Pulau Sempu dan Sendang Biru: Pariwisata, Tradisi dan Kelestarian Alam

sendang biru

Sabtu pagi yang cerah mengantar perjalanan kami ke Pulau Sempu. Kami sengaja berangkat pagi, yakni pukul 09.00. Sebenarnya malah kurang pagi karena perjalanan dari pusat kota menuju pantai Sendang Biru yang menjadi titik start menuju pulau Sempu berkisar tiga jam.

Selepas dari kota Malang, kendaraan kemudian melintasi stadion kebanggaan warga Arema yakni Stadion Kanjuruhan yang lapang dimana biasa digunakan oleh Arema Chronus untuk bertanding. Kami juga melewati salah satu pabrik gula di Kabupaten Malang, PG Krebet.

Semakin ke Selatan jalanan makin naik turun dan rimbun oleh pepohonan di kanan kiri. Kendaraan pribadi dan angkutan umum yang melintas semakin sepi, lebih didominasi oleh truk yang mengangkut hasil bumi.

Akhirnya kami melihat lautan yang terhampar dan aroma khas laut yang terbawa oleh angin sepoi-sepoi. Semakin dekat dengan lokasi wisata tersebut, air nampak semakin biru. Warna air yang begitu biru itulah yang membuat pantai ini diberi nama Sendang Biru.

Perahu-perahu nelayan berjajar siap mengantar para pengunjung untuk menuju pulau Sempu atau memancing di atas perahu. Para masyarakat di sekitar Sendang Biru umumnya bermata pencaharian sebagai nelayan, namun dengan animo masyarakat Indonesia yang semakin tinggi terhadap pariwisata maka mereka juga memiliki usaha penyewaan kapal nelayan untuk mengantar jemput penumpang.

Profesi juru pandu atau guide pun kemudian hadir terutama di kalangan anak muda. Ada juga yang menjadi kuli panggul, membawakan barang-barang para pengunjung yang hendak berkemah di sekeliling Segara Anak, terutama persediaan air tawar karena air di Segara Anakan adalah air laut yang asin. Sebenarnya ada pula danau air tawar, yakni Telaga Lele, namun lokasinya cukup jauh dari Segara Anakan.

Kami kemudian menyewa perahu nelayan dimana tarifnya adalah tarif pas tidak bisa lagi ditawar. Kami juga menyewa seorang guide untuk memandu kami hingga ke Segara Anakan. Saat itu tarif perahu adalah Rp 100 ribu untuk pulang pergi dan tarif guide sebesar Rp 75 ribu.

Bagi saya laut terutama di pantai selatan adalah laut yang indah namun juga berbahaya. Ada mitos yang beredar di masyarakat tentang Nyi Roro Kidul, penguasa laut selatan dan juga larangan untuk mengenakan baju berwarna hijau atau biru. Saya ingat pantangan tersebut ketika bepergian ke Pantai Balekambang yang terletak tak jauh dari Sendang Biru, tapi ketika ke Sendang Biru saya malah tak sengaja mengenakan kaus berwarna hijau. Percaya tidak percaya, saya memutuskan untuk lebih berhati-hati dan menjaga sikap selama berada di sekitar Laut Selatan alias Segoro Kidul.

Perahu nelayan ini bisa dimuati hingga 10 penumpang. Kami hanya bertiga saat itu. Tapi menunggu penumpang lainnya akan menghabiskan waktu kami, apalagi kami berencana tidak menginap di Segara Anakan, dan langsung pulang pada hari yang sama.

Dari cerita si pemandu, ada beberapa pengunjung yang tersesat. Meskipun pulau tersebut tergolong mungil namun bagi mereka yang baru sekali berkunjung ke situ mungkin akan sulit menemukan jalan setapak yang menjadi jalan utama keluar masuk pulau tersebut. Ada yang hilang hingga berhari-hari kemudian dan ditemukan dalam kondisi lemas.

Memang benar kata si pemandu trekking sepanjang pulau Sempu tidaklah mudah. Cukup menguras energi. Pulau ini memang dibiarkan apa adanya, tetap alami karena pulau ini menjadi tempat tinggal satwa liar seperti elang laut, babi hutan, kera hitam dan biawak.

Hawa di pulau ini masih segar dan terdengar kicauan burung. Saya tidak merasa begitu lelah apalagi ketika berpapasan dengan rombongan Ibu-ibu yang hendak kembali ke Sendang Biru. Hanya yang membuat dag dig dug ketika melewati tebing yang agak sempit dimana kami harus bergantian jalan jika berpapasan dengan rombongan pengunjung dari arah sebaliknya. Kami bisa bayangkan bagaimana susahnya memanggul galon air minum atau perlengkapan berkemah sehingga tak heran ongkos kuli panggul cukup mahal karena memang medannya cukup berat.

Setelah 1,5 jam melakukan trekking kami tiba di Segara Anakan. Ada danau di tengah sebuah pulau. Sebenarnya bukan danau karena airnya juga air laut dan danau ini bersambungan dengan laut lepas dari sebuah celah di tebing.

segara anakan

Segara Anakan memang indah. Sebuah segara yang dikelilingi tebing. Sebagian wisatawan menyandingkannya dengan Maia Bay yang menjadi lokasi syuting film The Beach. Ya, Segara Anakan bak danau tersembunyi.

Saya asyik bermain air membiarkan air melemaskan otot kaki saya yang lelah. Ada banyak pengunjung yang berkemah. Ada yang berenang, ada juga yang tak takut bermain air di dekat celah dimana gelombang airnya cukup tinggi. Bagi saya itu bukan berani, melainkan nekat, karena tindakan tersebut berbahaya.

Kehadiran pengunjung yang berkemah ini tidak menunjukkan kehidupan para pecinta alam. Kawasan Segara Anakan malah nampak kumuh. Ada tumpukan sampah, ada juga baju yang dijemur dan sisa –sisa api unggun. Seharusnya mereka yang mengaku pecinta alam tidak berbuat seperti itu. Kata si pemandu, para masyarakatlah yang membersihkan tiap Senin. Mereka sudah mengingatkan agar pengunjung menjaga kebersihan, tapi banyak yang lalai.

Saya kemudian melangkah ke arah tebing melihat lautan lepas. Itulah laut selatan yang merupakan Samudera Hindia. Jika kita sanggup berenang melintasi samudera maka akan bertemu dengan Benua Australia.

samudera

Lautan ini nampak agung. Ombaknya terlihat perkasa. Berbahaya tapi juga indah. Saya merasa salut dengan para nelayan yang dengan gagah berani mencari ikan. Sendang Biru terkenal akan ikan tunanya. Bahkan dulu ayah sering memancing di sini berburu ikan tuna.

Ikan tuna sekilas mirip dengan ikan tongkol dengan citarasa yang menurut saya lebih mantap. Setelah kami kembali ke Sendang Biru, kami langsung menuju tempat pelelangan ikan dimana kami membeli ikan tuna untuk oleh-oleh. TPI-nya cukup bersih. TPI ini bisa menjadi salah satu lokasi wisata setelah pengunjung puas bermain pasir di pantai atau menjadi tempat oleh-oleh. Selain tuna, di sini pembeli bisa mudah mendapatkan tongkol, cumi-cumi,lemurung, lobster, teripang dan lain-lain.

ikan

Di dekat TPI ada beberapa warung makan. Kami memilih salah satu warung yang dikelola sepasang suami istri yang sudah lanjut usia. Dengan Rp 60 ribu kami puas bersantap untuk tiga orang. Ada sambal merah, urap dan kemudian tuna bakar. Begitu sedap, gurih dan bumbunya begitu merasuk karena dibakar secara perlahan dengan sabut kelapa.

Oleh karena tangkapan ikan tuna melimpah, maka masyarakat Desa Tambarejo ini mulai mengolahnya untuk meningkatkan daya jual dan agar tidak mubadzir. Ikan tuna tersebut diolah menjadi pepes, stik, petis dan abon ikan tuna yang bisa dibawa pulang sebagai buah tangan.

Status Pulau Sempu Adalah Cagar Alam Bukan Tempat Wisata
Saat berkunjung ke Pulau Sempu saya belum tahu bahwa kawasan ini sebenarnya adalah cagar alam yang perlu dilindungi. Saya jadi merasa bersalah ketika mempromosikan pulau ini sebagai salah satu tujuan wisata ketika berkunjung ke Malang.

Berdasarkan UU No 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan, kawasan cagar alam dilarang dimanfaatkan untuk komersial, Untuk menuju sebuah cagar alam seharusnya menggunakan ijin berlapis dengan tujuan utama untuk penelitian, pengembangan, ilmu pengetahuan dan pendidikan.

Akan tetapi dengan animo masyarakat yang tinggi terhadap pariwisata maka sulit bagi pemerintah daerah dan masyarakat setempat untuk membendung arus wisatawan. Bisnis menyewakan perahu, menjadi pemandu, dan menjadi kuli angkut cukup menambah penghasilan masyarakat.

Sebenarnya menurut saya pulau Sempu bisa menjadi tempat wisata asal para pengunjungnya dibatasi dan paham tata cara menjaga lingkungan. Menginap di Segara Anakan lebih baik dilarang karena lebih banyak yang meninggalkan sampah daripada mereka yang belajar mencintai alam. Saya setuju dan salut dengan konsep Danau Tiga Warna yang juga berada di Malang Selatan, dimana pengunjung dibatasi dan diajarkan untuk mencintai lingkungan dimana mereka yang meninggalkan sampah didenda sangat tinggi agar mereka jera.

Berwisata dan menjaga lingkungan sebenarnya bisa dijalankan secara selaras, asal pengelola dan pengunjung bertindak sesuai peraturan yang berlaku. Jangan hanya karena bisnis pariwisata menggiurkan maka alam lingkungan menjadi rusak.

Apabila perlakuan pengunjung sudah tidak bisa ditoleransi dalam hal kebersihan, maka sebaiknya Pulau Sempu benar-benar ditutup bagi wisatawan terkecuali untuk penelitian. Masyarakat pesisir bisa berkonsentrasi untuk meningkatkan daya jual Sendang Biru sebagai kawasan memancing dan kuliner ikan tuna dan ikan laut lainnya

Tradisi Petik Laut atau Sedekah Laut yang merupakan tradisi masyarakat Desa Tambak Rejo juga bisa menarik pengunjung. Tradisi larung sesaji ini biasa diadakan pada 27 September. Sesaji ini disiapkan oleh masyarakat secara bergotong-royong yang umumnya merupakan hasil bumi.

Upacara adat Petik Laut ini merupakan ungkapan rasa syukur masyarakat, khususnya para nelayan, akan hasil laut yang melimpah. Mereka juga berdoa agar hari-hari berikutnya hasil tangkapan juga tetap melimpah dan mereka mendapatkan rejeki yang berkah. Pada tradisi ini masyarakat juga mengadakan berbagai acara dan hiburan yang melekatkan persaudaraan antar warga.

Selain tradisi Petik Laut, kearifan lokal lainnya yakni pada hari raya idul Fitri, sekitar tanggal 7-8 bulan Syawal banyak penduduk desa dan pengunjung yang menuju pulau Sempu dan mengambil air dari mata air di pulau Sempu yang dipercaya menyehatkan.

Sendang Biru dan pulau Sempu memang memiliki daya tarik tersendiri dan keunikan tradisi. Jangan sampai kita merusak keelokan alamnya dengan sampah dan tindakan tak terpuji lainnya. Biarkan alam tetap lestari dan kita hanya menghargai dan mengagumi.

Iklan

~ oleh dewipuspasari pada Januari 21, 2016.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: