia berlaku seperti induk yang jahat.

Hari pertama aku berharap ia berubah. Kupikir kelakuannya yang abai itu hanya sesaat. Mungkin ia lelah menyusui mereka.

Kubongkar persediaan obat dan makanan kucing. Aku tak menemukan susu khusus kucing. Sepertinya sudah kubuang karena karena sudah kubeli lama sekali.

Naluriku berkata Mumu sudah memilih jalan. Ia tak akan menjadi induk yang seperti pada umumnya. Mungkin ia mengalami sindrom induk yang kelelahan.

Akhirnya kupesan susu kucing. Baru datang tiga hari lagi. Sementara toko makanan kucing dekat rumah sudah berganti toko lain. Ya sudahlah kubuat bubur bayi dari kuning telur dan kaldu sapi.

Kuberikan bubur dengan menggunakan spuit ke tiap bayi. Awalnya aku bingung kok tinggal tiga bayi. Oh ternyata tiga bayi lainnya tersembunyi. Kuberi makan enam bayi kucing dengan hati-hati.

Hari pertama berhasil.

Hari kedua tiga bayi lagi-lagi lenyap. Kusenteri tiap kolong, tidak ada. Aku berpikir mungkin Mumu yang memindahkan.

Kali ini kubuat bubur dari makanan basah kitten yang kuencerkan dengan air. Kusuapin satu-persatu sambil kubersihkan tubuhnya dengan tisu biar bersih dan kering. Duh mereka kotor dan bau sekali.

Setiap beberapa jam sekali anak kucing kubersihkan dan kuberi makan. Aku merasa lelah dan sesak setiap kali mendengar meongan keras mereka. Apa mereka lapar dan rindu induknya?

Pagi hari pada hari ketiga, ketiga bayi yang hilang kutemukan. Mereka nyangkut di tumpukan miniatur pesawat sehingga tak terlihat. Entah bagaimana mereka bisa ada di sana.

Oh tiga bayi itu berantakan, bau, dan basah. Karena bayi kucing tak boleh mandi kubersihkan dan kulap badannya sebisanya. Setelahnya kuberi beberapa kali suapan. Perut mereka kosong begitu lama.

Saat ini susu kucing belum tiba. Entah apakah keenam bayi kucing akan bertahan, aku akan lakukan sebisanya.

Mereka sudah jauh-jauh tiba di dunia. Mereka sudah bekerja keras dan memberanikan dirinya mengarungi perjalanan. Hidup memang keras tapi mereka juga berhak untuk hidup bahagia di dunia.

Yuk pus kita berjuang bersama untuk terus hidup.

~ oleh dewipuspasari pada Mei 31, 2026.

Tinggalkan komentar