Para Petani Sepatutnya Berdikari

Sawah

Jadi petani itu rugi, Engkau tidak bakalan kaya-raya. Para pedagang sayuran, beras, dan buah-buahan-lah yang kaya. Sedangkan Dirimu hanya terus berharap-harap cuaca akan bersahabat sehingga hasil panen melimpah. Benarkah menjadi petani itu pilihan yang salah?

Bangsa Indonesia dulu bangsa yang agraris. Masih ingat tahun 80-an akhir dan 90-an awal Indonesia mampu swasembada beras dan hasil pertaniannya mencukupi bahkan diekspor ke berbagai negara. Kini Indoneska malah jadi pengimpor beras dan gula. Sungguh miris.

Ya bagaimana lagi sawah, ladang, hutan, berupa jadi perkebunan sawit, perumahan, dan perindustrian. Lihat lahan luas sedikit saja rasanya tidak bisa dan langsung diubah jadi pemukiman yang menguntungkan. Bahkan di Malang dimana sebagian lahan yang dulunya sawah juga telah berubah jadi perumahan. Duhhh jadi makin sumpek dan makin terbatas lahan sawah di Indonesia. Jangan-jangan suatu saat Indonesia krisis pangan dan semuanya impor.

Saya masih ingat ketika keluarga Ingalls tetap ingin menjadi petani, demikian juga keluarga Almanzo dalam Little House in The Prairie. Jadi petani itu kaya batin dan bebas, apa yang diusahakan akan bisa dipetik. Meskipun mengalami beberala kali panen gagal, mereka tak kapok jadi petani.

Di Amerika, Australia dan Eropa menjadi petani itu profesi yang sama bermartabat seperti menjadi pengusaha dan lain-lain. Mereka juga hidup sejahtera tidak seperti petani di Indonesia yang sebagian hanya buruh dan dibayar dengan upah minim.

Ayo kembalilah ke ladang dan sawah. Jangan terus jual sawah dan lahan untuk pemukiman. Tambahlah wawasan cara bertanam agar bisa menghasilkan panen yang berlimpah, sehat, dan berkualitas. Hasil pertanian melimpah petani sejahtera dan rakyat Indonesia akan tumbuh sehat serta menjadi bangsa yang kuat.

Terima kasih Pak dan Bu Petani atas usaha kerasnya kami bisa makan nasi, sayuran dan buah-buahan.

Gambar dokpri sudah pernah saya muat di sini

Iklan

~ oleh dewipuspasari pada Januari 28, 2016.

2 Tanggapan to “Para Petani Sepatutnya Berdikari”

  1. Saya benar2 baru tahu betapa susahnya menjadi petani ketika bapak ibu saya nyambi menjadi petani belum lama ini,b ternyata untuk impas saja alhamdulillah…. terimakasih bapak ibu petani…

    • Dulu saya mengira jadi petani itu mudah, tapi melihat ayah saya sendiri yang petani tebu dan saudara yang petani buah saya baru tahu banyak hal yang memberatkan mereka.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: