Resensi Buku: Gadis Pantai dan Priyayi Lalim

gadis pantai

“Orang kampung semacam sahaya ini, bendoro muda, kelahirannya sendiri sudah suatu kecelakaan. Tak ada sesuatu yang lebih celaka dari nasib orang kampung ..” (hal 92). Itulah pernyataan getir dari seorang pelayan tua yang nasibnya merasa dipermainkan oleh para priyayi muda.

Jeratan kemiskinan dan tingkah para priyayi yang lalim mewarnai kisah rekaan Pramoedya Ananta Toer dalam novelnya yang bertajuk Gadis Pantai. Cerita yang berlatar belakang masa penjajahan kolonial Belanda di daerah pesisir Jawa Tengah bagian utara ini diawali dengan nikah paksa yang dialami gadis remaja yang dalam kisah ini disebut sebagai gadis pantai.

Gadis pantai seperti namanya berasal dari kampung nelayan yang sangat miskin. Ia hidup bersama orang tua dan saudaranya dengan menggantungkan diri dari tangkapan ikan ayahnya dan hasil menumbuk udang untuk menjadi rebon. Mereka seperti warga di sekelilingnya adalah kaum papa namun gadis pantai tidak pernah menyesali hidupnya selain ketika akhirnya masa kelam itu tiba. Masa ketika ia tiba-tiba diminta mengenakan kebaya yang cukup bagus dan di-make up oleh ibunya. Dan kemudian ia bersama orang tua dan tokoh desa pergi ke sebuah rumah besar milik seorang bendoro yang tak pernah dikenalnya

Gadis pantai benar-benar lugu. Ia tidak tahu kenapa orang tuanya terus berujar bahwa ia seharusnya bersyukur tinggal di situ ketika ia merengek-rengek minta pulang. Gadis pantai kalut, ia ditinggalkan di kamar sendiri bersama seorang pelayan tua. Orang tuanya ditempatkan di kamar sendiri dan tidak boleh menemuinya. Ia semakin takut ketika berhadapan dengan seorang priyayi yang sejak itu menjadi suaminya.

Gadis pantai kemudian mendapat julukan Mas Nganten dan menjadi wanita utama di situ. Meskipun awalnya rikuh menghadapi dunia barunya dan heran akan sikap seisi rumah yang menghormatinya, lama kelamaan ia bisa beradaptasi. Ia banyak belajar dari informasi yang diberitahukan oleh pelayan tua yang setia menemaninya, termasuk kenyataan antara mereka sebagai kalangan jelata dibandingkan kaum priyayi.

Diam-diam ia mulai menyukai suaminya dan selalu was-was ketika suaminya tak kunjung pulang. Namun, kebahagiaan itu tidak berlangsung lama. Ketika sedang merapikan rumah, uang belanja yang dipercayakan kepadanya lenyap. Pelayan tua yang menemaninya kemudian diusir dan lalu datanglah seorang wanita muda sebagai pelayan yang sangat menggelisahkan hatinya.

Kisah Gadis Pantai ini adalah buku karya Pramoedya Ananta Toer pertama yang saya tamatkan. Meski tidak terlalu tebal, saya memerlukan waktu beberapa saat setiap membaca berlembar-lembar halaman untuk mengendapkan dan memahami apa yang terjadi. Ya, Pram memang tidak menjabarkan secara detil suatu peristiwa atau fakta dalam cerita tersebut, seperti potongan-potongan puzzle dimana di kepingan terakhir akan tersusun di penghujung buku.

Seperti karakter Pram yang suka mengangkat isyu sosial, di dalam buku ini Pram menyoroti kaum priyayi masa penjajahan yang dirasanya banyak menyengsarakan bangsanya sendiri. Dimana orang papa dianggap lemah dan bisa ditindas semaunya. Pram juga menyoroti nasib wanita di mata priyayi yang seolah hanya pemuas nafsu belaka. Bagian yang membuat yang paling ironis, si priyayi tetap dianggap seorang jejaka meskipun sudah berulang kali memiliki Mas Nganten dan memiliki anak jika ia belum menikahi gadis yang juga berasal dari kalangan priyayi. Dan hal tersebut dimaklumi di masa tersebut dengan kiasan hanya sebagai latihan berumah tangga. Ckckck tragis sekali nasib wanita masa itu.

Meskipun ceritanya berakhir tragis saya menyukai gaya penceritaan Pram di awal yang seperti teka-teki. Memang di bagian awal hingga pertengahan, alur ceritanya berjalan lambat dan membosankan, tapi di separuh bagiannya banyak hal yang menarik dan membuat penasaran untuk segera menamatkan buku ini.

Detail Buku:

Judul Buku : Gadis Pantai

Penulis : Pramoedya Ananta Toer

Rating : 8/10

~ oleh dewipuspasari pada Juni 25, 2014.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: