Dari Sekedar Hobi dan Passion Menjadi Kaya

menulis

Dari sekedar hobi apakah bisa menjadi kaya? Hemmm siapa bilang impian tersebut tidak mungkin. Ada banyak contoh orang-orang di sekeliling kita yang hidup berkecukupan dengan bertumpu pada hobi dan passion mereka. Nah, kalau Anda saat ini memiliki hobi dan passion di dunia tulis-menulis, jangan kuatir Anda punya kesempatan menjadi kaya.

Sebelum mengetahui tips dan strategi mengelola keuangan, ada baiknya jika kita mengetahui definisi kaya. Ada berbagai definisi tentang kaya. Kamus Cambridge mendefinisikan kaya sebagai orang yang memiliki banyak uang atau harga berharga. Sedangkan menurut kamus Oxford, kaya berarti memiliki sejumlah besar uang atau aset. Kaya juga bisa diartikan sebagai sejahtera. Sementara berdasarkan kamus bahasa Indonesia, kaya adalah mempunya banyak harta. Selain definisi formal tersebut, ada juga menyebutkan kaya adalah hidup serba berkecukupan.

Dari definisi-definisi kaya tersebut, ada beberapa istilah yang selaras. Yakni, serba berkecukupan atau segala kebutuhan mendasar seperti pangan, sandang (pakaian), dan papan (tempat tinggal) sudah terpenuhi, termasuk tentunya kebutuhan pendidikan. Selain serba berkecukupan, yang perlu digarisbawahi adalah kata aset yang digolongan sebagai harta berharga dan kehidupan yang sejahtera.

Apakah kunci sejahtera adalah memiliki gaji besar? Hemmm belum tentu. Untuk kondisi ekonomi yang sedang lesu seperti ini, selain PNS maka nasib karyawan sulit diprediksi. Bisa jadi perusahaan tempat bekerja terpaksa melakukan PHK di tingkat manajer ke atas untuk mengurangi beban gaji. Dengan demikian seperti saran Safir Senduk, pakar perencana keuangan di acara bertema Yuk Kelola Keuangan dengan Bijak bekerja sama dengan Sun Life Indonesia, jangan mengandalkan ke gaji, namun andalkan ke aset yang bersifat produktif.

Membentuk Aset Produktif
Apakah rumah dan tas mewah termasuk harta produktif? Bagaimana dengan ponsel dan kamera keluaran terbaru? Benda-benda tersebut bisa menjadi aset produktif namun juga bisa menjadi biang pemborosan.

Jika rumah mewah tersebut dibangun di jalan yang sangat strategis dan bisa disewakan untuk keperluan syuting film layar gelas dan layar lebar, maka rumah tersebut bisa digolongkan sebagai rumah produktif. Harga tanah di lokasi yang sangat strategis juga meningkat pesat, sehingga bisa menjadi simpanan meskipun sifatnya tidak terlalu likuid.

Sedangkan tas mewah bergantung pada pengetahuan pemilik tas tersebut dan bagaimana ia merawatnya. Ada berbagai sosialitas yang menganggap tas mewah sebagai aset, khususnya edisi yang terbatas, karena bisa dijual dengan harga tinggi di komunitas sosialita yang juga penggemar tas branded.

Lantas bagaimana dengan ponsel dan kamera keluaran terbaru? Apabila ponsel dan kamera tersebut membantu bekerja dan bisa mewujudkan pekerjaan sampingan, maka gadget tersebut masuk aset produktif. Dengan gadget tersebut, ia bisa menjadi fotografer wedding secara freelance, food blogger yang terkenal, atau bisa membantunya dalam urusan pemasaran dan jual beli barang.

Jadi aset produktif adalah harta yang menghasilkan. Contohnya adalah tanah dan rumah yang disewakan; hewan ternak seperti unggas, kambing, ikan, dan sapi; dan surat berharga seperti obligasi, deposito, reksadana, saham, dan emas.

Oleh karenanya, Safir Senduk berpesan agar setiap orang harus berupaya untuk mengumpulkan aset. Pasalnya, aset tersebut itulah yang akan menghidupi Anda dan keluarga Anda nantinya, paparnya.

Kebutuhan vs Keinginan
Untuk membentuk aset tersebut, setiap orang harus memiliki modal berupa uang. Apakah dengan pendapatan blogger atau penulis freelance yang penghasilannya tidak menentu bisa mengumpulkan modal? Tentu bisa.

Safir Senduk

Untuk itu, para blogger, termasuk saya salah satunya, harus memisahkan antara kebutuhan dan keinginan. Cara gampangnya, jika ada sesuatu yang kita harapkan namun keesokan harinya tidak penting, maka itu adalah keinginan. Misalnya, ada pakaian dan celana yang didiskon. Kita menunda membelinya karena masa diskon masih panjang. Akan tetapi setelah tiba di rumah, benda tersebut menjadi tidak penting dan kita tidak terlalu mengharapkannya lagi. Nah, itu jelas keinginan.

Keinginan jika tidak terpenuhi maka life is go on, tidak akan mempengaruhi hidup seseorang. Berbeda dengan jika kita memerlukan sesuatu dan jika tidak terpenuhi maka akan menyulitkan hidup kita, seperti pangan, sandang, papan, biaya pendidikan, dan biaya kesehatan. Oleh karenanya jika ingin membeli sesuatu, maka pikirkan masak-masak. Apakah barang tersebut hanya sekedar keinginan atau memang sangat dibutuhkan?

Berinvestasi dan Mengumpulkan Aset
Cara terbaik untuk mengumpulkan dana adalah melakukan investasi. Investasi bisa dipilih berdasarkan pengetahuan yang dimiliki. Ada yang paham pertanian, sehingga lebih memilih berinvestasi di penanaman sengon dan jati. Ada yang pandai berternak, maka ia memilih berinvestasi di usaha tambak udang, kolam lele, beternak bebek, hingga kambing dan sapi. Ada pula yang lebih suka menyimpan di bank dan sekuritas, seperti produk deposito, reksadana, obligasi, dan saham.

Sedikit-sedikit Lama-lama Jadi Bukit Aset

Sedikit-sedikit Lama-lama Jadi Bukit Aset

Investasi tersebut tidak selalu diawali dengan modal besar. Reksadana pasar uang bisa dimiliki dengan menyisihkan dana sebesar Rp 100 ribu/bulan. Jadi tidak perlu harus menunggu memiliki penghasilan besar. Mulailah berinvestasi dan membentuk aset sejak saat ini.

Membentuk Kebiasaan Baik
Menabung dan berhemat memerlukan komitmen yang kuat. Oleh karena itu jangan memaksakan diri dengan menabung sangat besar, karena akan membuat Anda tersiksa dan kembali ke kebiasaan lama. Mulailah menabung dengan persentase kecil seperti 10% dari gaji. Setelah poin-poin keinginan banyak dicoret sehingga mampu berhemat lebih, maka naikkan persentase menjadi 20%, dan seterusnya.

Pengeluaran juga harus dicatat sehingga bisa dievaluasi setiap bulannya. Mana pengeluaran yang masuk dalam hal-hal tidak dan kurang penting, sehingga bisa diminimalkan dan dialihkan ke dalam bentuk tabungan. Bayangkan hal-hal yang indah jika aset meningkat, seperti pensiun dengan nyaman, bisa bepergian ke tempat-tempat yang indah, atau bisa mengambil pendidikan hingga ke jenjang S2 atau S3.

Untuk blogger yang penghasilannya tidak menentu, maka bisa dibuat target. Misalkan bulan ini minimal mendapat Rp 2 juta, bulan berikutnya mungkin hanya Rp 1 juta dan seterusnya. Target juga akan membuat Anda bisa lebih fokus bekerja dan berkeinginan untuk melebihi target tersebut.

Dari pengeluaran rata-rata, Anda bisa membentuk rencana cashflow bulanan. Pengeluaran tahunan juga perlu diperkirakan, seperti premi pensiun, pajak kendaraan, PBB dan sebagainya yang harus dibayar tiap tahun. Dari rencana cashflow yang Anda buat, maka Anda bisa menentukan besaran dana yang diinvestasikan.

Agar dana investasi bisa meningkat, maka milikilah pengetahuan berinvestasi secara dasar. Sebaiknya hindari menempatkan dana investasi di satu tempat untuk mengurangi risiko. Misalkan dari Rp 500 ribu untuk berinvestasi di reksadana, pilahlah menjadi reksadana pasar uang, reksadana pendapatan tetap, dan reksadana pasar saham. Perhatikan kondisi keuangan sehingga Anda bisa realokasi dan mengubah strategi berinvestasi.

Nah, Anda telah memiliki kebiasaan baik berinvestasi dan membentuk aset produktif. Sedikit-sedikit lama-lama jadi bukit. Dari hobi pun bisa menjadi kaya.

Tentang Sun Life Financial Indonesia
Sun Life Financial Indonesia didirikan tahun 1995 dan memiliki misi untuk membantu keluarga Indonesia mencapai kesejahteraan dengan kemapanan finansial. Sun Life saat ini memiliki unit bisnis syariah yang dikelola terpisah dengan unit bisnis konvensional. Produk syariahnya beragam dari Brilliance Hasanah Protection Plus, Brilliance Hasanah Sejahtera, dan Asuransi Brilliance Amanah dimana Anda bisa memilihnya berdasarkan kebutuhan dan tujuan.

SUn Life Financial

Referensi:
– Makalah Sekilas Mengenai Sun Life Financial
– Makalah Bijak mengelola Keuangan untuk Profesi Blogger. Safir Senduk
Gambar atas: 123rf.com, dari makalah Safir Senduk dan Company Profile Sun Life Financial.

Iklan

~ oleh dewipuspasari pada Agustus 31, 2015.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: