Si Penjual Kasur

Siang itu cuaca amat panas. Saya dan Ovi habis berbelanja mingguan di sebuah gerobag sayuran. Selama di perjalanan ada bapak penjual kasur keliling. Dia memanggul dua kasur busa dan menjinjing dua kasur gulung. Nampak berat dan nampak sangat kelelahan. Seketika itu aku tertegun. Bapak itu berjalan kiloan meter untuk mengharapkan untung puluhan ribu bila barang dagangannya laku. Namun, berjualan kasur tidak semudah berjualan makanan yang bisa habis tiap harinya. Aku berpikir-pikir bagaimana Bapak itu menghidupi keluarganya.

Pemandangan ini rupanya bisa dijumpai di beberapa tempat. Seorang pedagang yang menjual barang yang untuk saat ini susah laku atau pembeli lebih suka membelinya di toko atau supermarket. Jika misalkan satu kasur mereka laku dan untung hingga Rp 50 ribu, keuntungan itu digunakan hidup untuk beberapa hari, dan mungkin untuk mengisi beberapa mulut.

Hidup di Jakarta sangat susah. Untuk sekali makan di warteg paling murah bisa Rp 6 ribu, mengirit dengan mie instant bisa Rp 1500 atau Rp 3 ribu per hari. Tapi kebutuhan hidup bukan hanya makan, termasuk tempat tinggal, listrik, transportasi, dan biaya sekolah bagi yang berkeluarga. Hidup di kota lain ataupun di pedesaan juga tidak murah. Apalagi harga beras, gula, minyak semakin tahun semakin naik. Misal beras per liternya Rp 5 ribu dan bisa dimakan dua hari untuk empat orang maka sebulannya memerlukan Rp 75 ribu. Itu belum termasuk gula, minyak, lauk, dan sebagainya.

Karenanya bila melihat pedagang-pedagang kecil, saya langsung itung-itungan. Bagaimana mereka menjalani hidup dan bagaimana mereka terus memeras keringat demi uang yang tak seberapa.

Saat ini pedagang yang sering menarik perhatianku adalah pedagang kasur dan penjual jamu gendongan. Ibu-ibu penjual jamu juga seringkali nampak kelelahan menggendong dagangannya dan hasil mereka tidak selaris jaman dulu dimana banyak yang menyukai jamu buatan sendiri. Namun, jika Anda sempatkan hari Minggu memperhatikan lingkungan sekitar, akan ada banyak penjual keliling yang menjual barang tidak habis pakai, seperti penjual remote, dan alat-alat bertanam. Lalu coba hitung berapa banyak pemulung  di tempat Anda. Di kampung saya, sehari bisa ada belasan pemulung dan pengumpul barang bekas  jumlah ini sepertinya terus meningkat, pertanda bahwa mereka kesulitan mencari lapangan pekerjaan.

Saya sendiri tidak punya solusi praktis. Mungkin tugas pemerintah dan abdi desa untuk memperhatikan nasib mereka, misalkan dengan memberi beasiswa bagi anak-anaknya, atau dengan sering mengadakan basar sembako murah bagi mereka. Saya sendiri hanya mampu membeli dagangan mereka sekali-kali dan mendoakan mereka selalu kuat melalui hari demi hari.

Sayang penjual kasur itu tidak pernah lagi lewat di jalan kampung saya.

link gambar:  http://www.flickr.com/photos/bambang_bakti/with/5292447619/#photo_5292447619

~ oleh dewipuspasari pada Agustus 28, 2012.

10 Tanggapan to “Si Penjual Kasur”

  1. Iya mbak. Saya juga pernah mbak liat penjual kasur malam malam dan dagangan nya masih banyak. Saya berfikir disaat orang ” sedang tudur, bapak itu malah berjalan sambil membawa kasur yg lumayan banyak. Jadi iba

    • Iya bikin sedih. Mereka orang yang gigih, coba kalau ada usaha lain. Beberapa hari lalu aku juga lihat penjual kasur masih berjalan di tengah gerimis. Perasaanku campur aduk, ingin menolong dan juga iba.

  2. Hidup di desa sebenernya msh lebih enak, krn para tetangga msh bs saling menolong, tak ada lampu listrik, lilin pun jadi.
    Tak ada kerjaan yg menetap, kerja di sawah/kebun/ladang pun jadi….

    Kalo ingin hidup merantau, memang mesti ada bekal ilmu n dana.
    Kita2 ini yg sebenrnya perlu membantu yg di desa, utk mencoba usaha mandiri, krn mereka lbh kaya dibandingkan qt yg di kota.

    Ada ide gimana caranya?

    • Benar Yo,
      Coba kalau misalkan desa itu mandiri, jadinya tidak banyak warga desa yang tergiur untuk bekerja di kota, apalagi di Jakarta. Tapi beberapa penghuni desa yang terpaksa melakukan urbanisasi mengatakan, mereka tidak punya lagi sawah untuk digarap, jadi buruh tani juga kerjanya ngoyo, dari pagi banget hingga matahari terbenam hanya Rp 15-20 ribu. Moga-moga pemerintah nantinya mau lebih memperhatikan pembangunan desa..bukan Jakarta melulu yang diperhatikan.

  3. ya ampun wi pingin nangis rasanya…jika melihat ke bawah kita hanya bisa mengucap syukur kepada Allah SWT atas karunianya sehingga kita bsa hidup lbih baik..di kota seperti surabaya pun setelah aku disana 3 tahun..banyak wi kemalangan2 yg tak temui…kita hanya bisa berdoa semoga Allah bisa memberikan mereka rejeki yg lbh besar dan bisa hidup lebih baik…amin

    • Iya Ka,
      Kalau kita melihat ke atas bawaannya tidak puas melulu. Namun, jika melihat sekitar, baru terasa alangkah beruntungnya kita. Mungkin dulu karena tinggal di kosan dan jalannya jarang dilalui pedagang jadi kurang dapat melihat kondisi sekitar. Sekarang di sekitar rumah, ada juga pedagang furniture. Tenteng rak-rak yang nampak berat banget. Bahkan yang bikin sedih itu kayak penjual remote, yang pembelinya bisa dihitung jari dalam sebulan. Kadang mikir bagaimana mereka hidup ya…makan saja susah..apalagi menyekolahkan anak.

  4. Suwun Dan atas klik ‘suka’-nya. Iya Dan suka sedih liat mereka tanpa bisa melakukan apa-apa. Di kampung halaman juga belum tentu dapat pekerjaan.

  5. Sedih bacanya Pus. Ga ada yang bisa dilakukan immediately sih memang. Tapi kalo misalkan mereka stay di kampung halaman, paling ga mereka bisa hidup dengan tenang. Bukan begitu?

    • Enggak yakin juga si Dan mereka bakal senang hidup di desa. Penjual makanan di Cempaka Putih rata-rata pendatang yang tidak punya sawah di desa. Ada yang ngaku gajinya cuma Rp 15 ribu per hari jadi buruh sawah dengan pekerjaan dari jam 5 sampai jam 18. Mungkin hidup mereka bisa berubah jika pemerintah mau melirik desa dan memajukannya jadi desa mandiri.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: