Palet Ala Belitung

Dari jendela pesawat, saya menengok ke daratan Belitung yang beberapa saat kemudian akan kami tapaki. Geografisnya unik. Bila pemandangan pulau yang saya jumpai rata-rata berupa tetumbuhan hijau, jalan raya yang sempit memanjang. Di sini saya melihat kolam-kolam warna-warni seperti palet untuk melukis. Ada yang berwarna turquoise (biru kehijauan), biru muda, abu-abu, kuning kecokelatan, dan warna-warna lainnya. Terlihat indah, meski kenyataannya berbicara lain.

Kolam-kolam itu di daratan aslinya danau. Danau yang lahir karena penggalian. Danau yang berwarna putih kebiruan atau biru kehijauan merupakan bekas penggalian kaolin, mineral untuk bahan keramik. Namun, saat ini kondisinya sepertinya terbengkalai. Tidak ada truk atau pekerja yang mondar-mandir mengangkut hasil tambang.

Selain itu, yang membuat saya bertanya-tanya, di Belitung tidak nampak adanyaindustri kerajinan keramik yang besar. Menurut Ervan, warga setempat, dulunya ada, namun bangkrut. Ehm mungkin setelah bangkrut itu aktivitas tambang dihentikan, atau sebaliknya, setelah kaolin habis industri keramik pun tamat.

Dari banyaknya aksi penambangan di Belitung, saya mengaitkannya dengan cukup banyaknya bulu babi di beberapa lokasi perairan Belitung. Saya beberapa kali menemuinya ketika bermain air dan snorkeling. Bahkan, tangan sempat tertusuk oleh duri bulu babi karena tidak menyangka menemuinya di tengah perairan.

Saya keheranan dengan keberadaan bulu babi tersebut. Sebab, menurut informasi yang saya peroleh, bulu babi umumnya hidup di perairan yang tercemar. Padahal perairan di Belitung terlihat bening. Uhm, jangan-jangan imbas aksi penambangan timah dan kaolin jaman dulu.

~ oleh dewipuspasari pada Juni 6, 2011.

Tinggalkan komentar