Menyusuri Tanjung Kutai dengan New Terios

IMG_8154

Jika Afrika punya hutan Kongo yang luas dan benua Amerika memiliki rimba Amazon, maka Indonesia tak kalah dengan rimba belantaranya di Kalimantan yang kaya plasma nutfah. Beragam flora fauna termasuk yang statusnya dilindungi, tinggal di hutan-hutan Kalimantan. Dari orang utan, bekantan, beruang madu, hingga kayu ulin raksasa ada di balik rimba Kalimantan. Sungguh pulau yang eksotik dan menantang untuk dijelajahi.

Sejak kecil saya sangat terpesona dan membayangkan Kalimantan bak rimba Amazon dengan hutan lebat. Saya bayangkan suatu saat menyusuri sungai yang jernih di dalam hutan bak suku Dayak, berburu ikan dengan tombak, dan kemudian menyusuri belantara bertemu dengan bekantan dan beruang madu.

Dan ketika kesempatan itu tiba dengan berkunjung ke kantor cabang di Banjarmasin, rasanya saya sangat gembira dan antusias. Memang tidak banyak spot wisata yang saya kunjungi karena keterbatasan waktu dan jadwal pekerjaan yang ketat. Namun, setidaknya saya telah berhasil menjejak kaki ke Borneo. Pulau yang sejak kecil saya impikan untuk dikunjungi.

Di Banjarmasin, saya sempat menjelajah Sungai Barito dengan menyewa perahu motor. Sungai-sungai di sini sangat luas dan lebar sehingga seperti lautan. Kami berangkat selepas Subuh dan kami menyaksikan pasar terapung yang legendaris.

Pengalaman menyusuri sungai dan bertransaksi di pasar terapung sangatlah menarik. Saya kagum dengan para ibu yang ahli mendayung jukung. Kebanyakan dagangan mereka adalah buah-buahan dan sayuran. Kami membeli jeruk dari seorang ibu yang perahunya merapat ke perahu kami.

Setelah itu kami masih sempat menyantap semangkuk soto di atas perahu yang disulap menjadi warung. Wah rasanya seru bersantap soto banjar dengan kupat di atas perahu. Pengalaman ini sungguh terekam di memori meski telah berlangsung delapan tahun silam.

Setelah perjalanan ke Barito, ada dua perjalanan lagi menuju pulau ini. Yaitu menuju Samarinda dan Pulau Derawan. Di Samarinda saya hanya berkunjung ke istana Kesultanan Kutai Kartanegara yang telah disulap menjadi Museum Mulawarman. Sedangkan di Derawan saya dan lima rekan asyik menikmati pemandangan bawah laut yang indah, bertemu dengan ubur-ubur jinak nan lucu, penyu hijau, dan manta.

Meski sudah terhitung tiga kali berkunjung ke Borneo, rasanya saya belum puas. Saya belum merasakan Kalimantan seperti yang ada di angan-angan. Melihat hutan yang masih hijau nan lebat dan bertemu flora dan fauna yang hanya ada di Kalimantan, juga bertemu dengan suku asli Kalimantan, suku Dayak. Memang saya sempat berkunjung singkat ke hutan kota Tarakan selepas dari Derawan. Saya mengunjungi salah satu rumah bekantan. Namun karena durasi yang sangat singkat, saya hanya sempat menyaksikan bekantan yang sembunyi di pepohonan yang tinggi.

Hutan Kota di TarakanIMG_8163

Hutan Kota di Tarakan

Ada banyak hal yang sangat ingin saya lakukan di Borneo. Salah satunya adalah berkunjung ke Tanjung Kutai yang terkenal akan kekayaaan plasma nutfahnya, terutama orang utan dan kayu ulin raksasanya. Juga yang bakal tak kalah seru adalah mengunjungi Desa Budaya Pampang yang merupakan kediaman suku Dayak Kenyah, serta mencicipi hidangan khasnya.

kalimantan

Spot 7 Wonders Borneo yang Akan Dijelajahi (sumber: log.viva.co.id)

Ketika membaca ada lomba blog yang diselenggarakan Terios  bekerja sama dengan Viva berhadiah perjalanan ke Borneo,  wah saya menyambutnya dengan antusias. Perjalanan ini eksotik dan sangat menarik karena berkunjung ke berbagai daerah yang menyimpan kekhasan dan keunikan dari Borneo, dari orang utan, bekantan, penangkaran buaya, desa adat Dayak, mencicipi masakan khas seperti lontong orari dan durian Kruing, hingga panorama bahari cantik yang dimiliki Maratua. Apalagi perjalanan ini dilakukan dengan  Daihatsu New Terios yang tangguh baik di medan perkotaan maupun medan yang terjal.

terios 7 wonders

Terios 7 Wonders Borneo Wild Adventure (sumber: log.viva.co.id)

Tapi di antara destinasi seperti Palangkaraya, Kruing, Pulau Kaget dan Kandangan, Amuntai, Banjarmasin, Samarinda, dan Maratua, tempat wisata paling ingin saya kunjungi adalah Tanjung Kutai dan Desa Pampang Dayak Kenyah. Yang satu menyimpan kekayaan alam dan sumber paru-paru Indonesia dan lainnya adalah kekayaan budaya bangsa.

Ikon Borneo (sumber: log.viva.co.id)

Ikon Borneo (sumber: log.viva.co.id)

Tanjung Kutai
Tanjung Kutai saat ini dikenal sebagai Taman Nasional Kutai. Hutan belantara yang terletak di Kalimantan Timur, tepatnya di Kabupaten Kutai Timur, dikenal sebagai rumah bagi satwa dan tanaman yang di antaranya termasuk langka.

TN Kutai (sumber: republikwisata.info)

TN Kutai (sumber: republikwisata.info)

Sejak maraknya usaha pertambangan dan semakin bertambahnya warga yang menetap di Kaltim, maka luasan rimba ini semakin menciut. Jika saat ditetapkan sebagai hutan cadangan oleh Pemerintah Hindia Belanda pada tahun 1934 luasannya mencapai 2 juta hektar, maka kini luasannya tidak lebih dari 10 persennya, yakni 198.629 ha. Luas wilayahnya juga semakin tergerus dengan adanya pemukiman warga yang tinggal di sekeliling hutan.

Entah mengapa ketika membaca artikel dan berita tentang permintaan pemda ke pemerintah pusat untuk menyetujui pengurangan lahan Taman Nasional Kutai untuk kepentingan pemukiman, saya merasa sangat sedih. Rasanya manusia selalu merasa kurang dan tamak. Ada banyak lahan di Kalimantan, mengapa mereka mengincar kawasan hutan yang merupakan sumber oksigen dan pengatur iklim di lingkungan mereka. Apakah mereka mengincar kekayaan alamnya, terutama kayu ulinnya yang dikenal sangat berkualitas? Saya menebak-nebak.

Orang Utan (sumber: buku Lonely Planet)

Orang Utan (sumber: buku Lonely Planet)

Meski Taman Nasional Kutai ini banyak mengalami tekanan dari warga sekelilingnya dan pemdanya sendiri, saya merasa salut dengan para petugas dan pengelolanya yang tetap berkomitmen untuk menjaga kekayaan alam dan ikon Borneo tersebut. Di sinilah orang utan dan bekantan tinggal. Selain kedua ikon Kalimantan tersebut, ada 70-an jenis mamalia lainnya, 368 jenis burung dan 1148 jenis tanaman. Benar-benar rumah bagi keluarga kerajaan flora fauna.

Yang paling ikonik dari Taman Nasional Kutai ini adalah keberadaan kayu ulin besinya yang di antaranya berukuran raksasa. Kayu ini memiliki banyak manfaat ekonomis dan makanan bagi orang utan, namun sulit dibudidayakan karena pertumbuhan dan perkembangbiakannya yang lambat. Ada juga beragam anggrek yang cantik dan memanjakan mata.

Kayu Ulin Raksasa (sumber: tribunnews.com)

Kayu Ulin Raksasa (sumber: tribunnews.com)

Selain dapat menikmati segarnya hawa dan bertemu dengan flora fauna ikonik Borneo, di Tanjung Kutai juga terdapat wahana wisata lainnya seperti gua alam, jembatan gantung dan jembatan sling yang mendebarkan, dan teluk yang menawan. Perjalanan sehari menjelajah bakal terasa kurang.

Saya membayangkan alangkah serunya jika berpetualang dari Samarinda menuju Tanjung Kutai ini. Dengan New Terios yang nyaman meskipun di medan bergelombang ataupun terjal, maka berpetualang menuju rimba Kutai akan sangat mengasyikan.

New Terios yang Tangguh (sumber: http://daihatsu.co.id/product/terios)

New Terios yang Tangguh (sumber: http://daihatsu.co.id/product/terios)

 

Desa Wisata Budaya Pampang Dayak Kenyah
Borneo itu tak lepas dari kehadiran suku Dayak. Dulu saya membayangkan suku Dayak mirip dengan suku Indian yang sangat memegang tradisi dan mencintai alam. Meskipun sudah tiga kali berkunjung ke Borneo namun belum sekalipun saya bertemu dengan penduduk asli Borneo ini. Jika bertemu mereka, saya ingin belajar bagaimana mereka bisa hidup damai dan sinergis bersama alam.

Desa Wisata Budaya Pampang ini diresmikan pada tahun 1991. Penduduknya adalah suku Dayak Kenyah yang dulu hidup berpindah-pindah hingga kemudian menetap di desa ini, yang terletak sekitar 23 kilometer dari Samarinda. Alasan mereka berpindah dari daerah asalnya sejak tahun 1960-an dikarenakan mereka lebih mencintai Indonesia dan tak ingin bergabung dengan Malaysia. Hemmm membuat saya terharu.

Desa Pampang Rumah Dayak Kenyah (sumber: tribunnews.com)

Desa Pampang Rumah Dayak Kenyah (sumber: tribunnews.com)

Di Desa Pampang, wisatawan dapat menambah wawasan tentang tradisi di kalangan masyarakat Dayak Kenyah, mulai dari busana tradisional dan manik-manik yang khas, rumah panggung yang panjang dan disebut Lamin, aneka ragam tarian khas baik untuk menyambut tamu ataupun untuk ritual khusus, aneka tato, dan juga tradisi mucuk pening, yakni tradisi memanjangkan daun telinga di kalangan wanita yang saat ini mulai ditinggalkan generasi muda.

Berpetualang Menjelajah Borneo Bersama New Terios
New Terios yang baru dirilis pada Maret 2015 memiliki beberapa keunggulan dibandingkan produk sebelumnya. Keunggulannya terutama penampilannya yang makin sporty dengan desain bumper dan grille juga ornamen hitam pada dashboard dan jok mobil.

Selain itu, kendaraannya semakin nyaman dengan adanya fitur one touch tumble pada bangku baris kedua yang memudahkan penumpang bangku paling belakang untuk masuk dan keluar. Faktor keamanan juga tak luput dari perhatian dengan adanya fitur side impact beam dan window jam protection yang masing-masing bertujuan untuk melindungi dari benturan samping dan melindungi dari risiko terjepit kaca mobil.

Daihatsu New Terios R (sumber: http://www.daihatsu.com/catalogue/terios/short/)

Daihatsu New Terios R (sumber: http://www.daihatsu.com/catalogue/terios/short/)

Sudah lama Terios dikenal sebagai kendaraan jenis SUV yang tangguh dalam menjelajah alam liar. Mobilnya juga tetap stabil meskipun melaju dengan kecepatan tinggi. Tak heran jika mobil pabrikan Daihatsu ini memiliki slogan “New Terios Spirit Sahabat Petualang”.)

Dan memang Terios cocok untuk melakukan perjalanan Borneo Wild Adventure dengan seven wonders-nya ini. Berpetualang akan terasa asyik jika dilakukan dengan teman-teman yang memiliki minat yang sama. Dan Terios pas untuk berpetualang karena mobil ini menampung tujuh penumpang dan tetap nyaman meskipun duduk di bangku belakang.

Dashboard yang Makin Gaya (sumber: http://daihatsu.co.id/product/terios)

Dashboard yang Makin Gaya (sumber: http://daihatsu.co.id/product/terios)

Wah jadi semakin ingin jelajah Borneo bersama New Terios

Referensi Artikel:
http://tnkutai.com
http://dephut.go.id
http://travelesia.co
http://otomotif.kompas.com/
http://otozones.com
http://jalan2.com
http://travel.Kompas.com
http://tribunnews.com/travel/
http://daihatsu.co.id/product/terios
log.viva.co.id
Buku Lonely planet

Iklan

~ oleh dewipuspasari pada Agustus 10, 2015.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: