Go-Jek yang Mencuri Perhatian

go-jek
Belakangan ini pengojek dengan seragam hijau bertuliskan Go-Jek mulai terlihat berlalu lalang di jalanan ibukota. Kehadiran mereka memang tidak sekonyong-konyong namun baru akhir-akhir ini mencuri perhatian karena tarif dan layanan mereka yang banyak dibicarkan netizen. Saya pun penasaran dan tertarik mencobanya.

Saya mengunduh aplikasi Go-Jek di playstore dan mulai mendaftar. Setelah itu saya diberikan kode aktivasi. Ada pilihan untuk lokasi penjemputan dan tujuan, dimana terhubung dengan google map. Setelah itu keluarlah hitungan kilometer dan tarif. Ada tiga pilihan pembayaran, dengan Go-Jek Credit, uang tunai, dan kerja sama dengan perusahaan.

Setelah itu tak lama kemudian muncullah nama pengemudi yang akan mengantar saya. Pengemudi tersebut menelpon saya memberitahu akan siap dalam beberapa menit ke depan. Dan delapan menit kemudian, datanglah pengojek dengan seragam hijau menggunakan kendaraan roda dua jenis matic.

Ia memberikan masker untuk penutup rambut agar rambut tidak berantakan. Ia juga memberikan masker untuk menutup hidung dari debu. Setelah ia mulailah kami mengukur jalan, melintasi gang demi gang yang jarang saya lalui dan merupakan jalan pintas.

Sebenarnya saat cuaca panas begini memang kurang nyaman menggunakan roda dua. Namun, demi alasan kecepatan saya pun sedikit mengorbankan kenyamanan tersebut. Toh dengan menggunakan transportasi publik lainnya saya bakal menambah jam perjalanan hingga dua kali lipat.

Dari obrolan saya dengan pengemudi, rupanya mereka mendapatkan training dua hari sebelum resmi sebagai karyawan Go-Jek. Training tersebut meliputi keselamatan berlalu lintas, pelayanan kepada pelanggan, cara menggunakan GPS dan aplikasi Go-Jek dalam smartphone, dan bagaimana sistem pembayaran dalam Go-Jek. Para pendaftar Go-Jek dibatasi maksimal usia 50 tahun demi keselamatan pengendara dan penumpang.

Setelah beralih dari pengojek pangkalan ke Go-Jek, mereka merasakan kemudahan dalam menemukan pelanggan. Mereka tinggal menunggu di rumah sambil menunggu notifikasi pemesanan di sekitar mereka. Sementara dulu selama di pangkalan, bisa berjam-jam mereka baru bisa mendapatkan 1-2 penumpang dan itupun seringkali berebut.

Namun, Go-Jek masih mengalami kendala di Organda apakah roda dua masuk dalam transportasi publik. Ya, menurut saya serahkan pilihan ke masyarakat. Toh Go-Jek juga tidak murah-murah amat jika dibandingkan dengan komuter atau trans Jakarta. Saat ini tarif Go-Jek terjangkau karena masih dalam masa promo. Sedangkan setelah lewat masa tersebut, maka tarifnya disesuaikan per kilometer dan saat jam sibuk pada hari kerja pukul 07.00-09.00 dan pukul 16.00-19.00 tarif minimumnya adalah Rp 35 ribu.

Ada beberapa faktor pilihan transportasi bagi warga Jakarta. Seperti faktor kenyamanan, kecepatan, dan faktor keamanan, juga faktor biaya. Komuter memang cepat dan murah, namun kadang-kadang juga mengalami masalah sinyal dan sangat berdesakan saat jam sibuk. TransJakarta memiliki rute cukup banyak, namun selain berdesakan yang paling menjengkelkan adalah waktu menunggu bus yang sulit dipastikan. Jalurnya pun sering tidak steril saat jam sibuk. Alhasil selain berdiri berdesakan, waktu tempuhnya juga sulit dipastikan. Di luar transportasi publik tersebut, ada angkot/mikrolet, bajai, dan bus kota. Ya seperti pepatah bilang ada harga dan ada kualitas. Tinggal pilih yang mana sesuai dengan kebutuhan kita.

Gambar dari situs Go-Jek

Iklan

~ oleh dewipuspasari pada Juni 19, 2015.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: