Kereta Api Ekonomi Pun Mulai Nyaman

kereta jaka tingkir

Di antara perkembangan angkutan publik, kereta apilah yang paling kelihatan upayanya dalam peningkatan kualitas. Sekarang stasiun-stasiun kereta api nampak bersih dan jauh dari kesan kumuh. Bahkan kereta ekonomi yang dulu dianggap kereta penuh derita sekarang mulai terasa nyaman dan lebih manusiawi.

Untuk kereta kelas bisnis dan eksekutif sudah tidak perlu dipertanyakan kenyamanannya, meskipun kelas bisnis saat ini semakin nyaman karena terbebas dari lalu lalang pedagang. Rabu malam (26/2) saya kembali mencobai kereta api kelas bisnis Senja Yogya tujuan Jakarta. Dari Stasiun Tugu, Yogya, kami berangkat tepat waktu pukul 18.30.

kereta senja jogja

Satu gerbong terdiri dari 34 bangku dengan model kursi 2-2. Bangku kursinya berwarna kuning cerah dengan posisi bangku yang lebih landai dibandingkan kelas ekonomi. Di tiap bangku disediakan colokan kabel, alas minum, dan plastik untuk tempat sampah.

Dalam perjalanan, ada petugas yang menawarkan makanan ringan dan minuman kemasan dengan didorong ala petugas di pesawat. Ada juga pramugari cantik yang menawarkan minuman dan makanan. Harganya tidak terlalu mahal, masih wajar. Menunya sih standar ada teh manis, kopi, mie telur, dan nasi goreng. Ada juga yang menawarkan bantal dan selimut.

Si Ovi menyewa bantal dengan tarif Rp 6 ribu. Ia pun memilih tempat duduk di dekat jendela karena ingin bisa duduk nyaman dan tidur. Tapi rupanya sulit juga tidur di kereta bisnis. Saya juga merasa pegal-pegal ketika mencoba tidur. Alhasil ketika kereta memasuki Stasiun Pasar Senen pukul 03.10 dini hari saya ingin segera bergegas ke rumah dan tidur nyenyak.

Saya acungi jempol karena kereta hanya terlambat beberapa menit dari jadwal semula pukul 03.06. Sebelumnya ketika kami berangkat ke Jogja dengan naik kereta ekonomi, Jaka Tingkir, kereta terlambat satu jam 15 menit dari jadwal awal pukul 02.30. Sudah bagus sih dibandingkan beberapa tahun sebelumnya dimana kereta terlambat sekian jam masih dianggap lumrah.

Oh iya saya mau cerita tentang kereta ekonomi Jaka Tingkir. Kereta ini adalah kereta tambahan biasanya dioperasikan pada akhir pekan dan jika kereta ekonomi seperti Progo dan Bengawan penuh. Dari Stasiun Pasar Senen kereta ini berangkat pukul 17:10.

Mirip dengan kereta ekonomi lainnya bangku kereta diatur 3-2 dengan kursi berhadap-hadapan. Inilah yang menyebabkan suami awalnya enggan naik ekonomi karena duduknya berhadapan sehingga kaki harus ditekuk. Untunglah di depan kami adalah pasangan ibu dan anak yang asyik diajak ngobrol. Yang membuat kami heran, si anak selalu memanggil ibunya ‘Lu’ sehingga si ibu seperti teman anaknya. Dan karena banyak penumpang yang turun di Kroya-Cilacap, kami pun kemudian pindah dan selonjoran di tiap bangku.

kereta

Kereta ekonomi Jaka Tingkir sebenarnya bersih dan AC-nya juga dingin. Tidak ada pedagang yang lalu lalang dan juga tidak ada penumpang berdiri. Juga ada larangan penumpang untuk merokok. Namun, masih ada juga penumpang yang sulit berubah dan mempertahankan budaya joroknya. Ada rombongan keluarga yang asyik makan kacang dan camilan lain dan membiarkan kulitnya berserakan di bawah kursi. Alas koran buat mereka tidur juga tidak dibenahi sehingga nampak berantakan. Sampah plastik juga dibiarkan di lantai padahal sudah disediakan plastik untuk tempat sampah. Tak heran ada beberapa kecoa kecil yang bermunculan karena kebiasaan penumpang yang tidak mau membuang sisa makanannya di tempat semestinya. Dan yang paling membuat kesal, semua toilet di kereta Jaka Tingkir waktu itu kotor dan bikin mual. Duhhh kenapa sih masih ada penumpang yang sulit membuang kebiasaan joroknya. Padahal ada air lho di toilet.

 

Stasiun pun Nampak Bersih
Tidak hanya kereta yang makin bersih dan nyaman, stasiun pun tidak mau kalah. Bahkan Stasiun Pasar Senen yang dulu nampak kumuh sekarang mulai kelihatan bersih. Di Stasiun Lempuyangan juga bersih dan toiletnya yang gratis juga bersih. Malahan toilet di Stasiun Tugu yang waktu itu sangat kotor.
stasiun
Ada banyak tempat makan di Stasiun Pasar Senen seperti Es Teler 77, Dunkin Donut, dan tempat makan lainnya. Tempat makan berupa warung-warung yang dikelola penduduk seperti warung arema dan warung nasi padang sekarang aksesnya ditutup. Mungkin mereka beranggapan tempat makan ini nampak kurang enak dipandang atau untuk mengurangi akses dari orang-orang yang tidak berkepentingan. Hal ini membuat saya dan pasangan jadi sedih. Mereka kan juga ingin mencari nafkah kok dihalangi ya. Apa tidak lebih bijak jika tempat makan tersebut dipercantik seperti foodcourt atau dibuatkan jalan khusus yang rapi atau plang besar sehingga pengunjung tahu akses jalan menuju tempat makan tersebut.

Suami mengajak saya makan di tempat makan tersebut karena rata-rata makanan di stasiun sangat mahal untuk ukuran kami, dengan tarif berkisar Rp 30 ribu ke atas. Ia heran ketika tidak menemukan jalan menuju tempat makan sederhana tersebut dan harus menuju pintu keluar terlebih dahulu. Dan kami sedih melihat jalan ke tempat makan tersebut yang nampak kotor dan sangat sepi. Padahal dulunya tempat makan di stasiun ini cukup ramai karena selain enak juga terjangkau. Saat kami makan di sana, tidak ada pengunjung selain kami. Suasananya juga muram. Si penjual mengaku sejak akses jalan ditutup pendapatannya menurun drastis.

Kami memesan dua es teh manis, nasi rawon dan nasi rames. Totalnya Rp 30 ribu. Jauh lebih murah dibandingkan makan di stasiun. Untuk rasa, rawonnya menurut saya cukup enak.

Memang pengelola kereta api punya pandangan tersendiri agar stasiunnya nampak bersih. Namun, adakalanya saya kasihan melihat pedagang asongan dan pedagang yang telah mangkal di stasiun bertahun-tahun. Kini pedagang asongan dilarang berjualan di dalam kereta dan di dalam stasiun. Hemmm mereka sekarang bekerja sebagai apa ya?

Iklan

~ oleh dewipuspasari pada Februari 28, 2014.

14 Tanggapan to “Kereta Api Ekonomi Pun Mulai Nyaman”

  1. Permisi Numpang tanya soalnya saya ingin cobain kereta Ekonomi Jaka Tingkir..Untuk Seat nya 1 arah atau berhadap2an ya sis..?

  2. Ok thanks atas infonya ya….

  3. Kursinya bagaimana mbak ?sudah empuk pa masih plastik atau mika gitu?trs msh berhimpitan nggak kaki kita ama kaki yg depannya.

    • Lebih empuk daripada kursi ekonomi jaman dulu sih. Bahannya kayaknya karet tapi tidak selicin dulu. Kalau kaki sih karena duduknya berhadapan ya pasti berhimpit. Tapi saya merasa agak legaan dikit dibandingkan jaman dulu. Dulu saya pernah naik kereta ekonomi jurusan Malang-Jakarta dan Surabaya-Jakarta,agak kurang nyaman masa-masa dulu.

  4. Untuk lebaran KA Jaka Tingkir tiap hari atau hanya akhir pekan juga?

    • KA Jaka Tingkir biasanya diberangkatkan saat akhir pekan atau saat kereta ekonomi lainnya sudah terisi penuh. Waktu itu saya dari Jakartanya hari Senin sore.

  5. Thanks bangrt mbak informasinya

  6. TFS, mba.. butuh info seperti ini nih…

  7. Belom pernah nyoba naik kereta api lagi dari kapan tahun Pus. Bagus juga ya pengembangan yang dilakukan sama perusahaan kereta api.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: