Konflik Horizontal Angkutan Umum Jakarta

Demo angkutan umum

Demo angkutan umum hari ini (22/2) berlangsung anarkis. Baik dari angkutan umum konvensional maupun berbasis aplikasi sama-sama tersulut emosi dan berbuat tak semestinya.

Hari ini saya ada agenda ke Cikini. Oleh karena bekal yang di dompet tinggal pas-pasan saya pun berniat naik angkutan umum ke stasiun. Tapi saya lupa sama sekali jika angkutan KWK yang berwarna merah tujuan Pasar Rebo-Depok juga ikut demo.

Saya sudah was-was melihat banyaknya calon penumpang yang terlantar. Wajah-wajah mereka nampak lelah dan cemas. Pengojek pun mengambil kesempatan mereka menawarkan jasa dengan tarif tak kira-kira. Akhirnya saya memilih naik bus TransJakarta tujuan Kampung Melayu. Ya, dompet sudah menipis. Di satu sisi agak riskan juga memesan gojek di Pasar Rebo dimana ada banyak ojek pangkalan. Pesan gojek/grab bike pun masih harus naik kereta lagi. Duit tak cukup hehehe.

Saat telah masuk bus, saya baru melihat ada bus Mayasari 17 arah Senen. Wah nyesal juga naik bus Trans, biasanya lebih cepat bus kota biasa. Tapi saya juga ragu tol lancar hari ini. Saya sudah memeriksa info tol dimana disebutkan macet parah sejak pagi.

Dari Pasar Rebo ke Kampung Melayu bus Trans berjalan sangat lambat. Ya bagaimana lagi mereka lewat ‘jalur neraka’ Kramat Jati yang makin macet hari ini. Saat di BKN hingga memasuki halte pasca BNN pun berjalan seperti siput. Kemacetan semakin parah karena sudah ada rombongan taksi dan angkutan umum yang bersiap demo.

Setelah tiba di Kampung Melayu saya memilih naik kopaja 502 tujuan Tanah Abang. Lebih cepat. Meskipun Kamoung Melayu terminal pertama untuk rute Kampung Melayu-Senen bukan berarti ada banyak bus Trans J Kampung Melayu-Senen yang melintas. Saya sudah kapok pengalaman Sabtu lalu menunggu bus di Pasar Rebo (Kampung Rambutan-Kampung Melayu dan BKN (PGC-Gtogol) masing-masing hingga 45 menitan dan kemudian masih disuruh oper bus lagi di halte LIPI. Total hampir 3 jam Pasar Rebo-Grogol. Entahlah kenapa bus Trans Jakarta semakin menurun saja kualitas layanannya.

Singkat cerita saya pun tiba di TIM. Selepas acara karena jarang kopaja melintas saya pun berjalan kaki ke stasiun kereta Cikini. Tak sampai 30 menit saya sudah tiba di Stasiun Tanjung Barat. Waktu mau turun baru saya ingat tidak ada angkot 19. Akhirnya saya pun memesan ojek aplikasi. Sambil menunggu saya mengobrol dengan banyak penumpang yang terlantar. Tujuan mereka rata-rata ke Pasar Rebo hingga Taman Mini. Akhirnya mereka menyerah dan naik taksi meskipun ada salah satu yang was-was naik taksi setelah ada kejadian sweeping taksi yang mengangkut penumpang.

Di Depok  saat saya tiba, juga baru ada tawuran antara gojek dan taksi dimana beberapa taksi hendak dikeroyok segerombolan massa Gojek. Sebelumnya di Cikini juga ada aksi yang sama dimana ojek aplikasi juga mengeroyok taksi. Beberapa saksi mata terkejut karena ojek aplikasi dianggap lebih baik dibandingkan angkutan konvensional saat ini. Ternyata sama saja kelakuannya, sama-sama anarkis saat mereka dalam jumlah besar.

Saya tidak membela salah satu pihak. Semua pihak yang demo anarkis maupun ojek aplikasi yang juga berbuat brutal sama-sama salah. Ibarat Civil War saja. Dan yang dirugikan tetap masyarakat pengguna transportasi umum, selain kereta yang untunglah berjalan normal.

Sampai di rumah saya malah menangis. Saya merasa kasihan dengan kedua belah pihak yang menjadi korban juga para masyarakat yang terlantar. Kedua belah pihak tersebut hanya karyawan, kenapa bukan pihak yang menaungi mereka yang memperjuangkan hak mereka. Kenapa mereka seolah lepas tangan?

Pemerintah juga harus sigap menyikapi kejadian ini karena konflik horizontal ini bisa meluas ke berbagai daerah. Satu pertanyaan lagi, kenapa aparat keamanan terlambat datang? Kemana mereka ketika diperlukan?

Regulasi tetap penting. Pajak juga hal yang krusial. Keamanan data pelanggan juga vital. Hal-hal ini harus ada dalam angkutan umum berbasis aplikasi. Jangan karena pemerintah tidak mampu menyediakan angkutan umum yang layak maka regulasi dilanggar.

Sedangkan untuk angkutan umum konvensional, saya harap mereka meningkatkan kualitas mereka. Jangan merokok dan jangan suka ngetem. Tarif pun sebaiknya disesuaikan lagi karena menurut saya cukup mahal, sehingga sulit bersaing dengan angkutan umum berbasis aplikasi.

Untuk pemerintah janganlah memihak. Jangan berkata mogok saja seumur hidup karena masih banyak masyarakat yang memerlukan angkutan umum seperti Kopaja, Metromini maupun mikrolet.

Yang mendukung anggapan tersebut cobalah berempati dengan masyarakat yang tak punya kendaraan pribadi dan hanya mengandalkan transportasi umum yang dibilang kampungan dan kendaraan jaman dinosaurus ini. Saya yakin mereka juga menginginkan bus kopaja dan metromini diremajakan dan supirnya juga taat berlalu lintas. Tapi menyuruh kopaja dan metromini mogok selamanya tanpa memberikan solusi berupa ganti angkutan umum yang lebih baik maka berarti menyengsarakan warga pengguna transportasi umum tersebut.

Tidak semua punya smartphone sehingga tidak bisa mengakses angkutan umum berbasis aplikasi, tidak semua punya kartu untuk naik bus Trans Jakarta. Masih ada golongan yang merasa tarif ojek aplikasi juga mahal untuk rute dekat dibandingkan Kopaja/Metromini yang berkisar Rp 4-5 ribu. Saya sendiri juga merasa kartu bus Trans J perdana sebesar Rp 40 ribu juga kemahalan.

Demo ini harus bisa disikapi dari berbagai pihak. Jangan mudah tersulut emosi dan menyalahkan satu golongan. Cobalah lebih berempati dengan menempatkan diri dari berbagai pihak. Semoga Jakarta tetap berbudi dan tidak menurutkan emosi. Salam Jakarta!

Iklan

~ oleh dewipuspasari pada Maret 22, 2016.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: