Ujung Genteng Ujung dari Sukabumi

ugUjung Genteng masih belum menjadi destinasi utama para wisatawan domestik. Jalur transportasi yang kurang memadai dan kurangnya promosi menyebabkan kawasan wisata ini masih sepi dari pelancong.

Curug alias air terjun Cikaso menjadi destinasi pertama dari kunjungan kami ke kawasan wisata Ujung Genteng. Setelah sembilan jam kami berkendara menuju selatan Sukabumi melewati jalanan berkelok-kelok dan tidak rata, kami bernafas lega. Tanpa diperintah, kami bergegas ke luar mobil, melemaskan badan yang kaku terpental-pental dan tergencet selama berkendara.

Dari perhentian menuju Curug Cikaso masih cukup jauh. Setelah melalui perkampungan kami menyewa sampan besar milik penduduk setempat.

Menyusuri sungai menuju Curug Cikaso merupakan awal petualangan ke dunia lain, benar-benar lepas dari hingar bingar ibu kota. Di sana-sini terlihat burung air tengah berburu atau terbang melayang ke sana kemari seolah-olah mengucapkan selamat datang.

Tidak ada satupun dari kami berani mengusik ketenangan ini, semua seakan larut dengan ketenangan yang melenakan ini. Sampan kami terus meluncur hingga si pengemudi menghentikan laju kendaraannya.

Kran Airnya Tolong Dinyalakan

Pemandangan yang terbentang di hadapan kami sungguh menakjubkan. Dari atas tebing dengan tinggi sekitar 15 meter mengucur air seperti kilauan kristal. Meski sudah belasan kali menyaksikan air terjun, Curug Cikaso tetap menyedot perhatian saya. Kulirik teman-teman telah sibuk memotret dengan beragam angle. Tidak mau ketinggalan, kamera langsung saya fokuskan ke air terjun dan tebing-tebing yang mendampinginya. Beberapa gambar langsung terekam di memori kamera.

Pandanganku lalu beralih ke teman-teman yang berpose lucu-lucu dengan latar belakang air terjun. Mereka lalu mengajakku berpose bersama yang kusambut dengan antusias. Aktivitas seru yang wajib dilakukan saat traveling.

Meski indah, ada sesuatu yang mengganjal. Rasanya Curug Cikaso belum menampakkan sisi terbaiknya. Seperti membaca pikiranku, salah satu anggota rombongan mempersoalkan debit air yang mengucur dari air terjun. ’’Kran airnya tolong dinyalakan dong,’’ teriaknya. Kurang deras alirannya, lanjut ia yang disambut tawa cekikikan anggota rombongan lainnya.

Rupanya musim kemarau berdampak pada debit air Curug Cikaso. Pada saat musim hujan, air mengalir deras, berbeda pada saat memasuki bulan Juli-Agustus.

Bermalam di Pantai Ujung Genteng

Perjalanan menuju Pantai Ujung Genteng dari Curug Cikaso sekitar empat jam. Dengan mata mengantuk dan tubuh kaku, aku mengerjap-ngerjapkan mata mencoba percaya kami telah tiba di tujuan. Untunglah hal itu memang benar, sehingga aku dan teman-teman langsung bersemangat.

Losmen yang kami sewa berada tidak jauh dari Pantai Ujung Genteng. Tidak sampai lima menit, kami bisa bermain dengan pasir pantai yang halus atau berenang. Namun cuaca yang begitu terik menyurutkan semangatku untuk berenang. Aku memilih untuk bermain-main dengan ombak di tepi pantai.

Petang menjelang matahari tenggelam kami puaskan untuk menikmati keindahan sunset serta berfoto-foto. Jepretan kamera memperlihatkan foto-foto siluet berlatar belakang sunset.

Off Road Mengintip Penyu Hijau Bertelur

Aktivitas satu ini tidak tersedia di setiap pantai. Karena itu ketika Ujung Genteng menawarkan aktivitas mengintip penyu hijau bertelur, kami menyambut suka cita.

Tengah malam kami dibangunkan. Di malam yang semarak dengan bintang itu, kami ber-off road bersama ojek, menyusuri hutan menuju pantai segara ombak, tempat suaka penyu.

Selama 20 menit motor menderu-deru melewati jalanan yang tidak rata. Bahkan sekali-kali penumpang dan pengemudinya terpental seakan-akan melayang ke udara. Mata yang tadinya setengah terbuka langsung terbuka lebar. Tidak ada lagi kantuk yang tersisa.

Setelah tiba di perhentian, kami diminta mematikan ponsel dan tidak menyalakan senter. Penyu hijau tergolong hewan yang sensitif. Ia akan kesulitan bertelur bila terlalu banyak manusia ataupun melihat cahaya.

Pasir pantai Pengumbahan sangat lembut, lebih halus daripada pantai Ujung Genteng. Selain itu, garis pantainya sangat panjang. Namun, pantai ini tidak bisa dipakai bermain-main pada siang hari karena pantai ini menjadi suaka penyu hijau.

Ketika kami tiba, tidak ada satupun penyu yang bertelur. Kami harus menunggu hingga ada penyu yang berlabuh ke darat. Sembari menunggu, kami tiduran di atas koran yang kami bentangkan.

Kegiatan menunggu ini cukup mengasyikkan. Kesunyian itu ditimpali deru ombak yang menghantam karang. Terasa tenang dan damai. Sementara langit semarak bertabur bintang. Bahkan beberapa kali terlihat bintang jatuh.

Dua jam menunggu tidak terasa. Si pemandu berbisik-bisik menyampaikan si induk telah merayap ke pantai. Ia menyuruh kami bergegas tanpa keributan. Di kegelapan malam, nampak induk penyu yang merintih kesakitan mengeluarkan buah hatinya. Beberapa saat kami tersirap oleh pemandangan di hadapan kami. Setelah telur berhasil dikeluarkan dan diamankan, induk penyu merayap kembali ke laut.

Cagar Alam dan Dermaga Tua

Matahari telah menembus daun jendela menerangi kamar. Hampir semuanya bangun kesiangan setelah bergadang melihat ibu penyu bertelur. Tujuan berikutnya ke cagar alam dan dermaga tua

Yang menyambut kami kali pertama adalah perahu-perahu nelayan. Setelah berjalan beberapa meter, nampaklah rerimbunan pohon-pohon besar dan tinggi. Suasana terasa sejuk dan segar.

Karena berada di tepi pantai, lagi-lagi kami disambut pantai. Untunglah semua anggota rombongan tidak pernah bosan dengan pantai. Kami berjalan-jalan di tepian dan asyik memotret-motret panorama dan mengoleksi foto diri.

~ oleh dewipuspasari pada Juli 17, 2009.

3 Tanggapan to “Ujung Genteng Ujung dari Sukabumi”

  1. bisaaa ko…bisa mati di tengah laut.hhehehe…

  2. bisa gak ya nyebrang ke australi

Tinggalkan Balasan ke zoel Batalkan balasan