Menuju Bali: #Naik Gumarang ke Surabaya Penuh Canda

Camera 360

Banyak orang beranggapan naik kereta itu enak. Tinggal duduk atau tidur, tidak terasa akan tiba di tujuan. Namun, bagi para pengembara solo, naik kereta sendirian perlu banyak persiapan. Apalagi dengan maraknya kasus pencurian barang di kereta. Maka saya pun mempersiapkan diri agar bisa nyaman dan aman di kereta. Namun, kekuatiran saya ternyata tidak terbukti, berganti dengan suasana penuh gelak tawa gara-gara serombongan keluarga yang heboh nan lucu yang berada persis di depan saya.
Gara-gara jalanan di Cempaka putih yang macet parah, hampir saja saya ketinggalan kereta. Saya baru tiba 15 menit sebelum kereta berangkat. Fuiih rasanya dag dig dug banget. Jika ketinggalan kereta maka jadwal perjalanan saya berikutnya akan sangat berantakan.

tiket gumarang

Setelah menunjukkan tiket dan KTP maka saya pun menuju tempat duduk saya. Untunglah rekan sebangku saya belum kelihatan. Dalam hati saya berharap rekan sebangku saya tidak muncul sehingga saya bisa tidur nyaman.

Kereta Gumarang ini tidak jauh berubah. Sejak tahun 2003 saya sering menumpang kereta ini dari Surabaya menuju Jakarta. Tarif bisnisnya sebesar Rp 100 ribu, masih masuk untuk ukuran kantong mahasiswa. Sekarang tarifnya sekitar Rp 250-290 ribu. Oleh karena itu saya merasa beruntung mendapatkan harga promo sebesar Rp 75 ribu.

Yang berubah dari kereta ini adalah keberadaan lubang colokan. Ada dua lubang colokan di bawah tempat untuk menaruh makanan/minuman. Bangkunya masih berwarna hijau, agak keras, dan tidak ada pembatas duduk, sehingga membuat risih bagi penumpang yang tidak kenal. Dulu jika saya pergi sendirian dan sebelah saya adalah lawan jenis, saya meletakkan tas pakaian saya sebagai pembatas.

Camera 360

Setelah menemukan bangku sesuai nomor tempat duduk, saya dengan hati-hati tanpa mencolok perhatian mengeluarkan barang-barang seperti reader digest, ipod, dan scarf lebar yang saya gunakan sebagai pengganti selimut. Saya mengatur posisi agar nyaman dan barang-barang aman. Agar enak dibawa, saya hanya membawa dua tas.

Perhatian saya kemudian teralihkan oleh serombongan keluarga asal Medan yang heboh. Mereka berniat berlibur ke Surabaya sekaligus melihat jembatan Suramadu yang populer. Yang membuat saya terpingkal-pingkal adalah ulah mereka yang mengerjain petugas restorasi. Ada saja yang mereka komentari, seperti sewa bantal dan selimut yang dikenai tarif Rp 10 ribu, hingga nasi goreng ayam yang dihargai Rp 25 ribu. “Bang, kami pesan banyak. Sudahlah teh manis dan kopinya digratisin aja,” ujar si opung. Petugas restorasinya pun ngotot agar mereka membayar sesuai tarif. Mereka pun membayar dengan tidak rela. Bahkan, mereka ‘membalas dendam’ dengan mengageti petugas restorasi yang sedang sibuk menawarkan selimut. Bukannya marah, petugas tersebut malah tertawa geli. Hingga kereta tiba di Surabaya, mereka asyik menggodai para petugas kereta. Saya tersenyum ketika petugas yang awalnya nampak garang, menjabat tangan mereka dengan hangat dan menanyakan kapan mereka balik dan naik Gumarang. Rupanya ia senang dengan kehadiran para penumpang yang kocak. Si opung pun menjawab gembira,” Iyalah Bang, jarang-jarang ada penumpang kayak kami yang heboh, gembira semua kan Bang”.

Kereta Gumarang yang saya tumpangi berangkat Kamis sore sekitar pukul 15:45. Alhasil karena bukan weekend dan libur panjang, banyak kursi yang kosong. Saya lagi-lagi bersyukur. Saya tidak punya teman duduk sehingga satu bangku saya kuasai. Saya bisa melonjorkan kaki untuk tidur. Tas isi pakaian saya gunakan sebagai bantal dan scarf lebar saya gunakan sebagai selimut. Sengaja saya bawa topi untuk menutup telinga, karena bagian yang paling sensitif terhadap AC yang dingin menurut saya adalah kuping dan telapak kaki.

Saya hanya membawa bolen, air mineral sebotol, dan camilan. Karena saya sudah makan siang, malamnya saya tidak terlalu lapar. Saya hanya merasa kehausan. Dan minum berarti saya harus ke toilet. Inilah dilema penumpang solo. Saya pun terpaksa membawa tas berisi laptop dan uang ke toilet. Untunglah toiletnya bersih karena penumpangnya sedikit. Gantungan tasnya pun kuat sehingga saya tidak kuatir tali tas saya putus.

Saat malam menjelang, beberapa penjual makanan masuk ke dalam gerbong menawarkan dagangannya. Sebenarnya ada ketentuan bahwa pedagang dilarang masuk ke dalam kereta, namun ada juga yang lolos dari penjagaan. Dalam hati saya juga merasa kasihan, bagaimana mereka mencari penghasilan jika lahan mereka ditutup rapat. Di satu sisi saya merasa was-was bagaimana jika saya lengah dan barang berharga saya raib. Akhirnya saya tidur gelisah dan beberapa kali terjaga.

Sekitar pukul 03.00 saya terjaga dan tidak berniat untuk tidur. Sebagian penumpang masih lelap. Namun saya bersiap-siap untuk subuh dan membersihkan muka. Jika sesuai jadwal maka kereta akan tiba pukul 04.05. Namun rasanya kereta akan terlambat karena Lamongan pun belum terlihat. Dan seperti dugaan kereta terlambat satu jam. Tidak masalah, saya malah senang karena saya harus menunggu hingga pukul 09.00 untuk menaiki kereta menuju Banyuwangi.

Dan pengalaman saya menaiki Gumarang berakhir di sini. Sebelum berhenti, opung memarahi petugas kereta yang menarik selimutnya dan kami pun tertawa terbahak-bahak. Kereta pun tiba di Stasiun Pasar Turi yang mulai terang. Selamat datang kota Surabaya. Kota yang pernah menjadi tempat tinggalku selama enam tahun.

Iklan

~ oleh dewipuspasari pada Oktober 25, 2013.

4 Tanggapan to “Menuju Bali: #Naik Gumarang ke Surabaya Penuh Canda”

  1. Wah, perjalanannya seru Pus. Gara-gara si Opung, naik gumarang jadi penuh warna ya..
    Gumarang… andalan buat mudik jaman dulu kala masih di Jakarta. Tiket masih 100 rebu untuk kelas bisnis dan hampir 2 minggu sekali pulang balik ke Surabaya

    • Hehehe benar..kalau enggak ada rombongan si opung aku bisa kebosanan di kereta. Sudah lama tidak naik kereta jadi rasanya lama banget. Setuju Surya, Gumarang dulu juga andalanku waktu sering bolak balik panggilan Jakarta, dulu cuma 100 ribu ya untuk kelas bisnis.

  2. Hmmmm, asik nih

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: