Menuju Manado: Ketinggalan Pesawat!

bunaken (4)

Sudah lama kami berdua memimpikan untuk bertandang ke negeri Sam Ratulangi alias Manado. Dan kesempatan itu datang ketika Garuda memberikan tiket promo. Kami berdua tentu saja girang. Angan-angan untuk menikmati keindahan bawah laut Bunaken akan tercapai. Namun, ada saja rintangan menuju ke sana. Jika dulu kami pernah mengalami terdampar di bandara Changi hingga terpaksa bermalam di sana, saat menuju Manado pun kami mendapat kejutan. Kami ketinggalan pesawat!

Rasanya menyesakkan dada. Kami sudah mengalokasikan waktu empat jam sebelum jam keberangkatan. Namun, waktu segitu rupanya tidak bisa mengatasi kekejaman lalu lintas Jakarta yang susah ditebak. Tol dalam kota sejak di Pancoran sangat padat, bahkan sejak di Gatot Subroto hingga Slipi jalannya seperti keong, padahal masih jauh dari jam pulang kantor. Duhhh rasanya ingin keluar dari Damri dan naik ojek saja jika memungkinkan. Bus damri dari Pasar Rebo memang terkadang lewat tol Tanjung Priuk yang biasanya lebih lancar. Hanya kali ini rasanya kami sangat sial, damri malah lewat Gatot Subroto dan Slipi yang sangat parah kemacetannya.

Ketika jarum jam sudah menunjukkan pukul 17.00 saya rasanya mau menangis. Pesawat take off pukul 18.00, sementara jarak bandara masih cukup jauh. Dan ketika damri tiba di terminal 2 bandara Soekarno Hatta pukul 17:40, penumpang telah dipanggil untuk take off. Meskipun bawaan kami cuma satu ransel per orang, kami sudah tidak bisa masuk. Lemas deh! Padahal saya bisa berlari dan tiba di pesawat dalam kurun kurang 10 menit. Huuhuu sedihnya inilah nasib calon penumpang pesawat di bandara Cengkareng. Jika pesawatnya delay dimaklumi, tapi penumpang yang telat beberapa menit saja sudah ditinggal.

Suami masih memikirkan cara ke Manado. Penerbangan pada hari berikutnya dengan Garuda per orang sudah di atas Rp 2 juta. Saya menggeleng lemah, saya sudah tidak bersemangat menuju ke sana. Sayang duitnya.

Namun, si Ovi tidak pantang menyerah. Ia meminta saya browsing tiap-tiap maskapai. Dan kami menemukan Sriwijaya Air memberikan harga di kisaran Rp 1 juta/orang. Ya, si Ovi kemudian mengajak saya naik angkutan bandara menuju tempat penjualan tiket Sriwijaya. Dan kami mendapatkan tiket ke Manado untuk dua hari ke depan. Wah..wah..wah rencana perjalanan enam hari dipangkas menjadi empat hari. Dan gara-gara ketinggalan pesawat kami rugi Rp 2 juta lebih…huuuh..menyesal..seharusnya sejak awal kami naik taksi saja dan lewat tol Tanjung Priuk atau Kemayoran.

Karena pesawat berangkat pukul enam pagi, kami sejak pukul 04.30 sudah tiba di bandara. Kami menyewa taksi yang sudah tiba di rumah sejak pukul 03:30. Jika jalanan lancar tak sampai satu jam kami sudah sampai di bandara.

Penerbangan ke Manado ditempuh sekitar tiga jam. Kami mendapat sarapan..lumayan lah. Teman sebangku saya adalah seorang ibu muda yang membawa oleh-oleh berupa mainan cukup besar untuk anaknya. Ia penumpang terakhir yang masuk ke dalam kabin pesawat sehingga bagasi penumpang rata-rata sudah penuh. Tidak tahu kenapa ia menolak tawaran pramugari untuk menaruh mainannya di bagian belakang pesawat. Alhasil ia nampak kerepotan mengatur posisi duduk karena ia letakkan mainan besar itu di merapat ke dinding. Dan saya yang berada di sebelahnya ikut-ikutan repot karena ia tak kunjung duduk. Si pramugari juga nampak gelisah karena semua penumpang sudah duduk teratur dengan sabuk pengaman sementara pesawat sudah mulai bergerak. Entah karena merasa diperhatikan oleh banyak mata akhirnya si ibu pun duduk dan setelah sarapan mata saya sudah mulai sepat. Zzzzz….pemandangan bawah laut Bunaken pun terbayang…ikan-ikan bersliweran, karang yang indah, eh belut laut.

Angkutan Bandara yang Murah
Bandara Sam Ratulangi cukup besar, ada dua lantai. Toiletnya bersih dan ada banyak kursi bagi pengunjung yang baru tiba atau akan menuju ruang tunggu sebelum take off. Setelah bertanya ke petugas bandara tentang transportasi menuju pusat kota, kami memilih berjalan kaki hingga keluar bandara dan naik angkutan umum daripada naik taksi. Menuju tempat angkutan umum menaikturunkan penumpang ini tidaklah jauh, hanya berkisar 600 meter. Dan tarifnya bakal lebih murah dibandingkan naik taksi. Per orang hanya ditarik Rp 4 ribu (saya agak lupa persisnya, apakah 3rb atau 4rb). Dan angkutan umum itu melewati jalanan lebar yang nampak sepi baru kemudian mulai ramai pertanda sudah dekat dengan pusat kota.

Jarak dari bandara menuju pusat kota jika jalanan tidak terlalu ramai hanya ditempuh dalam waktu 30 menit. Nah, untuk menuju hotel sebenarnya bisa saja ditempuh dengan jalan kaki. Tapi berhubung gerimis dan kami mengantuk, kami berdua memilih naik ojek, dengan tarif Rp 10 ribu/ojek. Tidak jauh lokasi hotelnya dari terminal angkutan umum tersebut. Kurang dari 10 menit dengan naik ojek. Setelah di hotel , kami langsung bersih-bersih kaki dan tidur siang. Ngantuk banget sekaligus lega sudah tiba di bumi Manado.

Iklan

~ oleh dewipuspasari pada Januari 23, 2014.

Satu Tanggapan to “Menuju Manado: Ketinggalan Pesawat!”

  1. Ada-ada aja ya Pus cerita di bandaranya…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: