Kepingan Sejarah dari Cagar Budaya Jawa Tengah

Candi Dieng

Setiap daerah di Indonesia menyumbang kepingan sejarah nasional. Termasuk, provinsi Jawa Tengah. Di provinsi yang bentang alamnya beragam dari pantai hingga pegunungan ini kita bisa menyimak cerita dari jaman pra sejarah hingga masa mempertahankan kemerdekaan Republik Indonesia.

Kepingan sejarah di Jawa Tengah tersebar di tiap daerahnya, mulai dari wilayah pesisir di Jepara, ibu kotanya di Semarang, hingga nun tersembunyi di Dataran Tinggi Dieng. Semuanya menawarkan kisah kehidupan dan perjuangan masyarakat Jawa Tengah di tiap masa, yang bisa menjadi bahan renungan dan pembelajaran di masa sekarang dan mendatang.

Kisah masa pra sejarah bisa ditilik di Museum Sangiran, yang terletak di Sragen, sekitar satu jam dari Kota Surakarta. Sebelum memasuki kompleks Museum Sangiran, terdapat sebuah menara pandang yang menyambut wisatawan. Di menara pandang ini museum kecil tentang dokumentasi penemuan situs purbakala di Sangiran dan pengunjung diajak untuk menyelami kondisi geografis masa itu yang disebut Kubah Sangiran.

Koleksi Museum Sangiran

Koleksi Museum Sangiran

Koleksi lengkap tentang masa pra sejarah tersaji di Museum Sangiran yang dikemas modern. Di sini terdapat fosil manusia purba yang ditemukan di Sangiran seperti Pithecanthropus erectus dan Meganthropus paleojavanicus. Selain fosil manusia purba, juga terdapat fosil flora dan fauna jutaan tahun silam.

Waktu kemudian beralih ke masa sejarah yang ditandai dengan penemuan prasasti. Masa sejarah juga ditandai dengan berdirinya kerajaan di wilayah Jawa Tengah mulai masa Kerajaan Kalingga yang berlanjut dengan kejayaan wangsa Sanjaya dan Syailendra. Wisatawan dapat melihat kisah kejayaan masa Hindu-Buddha ini dari situsnya yang tersebar, dimana sisa peninggalannya umumnya berupa prasasti, candi, dan arca.

Candi Borobudur yang Megah

Candi Borobudur yang Megah

Warisan dari dua wangsa ini sangat kaya, ada Candi Borobudur yang menjadi destinasi utama para wisatawan mancanegara; ada Candi Gedong Songo yang berada di Ungaran; candi Dieng di Dataran Tinggi Dieng, Wonosobo; Candi Mendut dan Candi Pawon di Magelang; dan candi-candi lainnya yang masuk Provisi DI Yogyakarta.

Candi Gedong Songo

Candi Gedong Songo

Setelah Islam masuk ke nusantara dan meraih kejayaan, lahirlah Kesultanan Demak dengan warisan Masjid Demaknya yang masih bisa dilihat hingga sekarang. Setelah Demak pudar, kekuasaan berlanjut ke Kesultanan Pajang yang jejak peninggalannya konon berupa Masjid Leweyan dan makam kerabat sultan. Selanjutnya, lahirlah masa kejayaan Mataram Islam yang wilayahnya terbentang dari Jawa Timur, DI Yogyakarta, dan Jawa Tengah. Mataram tersebut kemudian terbagi menjadi empat pusat pemerintahan, Mangkunegaraan dan Kasunanan di Surakarta serta Pakulaman dan Kesultanan Yogyakarta di DI Yogyakarta. Kesultanan ini masih ada hingga sekarang dan masyarakat umum bisa melongok isi istananya.

Kisah sejarah di Jawa Tengah berlanjut dengan masa pergolakan melawan bangsa imperalisme yang datang silih berganti. Masa kolonialisme VOC Belanda adalah yang paling lama berlangsung sehingga jejaknya bisa dilihat di berbagai tempat, terutama di kota besar masa itu, Kota Semarang.

Di Kota Semarang, terdapat Kota Tua yang banyak menyimpan situs sejarah, seperti Lawang Sewu dan Gereja Blenduk. Jejak kolonialisme lainnya yaitu berupa kereta dan perkebunan kopi yang terdapat di Ambarawa.

Gereja Blenduk di Kota Tua Semarang

Gereja Blenduk di Kota Tua Semarang

Selain jejak kolonialisme, Semarang sebagai kota besar yang lokasinya tak jauh dari pelabuhan memiliki banyak pendatang. Masyarakat Tionghoa juga banyak bermukim di Semarang dan memberikan pengaruh budaya seperti dalam masakan dan kue-kue khas Semarang.

Replika Kapal Cheng Ho

Replika Kapal Cheng Ho

Budaya Tionghoa ini bisa ditilik dari Klenteng tertua Tay Kak Sie dan Klenteng Sam Po Kong sebagai tempat persinggahan Laksamana Tiongkok Cheng Ho. Jejak Cheng Ho kemudian didokumentasikan dalam bentuk kapal di depan klenteng.

Pesawat Cocor Merah Koleksi Museum Palagan Ambarawa

Pesawat Cocor Merah Koleksi Museum Palagan Ambarawa

Setelah Indonesia merdeka, rupanya masih ada kisah heroik dari para pemuda Jawa Tengah. Para prajurit bersatu dengan rakyat berupaya mempertahankan kemerdekaan dan terjadilah pertempuran Ambarawa yang sangat terkenal. Cerita heroik ini terdokumentasi lengkap di Museum Palagan Ambarawa yang lokasinya bisa ditempuh sekitar satu jam dari pusat kota Semarang. Di museum ini terdapat koleksi senjata yang digunakan bangsa Indonesia untuk mempertahankan Ambarawa, maket medan pertempuran, juga monumen Palagan Ambarawa.

Monumen Palagan Ambarawa

Monumen Palagan Ambarawa

Sejarah bisa terulang. Oleh karena pepatah yang mengatakan bangsa yang besar menghargai sejarahnya adalah tepat. Jika masyarakat masa kini memahami sejarah pendahulunya, maka catatan buruk masa lalu tidak bakal terulang, dan sebaliknya nilai-nilai positif yang membawa kemasyuran masa lalu bisa diterapkan untuk memberikan nilai lebih pada negeri.

foto: dokumen pribadi

*artikel ini diikutkan dalam lomba blog Visit Jawa Tengah 2015

CBZV8AEUsAAmmsa.jpg large

Iklan

~ oleh dewipuspasari pada April 9, 2015.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: