Optimalisasi Fungsi Terminal Bayuangga Probolinggo

bromo-3

Terminal menjadi pusat kesibukan transportasi umum suatu daerah. Di sinilah sebagian besar penumpang transportasi umum terutama bus keluar masuk di suatu wilayah. Terminal juga menjadi salah satu rantai bisnis pariwisata. Namun apa jadinya apabila suatu terminal dikenal memiliki reputasi buruk? Terminal Bayuangga di Probolinggo bukan hanya dikenal backpacker Indonesia sebagai salah satu terminal di Jawa yang dikelola dengan buruk, namun juga menjadi momok oleh sebagian besar wisatawan dari luar negeri. Bahkan, sebuah buku panduan terkenal menyebut terminal ini sebagai terminal bus terburuk di daratan Jawa. Lantas bagaimana sebaiknya upaya Pemerintah Daerah Probolinggo untuk membersihkan citra buruk yang terlanjur menempel pada terminal utama mereka?

terminal bayuangga-depan-bus mania

foto: diambil dari Busmania.com

Pengalaman Berkunjung ke Terminal Bayuangga
Saya, Dewi Puspasari, belum pernah membaca komentar buruk di buku panduan ataupun tulisan-tulisan di ranah maya ketika bertandang ke terminal ini. Akhir September 2013, bus Banyuwangi-Probolinggo yang saya tumpangi berhenti di terminal ini. Setelah membayar retribusi, saya tertegun melihat kondisi terminal di hadapan saya. Terminalnya nampak tidak rapi dan berkesan berantakan. Banyak calo yang berseliweran dan memaksa untuk naik bus tertentu.

Saya berpura-pura sudah sering ke terminal Bayuangga. Padahal ini adalah kunjungan saya yang pertama. Tidak ada petunjuk yang jelas dimana letak bus yang akan membawa saya ke kota Malang. Dari percakapan beberapa calon penumpang saya lalu menebak dimana letak bus Probolinggo-Malang. Bus ekonomi yang saya naiki nampak kotor dan banyak penumpang yang merokok. Silih berganti pengamen dan pedagang asongan keluar masuk bus. Saya tidak punya pilihan menaiki transportasi lain karena jarum jam sudah menunjukkan pukul 20.00 lewat. Hampir sejam kemudian setelah penumpang sesak, bus baru berangkat. Selama di perjalanan, hidung saya tidak pernah lepas dari saputangan untuk meminimalisasi asap rokok penumpang.

Dari pengalaman tersebut, apakah saya bisa menyimpulkan terminal bus Bayuangga dan busnya sangat buruk? Saya pernah berkunjung ke berbagai terminal bus dan naik bermacam-macam bus. Terminal di Jakarta seperti Terminal Pulogadung juga dikelola dengan buruk, apalagi angkutan umum di Jakarta seperti kopaja dan metro mini yang sebagian besar di antaranya sangat tidak layak pakai. Dari perbandingan antara dua terminal dan angkutan umum tersebut, maka terminal bus Bayuangga bukanlah terminal bus dan penyedia angkutan umum yang terburuk yang pernah saya alami.

Terminal Bayuangga sebagai Terminal yang Dikelola Profesional
Pendapat saya yang naif ini dibantah oleh kakak saya, Ari, dan sahabatnya, Prima. Mereka beralasan terminal Bayuangga bukan sekedar terminal transit para wisatawan untuk menuju Gunung Bromo. Terminal ini menjadi arus keluar masuk para wisatawan mancanegara. Turis ini bukan hanya dari negara tetangga seperti Malaysia dan Australia, tapi juga para wisatawan Eropa, Amerika, dan negara-negara lainnya. Jadinya, terminal bus Bayuangga seharusnya dikelola seperti terminal bus bertaraf internasional.

bayuangga-terminal-foursquare krisnafoto dari foursquare diunggah oleh Krisna

Namun kenyataannya, kondisi Terminal Bayuangga banyak dikeluhkan wisatawan lokal maupun mancanegara. Terminal ini menjadi terminal favorit di kalangan backpacker karena biaya menuju Gunung Bromo bisa ditekan. Wisatawan mancanegara banyak memilih terminal ini karena praktis, tidak perlu banyak berganti-ganti kendaraan. Sebenarnya rute Bromo bisa ditempuh dari Tumpang dan Nongkojajar. Sayangnya, jika berangkat dari Tumpang atau Nongko Jajar maka wisatawan perlu berganti-ganti kendaraan atau menyewa jeep hingga tiba di bawah menara pandang Penanjakan.

Meski dianggap praktis dan hemat, banyak wisatawan yang berkeluh kesah terhadap fasilitas dan layanan terminal bus Bayuangga. Keluhan ini banyak dilontarkan di forum jalan-jalan seperti indobackpacker, di blog-blog lokal dan mancanegara, juga di buku panduan jalan-jalan terpopuler, yakni Lonely Planet Indonesia. Sejak di edisi pertama tahun 2007, Lonely Planet Indonesia (hal 244) menyebutkan bahwa Terminal Bus Probolinggo memiliki reputasi terburuk di antara seluruh terminal bus di Jawa. Reputasi ini lebih banyak disebabkan ketidakjujuran pelaku bisnis transportasi dalam menetapkan tarif bus. Faktor lainnya adalah banyaknya copet di terminal dan di atas bus.  Predikat ini hingga saat ini belum lepas karena masih banyak wisatawan yang mengungkapkan kekecewaan mereka terhadap kualitas layanan bus dan terminal bus Bayuangga hingga saat ini di dunia maya.

 bison-afoto dari http://abees-esbe.blogspot.com

Kekecewaan utama mereka adalah tarif Isuzu Bison yang suka seenaknya dan menunggu hingga penumpang penuh. Tujuan elf ini adalah Ngadisari dan Cemoro Lawang, yang tidak jauh dari Bromo. Tarif umum adalah Rp 25 ribu/orang. Namun jika penumpang sedang sepi atau telah di atas pukul 16.00 WIB, tarif ini bisa melambung 2-4 kali lipat.  Tarif bus juga dikenakan seenaknya. Banyak wisatawan mancanegara yang mengeluh hanya mendapatkan bus ekonomi yang jelek padahal mereka telah membayar tarif Rp 150rb/orang. Tarif tersebut bahkan lebih dari 5 kali lipat tarif bus patas.

Kami kemudian berdiskusi bagaimana rupa terminal bus yang bisa disebut bertaraf internasional. Apakah seperti terminal bus di Mengwi, Bali? Seperti terminal bus Purabaya, Bungurasih, atau seperti terminal Kampung Rambutan di Jakarta?

ruang tunggu bayuangga-hoby foursquarefoto dari foursquare diunggah oleh Hoby

Saya menggelengkan kepala. Ketiga terminal bus tersebut berukuran besar dan cukup rapi. Namun masih ada calo, toilet kurang bersih, dan sulitnya mencari informasi tentang rute bus. Kami kemudian berdiskusi bagaimana sebaiknya terminal bus Bayuangga dikelola secara profesional. Kami lebih setuju menggunakan kata profesional dibandingkan internasional karena pengalaman kami ke luar negeri masih minim sehingga sulit mendapatkan gambaran bagaimana terminal bus bertaraf internasional. Transportasi umum yang benar-benar dikelola baik baru kami rasakan di Singapura.

Saran-saran untuk Perbaikan Layanan Terminal Bus Bayuangga
Setelah kami susun ternyata ide kami sederhana, Dinas Perhubungan Pemerintah Daerah Probolinggo tidak perlu mengeluarkan dana APBD hingga ratusan juta karena wisatawan tidak perlu terminal yang nampak ‘wah’, yang penting bersih, nyaman, dan aman. Meski demikian untuk mewujudkannya perlu komitmen dan kerja keras dari seluruh jajaran. Berikut beberapa ide kami:
1. Penataan bus dan rute yang jelas.
Plang rute bus dan jenis bus (ekonomi atau patas) sebaiknya mudah dilihat oleh pengunjung. Plang ini hanya ada di tempat penurunan penumpang, tapi tidak terlihat saat di tempat pemberangkatan. Bison yang biasa menunggu penumpang di luar terminal sebaiknya juga masuk ke terminal agar mudah diawasi.

2. Jadwal Bus
Sebaiknya Dinas Perhubungan memberikan jadwal keberangkatan bus di sebuah papan informasi yang mudah dilihat. Lebih baik lagi jika papan kedatangan dan keberangkatan tersebut berupa papan elektronik seperti di bandara atau seperti papan status TransJakarta sehingga calon penumpang dan keluarga yang menunggu tahu kapan bis datang dan berangkat.

3. Kelayakan Bus
Meski tarif bus ekonomi lebih murah dibandingkan bus patas, seharusnya bus ini masih memenuhi standar kenyamanan. Penumpang tidak menuntut kursinya sebagus bus patas. Asal kursinya masih nyaman diduduki, tempat duduk tidak terlalu sempit, lantai bus bersih, tidak ada penumpang dan awak bus yang merokok, dan aman, maka penumpang tidak akan mengeluh.

4. Tarif resmi
Pengenaan tarif ini yang paling sering dikeluhkan wisatawan asing. Memang banyak negara yang mengenakan tarif berbeda untuk warga lokal dan turis asing. Hal ini lumrah. Seperti yang pernah saya alami di India. Tetapi harga tersebut seharusnya sudah standar dan sesuai dengan kualitas yang diberikan. Jika wisatawan mendapatkan tarif Rp 150 ribu dan hanya mendapatkan bus sekelas ekonomi maka mereka berhak untuk protes.

5. Posko Informasi Wisata
Para wisatawan yang mengeluh di ranah maya dan jejaring sosial ini mengaku tidak bisa protes dengan perlakuan buruk yang mereka hadapi karena sopir bus tidak bisa berbahasa Inggris. Mereka juga tidak tahu tempat wisata di Probolinggo selain Bromo karena tidak adanya pos informasi wisata. Jika Pemda Probolinggo benar-benar serius ingin menghapus citra buruk terminal Bayuangga, sebaiknya Pemda Probolinggo menyediakan layanan informasi wisata. Cukup dengan menyediakan petugas dengan jadwal kerja yang jelas dan brosur tentang tempat wisata, kerajinan, dan makanan khas Probolinggo, serta rute angkotan yang bisa diperoleh secara gratis oleh pengunjung.

6. Posko Komplain/Saran Pengunjung
Jika masih ada calo yang mengganggu kenyamanan calon penumpang,  penumpang yang dirugikan dengan tarif yang tidak wajar, atau penumpang yang dirugikan oleh awak bus yang ugal-ugalan maka bisa melapor ke posko ini. Posko ini sebaiknya juga menyediakan layanan online atau berbasis sms sehingga mempermudah akses pengunjung apabila ingin mengajukan komplain atau saran. Pengelolaan komplain dan saran ini juga harus profesional dengan memberikan standar waktu penyelesaian terhadap tiap komplain.

7. Jaminan Keamanan
Pengunjung terminal tentunya ingin aman selama di terminal dan bus. Oleh karena itu Dinas Perhubungan harus selalu menyediakan petugas keamanan dan memasang CCTV di berbagai tempat.

8. Tempat tunggu penumpang yang nyaman
Pengunjung tentunya ingin menunggu bus yang akan ditumpanginya dengan nyaman. Apalagi, penumpang transit dari Banyuwangi yang akan melanjutkan perjalanan ke Malang atau sebaliknya berharap dapat beristirahat sejenak sebelum melanjutkan perjalanan. Ruang tunggu terminal bus Bayuwangga sebenarnya sudah cukup banyak, namun terkesan kurang rapi. Tempat tunggu yang nyaman dan bersih akan membuat penumpang siap melakukan perjalanan. Ada beberapa terminal yang menyediakan layanan WIFI. Namun, jika dana terbatas, bisa disediakan satu atau dua dekstop yang bisa dimanfaatkan pengunjung secara bergilir di posko informasi wisata. Atau jika ada dana lebih, Pemda Probolinggo bisa membangun tempat tunggu VIP dengan layanan WIFI dan minum gratis seperti yang ada di bandara. Untuk memasuki ruang tunggu VIP tersebut, penumpang dikenakan tarif yang sekiranya wajar. Di kapal ferry menuju Sumbawa, layanan VIP didapatkan dengan tarif Rp 10 ribu dengan menyediakan TV dan toilet dalam. Karena tarifnya masih terjangkau, cukup banyak penumpang yang memanfaatkan layanan ini.

9. Toilet dan tempat ibadah
Banyak terminal bus yang memiliki toilet jorok dan tempat ibadah yang kotor. Padahal toilet sangat dibutuhkan oleh penumpang dan para pelaku terminal. Penanganan toilet dan tempat ibadah yang profesional seperti yang ada di rest area  tol Cikampek dan beberapa pom bensin. Toilet dan tempat ibadahnya bersih meski pengunjung tidak dipungut biaya sama sekali.

10. Kios Makanan dan Pusat Kerajinan  serta Pemberdayaan Calo
Saya bayangkan jika terminal bus Bayuangga dikelola seperti rest area tol Cikampek dimana kios makanannya nampak rapi dan menarik pembeli. Namun bukan berarti restoran mahal atau resto cepat saji masuk ke terminal. Kami bayangkan jika para calo dialihfungsikan sebagai petugas kantin dimana kantinnya menyediakan masakan khas Probolinggo dengan tarif yang wajar. Kios makanan tidak hanya menjual makanan kemasan tapi juga kerajinan khas dan makanan oleh-oleh Probolinggo. Para calo ini dididik oleh Pemda agar trampil membuat barang kerajinan khas Probolinggo atau oleh-oleh khas Probolinggo seperti gantungan kunci. Para calo ini juga bisa dilatih sebagai pemandu wisata Probolinggo, bukan hanya di Bromo tapi juga wisata-wisata lainnya di Probolinggo. Dengan demikian para calo tetap bisa bekerja mencari uang dan membantu para wisatawan.

Memang untuk membersihkan citra buruk yang terlanjur melekat di Terminal Bus Bayuangga perlu bukti bukan sekedar pembelaan. Terminal bus Bayuangga perlu segera dibenahi, selain untuk menghapus reputasi buruk, juga meningkatkan potensi terminal Bus Bayuangga sebagai penopang bisnis pariwisata dan jalur transportasi yang sangat diperlukan masyarakat Jawa Timur.

Jika terminal Bus Bayuangga telah profesional, maka wisatawan akan puas, bisnis wisata akan semakin berkembang dan maju, pendapatan daerah akan naik, dan kualitas hidup masyarakat Probolinggo akan semakin meningkat. Hal ini juga selaras dengan  Visi Kota Probolinggo yakni “Terciptanya Kota Probolinggo sebagai tujuan investasi yang kondusif, prospektif dan partisipatif”, dan Misi Kota Probolinggo yaitu “Terwujudnya masyarakat berakhlak mulia, mandiri, berkeadilan, sejahtera dan berwawasan lingkungan” yang mengutamakan pembangunan yang berkesinambungan, terarah dan tepat sasaran.

Referensi:

  1. http://planettravelholic.blogspot.com/2013_07_01_archive.html
  2. https://megachilly.wordpress.com/tag/alam/
  3. http://www.lonelyplanet.com/thorntree/thread.jspa?threadID=2179602
  4. http://alongwayback.com/2013/09/06/the-bus-across-java-that-tortured-us-mentally-physically-and-somehow-culturally/9/6/2013
  5. http://www.ijenminertour.com/2011/09/train-banyuwangi-bromo.html
  6. http://www.mail-archive.com/indobackpacker@yahoogroups.com/msg03885.html
  7. http://www.kaskus.co.id/thread/51e8f8197b1243e22a000002/gunung-bromo
  8. http://www.flightlesstravel.com/route.php?rid=107
  9. http://busmania.com
  10. http:/foursquare.com
  11. http://abees-esbe.blogspot.com
  12. Vaisutis, Justine dkk. Lonely Planet Indonesia. Lonely Planet Publication Pty Ltd. 2007
Iklan

~ oleh dewipuspasari pada November 23, 2013.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: