Selamat Hari Film Nasional

jingga-cast

Pagi ini sebuah grup chatting ramai membahas film nasional. Waktunya memang pas, hari ini adalah hari perfilman nasional.

Tapi pembicaraan kemudian mengarah ke tiket promo. Hehehe hari film nasional kok tidak ada bioskop atau even yang menyediakan tiket promo nonton fim nasional. Setidaknya untuk hari ini studio-studio yang memutar film nasional bisa ramai dan tidak kalah dengan penonton Batman v Superman yang lagi populer.

Kembali ke perfilman nasional, saya melihat film nasional semakin semarak. Tema-temanya semakin beragam. Tidak hanya horor atau tema cinta-cintaan. Yang juga menarik dicermati, tema-tema yang tidak biasa seperti tema disabilitas dalam film Jingga juga memiliki tempat di pecinta film nasional.

Ya lupakan film horor murahan yang pernah marak beberapa tahun silam, penonton Indonesia saat ini menuntut film-film berkualitas, meski masih banyak juga yang menyukai film-film ringan dan asal mampu membuat tawa.

Untunglah masih banyak sineas film yang konsisten dengan idealismenya dengan melahirkan film-film bermutu, meski terkadang pemasukan dari tiket yang terjual sepertinya tidak sebanding dengan biaya produksi.

Ada dua film berkualitas awal tahun ini dengan tema yang tidak mainstream tapi susah payah meraup penonton. Kedua film tersebut adalah Jingga dan Iseng. Dari data yang dirilis filmindonesia.or.id kedua film tersebut ditonton kurang dari 10 ribu orang.

Jingga meski diperankan oleh berbagai pendatang baru tapi akting dan jalan cerita yang ditampilkan begitu menyentuh. Film tentang empat sahabat penyandang tunanetra ini memberikan gambaran bahwa cacat pada mata bukan semata terjadi sejak lahir, namun bisa terjadi karena berbagai sebab. Bagaimana keluarga menyikapi perubahan fisik anaknya itulah yang dibidik dalam film ini, serta bagaimana sikap Jingga yang pernah merasakan menjadi manusia ‘normal’ harus beradaptasi dengan dunia barunya.

Kebalikan dengan Jingga, Iseng semarak dengan pemain film kawakan seperti Donny Damara, Tio Pakusadewo, Wulan Guritno, dan Donny Alamsyah. Ceritanya adalah sisi gelap kota megapolitan Jakarta dengan penghuninya yang beragam dan memiliki kisah yang ternyata berjalinan dengan kisah-kisah kehidupan lainnya. Dengan nuansa yang gelap, film ini mampu menampilkan kerapuhan di balik ibu kota yang seakan serba glamour.

Kedua film tersebut bagi saya memiliki kualitas yang patut diacungi jempol. Bahkan Iseng dari segi tema sejalan dengan a Copy of My Mind garapan Joko Anwar, sama-sama mengupas sisi gelap sebuah kota besar. Tapi sayang nasibnya berbeda. A Copy of My Mind cukup sukses menarik banyak penonton yang sebagian memang penggemar film-film Joko Anwar sejak Kala dan Pintu Terlarang. Sebagian lainnya penasaran dengan akting Tara Basro yang mampu membawakannya piala FFI 2015. Saya menebak kurangnya animo masyarakat untuk menonton Iseng dikarenakan pemilihan judulnya yang kurang komersial dan promonya yang kurang gencar. Begitu pula dengan Jingga.

Promo film memang penting. Seperti film London Love Story dan Comic 8 Part 2 yang gencar berpromosi dan kemudian berhasil meraih satu juta penonton. Padahal jika kualitas kedua film tersebut dibandingkan dengan Surat dari Praha tentu beda kelas.

Dari kesuksesan kedua film tersebut, terlihat bahwa potensi penonton film nasional terbesar adalah penonton remaja dan kalangan di bawah 25 tahun. Kelompok inilah yang gemar menonton film di bioskop. Sebagian dari mereka lebih menyukai cerita yang ringan, seperti film komedi atau film romantis.

Maaf bahasannya jadi campur aduk. Intinya di sini saya optimis film nasional tetap mendapat tempat di hati masyarakat. Keragaman tema film adalah hal yang menggembirakan dan saya harap sineas film tidak melulu memperturutkan tren demi meraup keuntungan komersil. Saat ini film-film komedi dari stand up comedian memang sedang laris, tapi tidak semua calon penonton penggemar mereka.

Tahun ini ada banyak film bagus yang ditunggu pecinta film nasional. Ada AADC 2 yang gaungnya sudah terdengar sejak tahun lalu. Ada juga Surat Cinta untuk Kartini, film tentang Wiji Thukul, 3 Srikandi, film tentang My Stupid Boss yang diangkat dari buku populer, film tentang Habibie muda dan masih banyak lagi.

Akhir kata semoga tahun-tahun mendatang film nasional makin berkualitas. Siapa tahu tahun depan ada film nasional yang diperhitungkan di ajang Oscar dan ajang penghargaan film dunia bergengsi lainnya.

Keterangan foto: Lola Amaria bersama cast Jingga dan penonton

Iklan

~ oleh dewipuspasari pada Maret 30, 2016.

2 Tanggapan to “Selamat Hari Film Nasional”

  1. Selamat Hari Film Nasional. Btw, kok gak mbahas AADC, Puspa? 😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: