Hujan di Penghujung Bulan Juni

hujan

Sudah hampir di penghujung Bulan Juni, namun hujan deras masih menyapa warga Jakarta. Hujan ini diawali dengan langit yang tiba-tiba gelap dan kemudian hujan sekonyong-konyong mengguyur. Memang sih enaknya hawa Jakarta yang sedari pagi sangat pengap dan panas menjadi sejuk. Tapi hujan, apalagi petang, sangat merepotkan bagi pengguna jalanan. Jalanan Jakarta berubah seolah menjadi lahan parkir luas karena kendaraan seolah berhenti.

Jakarta semakin bertambah usia semakin tidak bersahabat dengan penghuninya. Saya masih ingat tahun-tahun awal resmi pindah ke Jakarta, jalanan di Cempaka Putih baru benar-benar banjir jika hujan terus-menerus berjam-jam dengan debet air yang sangat besar. Namun kini, dengan drainase yang buruk, banyaknya pusat perbelanjaan dan apartemen tanpa mengindahkan keseimbangan lingkungan, dalam 1-2 jam dengan hujan yang tak begitu deras, Jalanan Jakarta berubah bak kubangan.

Saat hujan dan banjir, berada di jalanan Jakarta bisa menjadi mimpi buruk. Saya ingat sewaktu masih sering naik bus Depok-Senen, jalanan mengular dari Stasiun Tanjung Barat hingga berkilo-kilo meter. Eh penyebabnya, KRL mogok.Jika musim hujan memang KRL sering bermasalah.

Saya pernah merasakannya. Setengah jam berada di KRL tak bergerak padahal sudah sangat dekat dengan Stasiun UI. Rasanya? Sangat pengap dan sulit bergerak karena penuhnya penumpang. Mau menggaruk muka saja sulit. Jika KRL mogok, saya yang di dalam bus juga sempat beberapa kali mengalami masalah. Bukan hanya dongkol mengukur jalan yang macet nanti juga kehujanan di dalam bus. Beberapa kali saya malah kehujanan di dalam bus karena atapnya bocor, belum lagi jika sopir bus merokok dan mematikan AC, komplit deh.

Cuaca yang semakin sulit diprediksi merugikan para petani. Ayah saya adalah petani tebu. Ia pernah terlihat terpekur ketika melihat hujan yang tak kunjung berhanti. Ia kuatir panennya gagal. Jika panen gagal maka bukan hanya keluarga kami yang rugi tapi juga petani penggarap karena kami menggunakan sistem bagi hasil.

Tapi ada juga sih keuntungannya. Hawa jadi lumayan adem apalagi sebentar lagi bulan puasa.Di halaman rumah juga banyak bermunculan katak berwarna cokelat kemerahan. Sebenarnya saya juga heran akan kehadiran katak ini karena di rumah tidak ada kolam ikan. Tapi mereka suka mendadak muncul dan asyik berloncatan di reremputan taman jika hujan tiba, riang sekali. Kukk kong kuuk kong.

Oh iya, ada juga puisi yang cocok dengan cuaca saat ini. Apalagi kalau bukan puisi Hujan Bulan Juni karya Sapardi Djoko Damono. Berikut puisinya.

 

Hujan Bulan Juni

tak ada yang lebih tabah
dari hujan bulan juni
dirahasiakannya rintik rindunya
kepada pohon berbunga itu

tak ada yang lebih bijak
dari hujan bulan juni
dihapusnya jejak-jejak kakinya
yang ragu-ragu di jalan itu

tak ada yang lebih arif
dari hujan bulan juni
dibiarkannya yang tak terucapkan
diserap akar pohon bunga itu 

~ oleh dewipuspasari pada Juni 25, 2014.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: