Resensi Buku : Rahasia Ibu Sinder

pabrik gula

Tidak banyak sinder, atas petugas pemerintah, yang berasal dari kalangan pribumi pada masa akhir penjajahan Belanda. Hanya ada dua pribumi di antara para sinder di Pabrik Gula Madugondo, yang berdarah campuran alias indo dan Belanda totok, yakni Pak Sugondo dan Pak Suprapto. Namun, entah mengapa istri Suprapto ini sering menjadi bahan sindiran para sinder lainnya. Disebut babu cuci dan sebagainya. Padahal, ada suatu rahasia asal usul dirinya yang disimpan oleh wanita paruh baya ini.

Kisah Ibu Sinder ini dibuka dengan latar belakang Pesanggrahan Ambarukmo, tepi jalan antara Yogya dan Sala. Salah satu penghuni desa memiliki rumah makan sederhana yang lumayan laris. Warung Climen atau warung sederhama namanya yang kemudian lebih dikenal dengan sebutan Warung Ayu karena pemiliknya yang rupawan. Banyak yang penasaran tentang asal-usul pemilik sekaligus juru masak tempat makan yang terkenal dengan opor bebeknya. Siapa wanita berumur yang hidup hanya bersama asistennya itu. Meskipun usianya sudah senja, gerak geriknya sangat luwes dan sisa-sisa kecantikannya masih tergurat jelas, juga berwibawa sehingga orang-orang menaruh hormat kepadanya.

Cerita kemudian flash back, dimana Bu Sinder sangat gembira mendengar kelulusan putra tunggalnya, Suhono, dan mendapat gelar insinyur. Suaminya, Sinder Suprapto, melaporkan berita gembira ini ke atasannya, Van Hoogendrop, yang kemudian disambut suka cita. Bahkan, atasan dan istrinya, Fien, merencanakan untuk mengadakan pesta syukuran buat Suhono dan putri mereka, Ivonne, yang telah meraih Semi Art (Drs) di sekolah tinggi kedokteran di Batavia.

ibu sinder

Pesta kelulusan tersebut kemudian menguak siapa sebenarnya Bu Sinder. Para istri sinden yang biasanya nyinyir, diam-diam terkagum-kagum oleh keanggunan Bu Sinder dan kecakapannya putranya, Suhono, yang menarik perhatian Ivonne dan gadis-gadis lainnya. Keluarga Bu Sinder pun naik kelas di mata mereka dan tidak sedikit istri sinder yang berharap menjadi mertua Suhono.

Namun, situasi berbalik ketika Jepang menduduki nusantara. Nasib para sinder berubah, tak terkecuali keluarga Suprapto. Usai Jepang berkuasa, terjadi berturut-turut peperangan silih berganti. Dan Bu Sinder menyikapi segala perubahan tersebut dengan tabah meskipun banyak hal yang telah hilang dari dirinya.

Novel karya Pandir Kelana ini asyik dibaca dan mudah dipahami. Dengan bahasa yang lugas dan gaya bercerita yang mengalir, tidak sampai dua jam saya telah berhasil menamatkan 240-an halaman novel ini. Saya menyukai pilihan Pandir Kelana untuk menonjolkan karakter Bu Sinder. Meskipun di bagian awal kita seolah-olah ditawarkan misteri asal-usul Bu Sinder, Pandir sangat ‘bermurah hati’ menjelaskannya di bab-bab awal buku ini.

Setting cerita Bu Sinder juga menjadi kelebihan utama buku ini. Dimana Pandir dengan lincah mengisahkan situasi imperalisme Belanda di nusantara masa perang dunia kedua. Sikap bangsa campuran, indo, terhadap Belanda dan pribumi. Juga kondisi pribumi pada masa penjajahan Belanda yang kemudian diikuti penjajahan Jepang, pemberontakan PKI, dan perang kemerdekaan.

Bagian yang menceritakan gadis-gadis penjaja cinta di Yogya dan bagaimana sikap bersahabat Bu Sinder kepada mereka juga menarik disimak. Meski Bu Sinder menyebut mereka gadis sesat, ia tak merendahkan mereka, bahkan mau mengajarinya membuat jejamuan agar mereka suatu saat bisa mandiri. Sikap Bu Sinder terhadap perselingkuhan suaminya juga patut dipahami sebagai adat priyayi masa itu. Namun, Bu Sinder tidak hanya berdiam diri, ia menggunakan senjatanya kepada suaminya pada waktu yang tepat sehingga tidak merusak pernikahan mereka.

Lantas, siapa sebenarnya Bu Sinder?

Detail Buku:
Judul Buku : Ibu Sinder
Penulis : Pandir Kelana
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Rating : 8,5/10

 

Gambar diambil dari tokopedia.com (buku) dan id.wikipedia.org (pabrik gula)

~ oleh dewipuspasari pada Juni 27, 2014.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: