Kepingan Teka-Teki Supernova dari Tanah Batak

Supernova: Gelombang

Sejak kehadirannya pada awal 2000-an, Supernova telah membius pecinta novel Indonesia untuk terus memburu teka-teki seputar Supernova dan tujuannya. Tiap-tiap elemen sudah hadir menyumbangkan kepingannya. Kali ini giliran Alfa, pria asal Batak yang diuji apakah ia salah satu di antara orang-orang pilihan Supernova.

Alfa merasa dirinya remaja seperti pada umumnya kecuali ia selalu diungsikan oleh orang tuanya jika sedang ada upacara adat pemanggilan roh di sekelilingnya. Hingga suatu saat orang tuanya membiarkannya mendengarkan irama pemanggilan roh Raja Uti. Sejak itu kehidupan Thomas Alfa Edison pun berubah, tak lagi sama.

Ia merasakan orang tuanya bersifat protektif kepadanya. Ada banyak pasang mata seolah menyelidikinya. Tetua adat juga bersikeras menjadikannya murid. Tapi yang paling menakutkan adalah bayangan hitam besar yang seolah mengikutinya dan semua mimpi buruk yang seolah berupaya membunuhnya. Ada sesuatu di dalam mimpi itu yang menunggunya. Alfa ketakutan dan memutuskan untuk tak terlelap dalam tidurnya.

Dalam perantauannya ke Amerika ia akhirnya menghadapi ketakutan terbesarnya. Tapi jawabannya bukan di negeri Paman Sam tersebut, melainkan jauh ke timur ke Tibet di Lembah Yarlung. Ia harus was-was dalam pencariannya, menebak-nebak mana kawan dan lawan.

Buku kelima dari serial Supernova karya Dewi Lestari ini membawa pembaca mengarungi tradisi dan adat-istiadat masyarakat Batak sebelum kemudian diajak menyelami kerasnya kehidupan sebagai imigran gelap dan kemudian membongkar tabir rahasia di Tibet.

Saya menyukai cara Dewi Lestari bercerita tentang tanah kelahirannya dimana suku Batak di buku ini dikisahkan masih memeluk agama nenek moyang dan memiliki pandangan yang berbeda dalam melihat alam dan kehidupan manusia. Saya merasa nyaman dan menikmati kisah perjalanan hidup Alfa selama di Batak. Akan tetapi ketika Alfa merantau di Amerika kenikmatan saya membaca mulai menurun.

Dee menggunakan dua bahasa Indonesia dan Inggris dalam dialognya. Menurut saya hal ini malah mengganggu karena ada yang bahasa Indonesia dan ada yang bahasa Inggris padahal kondisi bahasanya sama di saat itu, bukan di satu sisi bahasa asing dan lainnya bahasa Inggris.

Kisah hidup Alfa yang digambarkan begitu dramatis dan begitu sukses rasanya malah hambar. Entahlah di saat Alfa semakin sukses saya merasa karakter Alfa makin tidak menyenangkan. Cerita baru mulai kembali segar ketika pengembaraan ke Tibet, itupun ketika cerita Alfa mulai berhubungan dengan konsep Supernova.

Di buku kelima ini, tokoh sebelumnya yakni Gio dihadirkan. Sedangkan Diva digambarkan masih hilang di hutan. Tokoh-tokoh lainnya hanya digambarkan selintas tapi menunjukkan adanya pertalian antara karakter Alfa dengan tokoh-tokoh Supernova sebelumnya.

Kisah Alfa pada buku kelima ini menurut saya bakal lebih bagus jika fokus di Tanah Batak karena jarang-jarang buku yang menampilkan masyarakat Batak yang masih menganut agama nenek moyang juga tradisinya. Meskipun buku kelima ini bagi saya kurang memuaskan setelah ditunggu-tunggu sekian lama, tapi saya tetap menunggu buku pamungkasnya.

Oh ya buku ini bisa didapatkan di toko buku fisik atau dengan berbelanja online di bukupedia di sini.

Detail Buku:
Judul : Supernova: Gelombang
Penulis : Dewi Lestari
Penerbit : Bentang
Rating : 7,8/10

Iklan

~ oleh dewipuspasari pada Desember 19, 2015.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: