Panik

panic

“Ya ampun Ra, aku tadi tertidur…”

Rana menatap kebingungan teman satu kosnya yang keluar dari kamar kosnya dengan muka panik. Kana nampak berulang kali mengucek-ucek matanya seolah tak percaya dengan arah jarum yang ditunjuk pada jam dinding yang ada di ruang makan.

“Waduh Ra, aku bisa terlambat ujian akhir…”, ujar Kana sambil berlari terbirit-birit menuju kamar mandi untuk mencuci muka dan menggosok gigi.

Rana teringat kawan satu kosnya itu semalam bercerita jika hari ini ia ada jadwal ujian mata kuliah Jaringan Komputer pada pukul 11.00. Sekarang sudah pukul 11 kurang 10 menit dan Kana masih sibuk berganti pakaian.

Ia tadi pagi melihat Kana masih suntuk belajar di kamarnya. Setumpuk buku teks dan lembaran catatan ada di samping kanan kirinya. Rupanya ia tertidur selama proses belajar. Wah ada-ada saja nih Kana.

Kana sudah berganti pakaian dan mengumpulkan alat tulis di tasnya. Ia makin panik melihat jarum jam yang terus berputar tanpa kompromi. Ia mengambil kunci motornya tapi karena paniknya, kunci motor yang terpaut pada gantungan kunci itu berkali-kali terjatuh.

Dengan sigap Rana mengambil kunci motor di lantai. Ia lalu mengambil helm yang ada di lemari. Ia kenakan sarung tangan dan masker. Lalu dengan tangkas mengeluarkan motor dari garasi dan membuka pagar kosan. Kana bengong melihat aksi kawan kosnya.

“Ayo buruan, jangan bengong saja. Jangan lupa pakai helm..” perintah Rana dengan tegas yang membuyarkan lamunan Kana.

Kana segera berlari menghampiri Rana. “Tidak usah pakai helm deh Ra…kan kampus tidak begitu jauh. Lagipula tidak ada polisi…panas lagi..”

Rana mengernyit. Kana jika sudah panik dan tergesa-gesa, suka berlaku seenaknya. Ia berlari dan mengambilkan helm milk Kana. Ia menyodorkan helm tersebut pada Kana yang dikenakan kawannya tersebut dengan bersungut-sungut. Setelah menutup pagar kosan, motor yang membawa dua gadis remaja tersebut membelah kota Surabaya menuju kampus yang terletak di pinggiran kota.

***

Jarak kampus dengan kosan sebenarnya tidak terlalu jauh. Bisa ditempuh dalam waktu 15-20 menit jika jalanan lancar dan sepi seperti siang hari seperti ini. Para mahasiswa masih sibuk berkutat di kampus apalagi saat ini musim ujian.

Rana hari ini sedang kosong ujian. Ujian berikutnya baru diadakan lusa dengan dua mata kuliah sekaligus. Ia tak masalah mengantar sahabat kosnya ini. Ia was-was pasalnya Kana termasuk mudah panik.

Kana berkali-kali meminta Rana untuk menambah kecepatannya. Rana diam saja tak menggubris permintaan Kana yang berkali-kali berteriak di bangku penumpang. Ia lebih memilih berkonstrasi dengan lalu lintas yang ternyata cukup padat siang ini.

Tidak semua pengguna jalan bersikap tertib. Ada yang tidak mempedulikan lampu merah dan terus melaju. Tapi yang paling membuat Rana berhati-hati ketika pengendara motor melaju lawan arah. Sangat membahayakan dirinya dan pengguna jalan lainnya.

Sikap Rana yang benar-benar menerapkan safety riding membuat Kana merasa gemas. Rasanya ingin ia mengambil alih kemudi dan mengebut agar segera tiba di kampus. Toh ini kan sepeda motor miliknya. Dan ia harus segera tiba karena menyangkut urusan hidup mati kuliahnya.

“Ayo Ra buruan gih. Aku bisa-bisa tidak diperbolehkan ikut ujian nih jika terlambat 15 menit..” rengek Kana tak sabaran.

***

Meskipun Rana mengendara dengan kecepatan normal, rupanya mereka hanya memerlukan waktu sepuluh menit untuk tiba di pelataran kampus.

“Kana, Kamu segera ke kelas, aku saja yang memarkirkan motormu. Kutunggu di perpustakaaan pusat ya..” ujar Rana.

Kana segera melesat menuju kelas tempat ujian diselenggarakan yang berada di lantai dua. Ada beberapa mahasiswa yang terlambat seperti dirinya.

Oleh karena jarum jam masih menunjukkan pukul 11 lewat 11 menit, maka ia bersama ketiga mahasiswa lainnya diperbolehkan masuk kelas dan diberi lembar juga soal ujian. Kana baru bisa bernafas lega dan diam-diam berterima kasih pada Rana.

***

Rana tidak pernah merasa bosan berdiam di perpustakaan pusat. Ada saja yang menarik perhatiannya. Buku-buku koleksi perpustakaan pusat serasa tak ada habisnya. Selalu ada koleksi baru yang asyik untuk dibaca. Tapi saat ini Rana hanya ingin membaca sesuatu yang ringan. Ia merasa sedikit terpengaruh oleh kepanikan Kana. Ia menghela nafas dan benaknya melayang ke sebuah peristiwa.

Kana pernah dua kali jatuh dari motor. Kedua-duanya gara-gara sifatnya yang mudah panik. Yang pertama karena salah berbelok dimana seharusnya ia harus berbelok di perempatan pertama tapi malah terus melaju. Ketika menyadari kesalahannya Kana mulai panik dan motornya pun oleng. Siku lengan dan lututnya pun luka-luka.

Rana mendengar dari ujung telpon, teman satu kosnya ini bercerita sambil menangis. Ia lalu meminta tolong kekasihnya, Rere, untuk mengantarnya menemui Kana. Gadis manis itu masih duduk di bangku sebuah warung dengan wajah yang pias dan masih tersedu sedan.

Peristiwa kecelakaan berikutnya baru-baru saja terjadi. Gadis manis tersebut kesiangan bangun dan terburu-buru berangkat kuliah. Lalu lintas pagi Surabaya cukup padat. Kana yang sibuk memikirkan untuk cepat tiba di kampusnya melaju dengan kencang tanpa melihat kanan-kiri.

Ketika sebuah angkutan umum di depannya berhenti sekonyong-konyong, Kana terlambat merespon. Motornya mencium angkutan umum. Ia pun terjatuh dan hampir tertimpa oleh motor di belakangnya. Ia pun gagal berkuliah hari itu. Bukannya belajar di kampus, ia malah harus beristirahat di rumah sakit.

“Kana..Kana..sepertinya ia harus mengontrol rasa paniknya..”

***

Gadis berambut panjang itu muncul 90 menit kemudian di ruang baca perpustakaan. Berbeda dengan raut wajahnya beberapa waktu lalu, Kana tampak riang dan di wajahnya tergambar senyum kepuasan.

“Hai Nona cantik…yuk kutraktir makan siang di kantin,” ajak Kana dengan penuh semangat sambil menarik lengan kawannya. Rana mengikuti teman satu kosnya dengan pasrah. Perutnya sudah keroncongan minta diisi.

Kantin nampak penuh oleh para mahasiswa. Mereka sepertinya bernasib sama dengan Kana, ada ujian di jam yang sama. Muka-muka mereka nampak ceria, namun ada juga yang bermuram durja. Rana menebak pasti mereka yang muram kesulitan mengerjakan soal-soal ujian. Bisa jadi tidak belajar atau bisa jadi yang mereka pelajari tidak ada yang keluar di soal ujian.

“Bagaimana ujianmu Kana?” tanya Rana setelah menuliskan pesanannya di kertas yang diambil dengan sigap oleh petugas kantin.

“Tenang saja Nona manis..semuanya beres..” timpal Kana sambil jari-jari tangannya membentuk tanda oke. Ia merasa beruntung soal-soal yang dipelajarinya ternyata banyak yang keluar di soal-soal ujian. “Aku yakin nilai A atau minimal B minus bakal terpampang di hasil ujian..” ujarnya bersungguh-sungguh yang membuat Rana merasa geli.

“Kana penyakitmu berbahaya tuh…coba penyakitmu diatasi..” Rana mulai menyampaikan keprihatinannya.

“Hah…penyakit? Aku sakit apa ya? Rasanya pilekku sudah sembuh…memang aku sakit apa Ra?” Kana menggaruk-garuk kepalanya.

“Itu Kana…penyakit panikmu itu. Berbahaya!” ujar Rana tegas. “Jika sudah panik, kamu sudah susah mikir”.

Kana terdiam. Ia sadar dirinya mudah panik dan bisa berbuat ceroboh jika rasa panik menguasainya. “Terus aku harus bagaimana dong?”

Rana tersenyum. Ia lalu mendorong Kana untuk mengikuti kelas yoga. “Ikut yoga yuk…bisa rileks dan bisa membantu mengurangi efek kepanikan..”

“Benar Ra yoga manjur?” Kana menyangsikan.

“Dicoba dulu saja..kalau buat aku sih lumayan ampuh. Aku selalu was-was setiap kali Kamu panik dan kemudian menyetir..” Rana mengingatkan.

Kana termangu-mangu. Ia ingat sudah dua kali ia mengalami luka-luka gara-gara serangan panik saat berkendara.

“Tahu nggak Ra. Waktu aku jatuh dan hampir tertimpa motor di belakangku rasanya aku sudah hampir mati..menakutkan Ra..” cerita Kana lirih. Untung Tuhan masih sayang sama aku, lanjutnya.

“Jadi..???” desak Rana

“Ok Bos, aku coba redakan sifat mudah panikku. Jika misalkan panikku tidak sanggup kuhadapi, aku tidak nyetir motor deh. Berbahaya buatku dan orang lain..” janji Kana.

“Sore ini ada kelas yoga lho. Yuk ikutan..” bujuk Rana.

Kana tertawa. Rana pun ikut tertawa. Mereka melahap soto pesanan mereka dengan lahap.

*** tamat***

 

NB: Blog post ini dibuat dalam rangka mengikuti kompetisi cerpen Fiksi: Tertib, Aman, dan Selamat Bersepeda Motor di Jalan #Safety First diselenggarakan oleh Yayasan Astra-Honda Motor dan Nulisbuku.com.

gambar: http://www.publicsafetyfacts.com

Iklan

~ oleh dewipuspasari pada Oktober 31, 2015.

Satu Tanggapan to “Panik”

  1. Cerpennya sangat menarik… mengingatkan kita bahwa safety adalah hal basic yang harus selalu kita perhatikan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: