Shita dan Satya

Pria dan dara

Pria itu menghentikan aktivitasnya sejenak. Sudah dua minggu ini ia tak bisa berhenti melukis sketsa dan melekatkan puisi di dalamnya. Sebenarnya aktivitas ini giat dilakukannya karena bisa memupus sesuatu rasa yang ada di rongga hatinya. Sebuah rindu yang ia simpan atas setiap pertemuan Sabtu yang kini tak lagi dilakukannya.

Dara menghapus air mata yang mengalir dari sudut matanya. Nero mendekatinya dan seolah-olah menghiburnya. Seandainya saja ia tak pergi ke pemakaman itu dan menundanya esok harinya, apakah ia masih bisa berjumpa dengan pria itu. Jangan-jangan itu hanya dugaannya. Jangan-jangan pria itu sudah tak kembali sejak hari itu.

Dara merasa ada sesuatu yang menyiksanya. Perasaan yang sama ketika pria yang ada di seberang benua tak pernah lagi mengiriminya pesan dan telpon. Sebuah kisah yang telah disimpannya bertahun-tahun dan dilupakannya. Cerita itu tak kembali, hanya rasa sakitnya yang sama. Kehampaan dan rasa kosong yang menderanya.

Dara tak ingin larut dengan kesedihannya. Ia ingin menuntaskan tulisannya dan mengirimkannya ke editornya. Semakin cepat ia mengirim tulisannya, uangnya akan segera tiba. Ia memerlukan uang segera untuk memperbaiki beberapa bagian rumah yang telah bocor dan lapuk. Rumah ini dicintainya dan ia membuktikan cintanya dengan merawatnya seperti yang dilakukan ibu dan ayahnya.

Menjadi penulis cocok dengan gaya hidupnya yang tak ingin terikat waktu. Dara ingin selalu menikmati waktu dan tak ingin waktu menghilang begitu saja lenyap oleh kemacetan jalanan. Ia lelah dengan lima tahun silam berkutat dengan kemacetan. Waktunya serasa tak berguna karena tersita oleh waktu di jalanan.

Ia tahu karirnya mungkin dinilai tamat atau meredup ketika ia mengundurkan diri dari pekerjaannya. Tapi nasih baik masih mengikutinya. Ia mendapat berbagai pekerjaan yang bisa dilakukannya di rumah. Hanya sesekali ia pergi dan itu menyenangkan baginya karena ia pergi dan tinggal tidak ada yang memaksanya.

Tapi saat ini Dara merasa tersiksa dengan kebebasannya. Ia ingin sibuk agar rasa itu, rasa yang menyiksanya itu menghilang.

Hujan telah membayang dan Dara merasa itu waktu yang tepat. Ia berlari dalam hujan dan menangis. Tangisnya meluap dan ia merasa sedikit lega.

Sketsa itu telah berhasil dituntaskannya. Ia menawarkan ke penerbit. Setelah empat penerbit, penerbit kelima menerimanya dan berani memberi royalti yang lumayan.

Si pria kembali menjadi pria yang sepi. Ia larut dalam kesepiannya yang ia jawab dengan semakin aktif melukis dengan cat minyak atau lewat aplikasi komputer. Energinya meluap-luap dan seakan ia sengaja kerahkan semuanya agar rasa kosong yang menggerogotinya itu pergi.

Sudah empat bulan sejak pria sepi itu terakhir bertemu dengannya. Dara menuju toko buku ketika editornya berkata bukunya telah beredar. Ia ingin mengetahui seperti apakah bukunya di toko buku, apakah terselip di rak yang sepi dari hilir mudik pengunjung, atau di rak yang mudah dijangkau.

Dara tersenyum dan ingin bersorak melihat bukunya berada di etalase yang mencolok perhatian. Nama di buku itu juga jelas tercetak. Shita Lara, nama samarannya.

Dara bersenandung dan kemudian membeli bahan pangan di supermarket. Senyumnya kembali membayang. Ia merasa hidup harus dinikmati dan ia harus bisa melawan rasa sedihnya.

Tak lama setelah Dara pergi, seorang pria berjalan memasuki toko buku itu. Senyum tipisnya menghias wajahnya melihat buku sketsanya berada di rak buku yang direkomendasikan. Ia melihat ada beberapa pengunjung yang membolak-balik bukunya dan kemudian membawanya ke kasir.

Ia melihat jajaran buku yang ada di sekeliling bukunya. Ada novel tentang pohon mangga. Hati kecilnya tertarik tapi ketika melihat nama penulisnya ia tak merasa mengenalinya. Ia pun berlalu dari toko buku itu. Tapi saat ia berada di pintu keluar toko buku itu, ia merasa ingin berbalik. Ia membawa buku dengan nama penulis itu di meja kasir.

Novel tentang pohon mangga itu seolah membawanya kembali ke jalan yang rindang dan buah mangga itu. Ia meneruskan membaca dan merasa sosok Dara sedang bercerita kepadanya. Di sebuah bagian novel ada kata-kata yang persis pernah diucapkan Dara. Ia tersentak.

Di toko buku berbeda seorang produser film yang masih muda sedang asyik memperhatikan buku-buku yang dipajang. Penulis skenario sedang miskin ide. Jika tidak ada ide maka tidak akan ada film yang bisa dibuatnya tahun ini. Ia ingin membuat sebuah film dan biasanya film dari novel yang laris juga akan bernasib sama jika diadaptasi dalam sebuah novel.

Ia tercenung ketika membaca narasi di bagian belakang novel milik Shita Lara. Nama penulis baru. Baru ada tiga bukunya tapi nampaknya karyanya disukai karena ketika menanyakan ke petugas kasir banyak yang membeli novel itu.

Ia melihat-lihat lagi kiranya adalagi novel yang bisa dibuat jadi bahan pertimbangan membuat film, ia melihat lagi di rak buku terekomendasi. Dan melihat sebuah cover yang unik berupa sketsa. Ia melihat isinya dan menyukai sketsa-sketsa di dalamnya. Ia membawanya pulang.

Ia terkejut mendapati tema kedua buku di tangannya itu mirip. Tentang pohon mangga dan di dalamnya ada tokoh kucing. Hanya sudut pandangnya berbeda. Hardi, nama produser itu tertarik akan kebetulan yang ditemuinya. Ia menghubungi tim produksinya. Setelah rapat, ia lalu menghubungi kedua penerbit dan meminta nomor kontak kedua penulis itu.

Dara sangat senang mendapat undangan itu. Meskipun belum pasti, ada harapan bukunya akan dibuat film. Itu berarti akan ada lagi uang tambahan untuk membenahi tangga loteng yang telah lapuk. Loteng itu jarang disinggahinya tapi si Nero suka sekali tidur di sini. Saat pagi hari atau saat hujan, Dara suka menemani Nero di sini.

Dara mengenakan kaus dan jaket favoritnya. Ia juga mengenakan celana jeans dan sneaker kesayangannya. Ia merasa hari ini bakal istimewa sehingga rasanya patut jika ia mengenakan baju istimewanya.

Ia mengecup Nero dan membelai bulunya. Ia siap berangkat.

Hardi menyambutnya. Ada beberapa orang yang hadir di sana,termasuk editornya. Hardi berkata ia menyukai novelnya dan berencana untuk mengadaptasinya dalam sebuah film. Tapi bukan sebuah film biasa, melainkan film animasi. Belum banyak film animasi romansa di Indonesia, tapi ia yakin bakal sukses.

Dara merenung novelnya sebenarnya bukan romansa, hanya sebuah novel yang sebenarnya bercerita tentang dirinya dan kecintaannya pada pohon mangga miliknya. Apakah kiranya novelnya bisa menarik penonton ke bioskop? Ataukah produser tersebut akan mengubahnya menjadi sebuah kisah romansa. Dara menebak-nebak.

Seorang asisten menanyakan ke Hardi apakah rapatnya akan dimulai. Hardi meminta mereka menunggu sejenak, karena akan ada seorang lagi yang mereka tunggu dan ia sedang menuju ke ruang pertemuan. Mereka diam dan menunggu, lalu sebuah pintu diketuk dan dibuka. Semua pandangan terarah ke orang yang datang tersebut.

Tidak ada di antara mereka yang ada di lokasi pertemuan yang demikian terkejut seperti reaksi Dara kepada pria yang memiliki nama pena Raka Satya tersebut. Keduanya saling bertatapan dan seperti tak menyangka akan pertemuan tersebut.

Dara tak memahami pembicaraan dalam pertemuan itu. Ia hanya ingin kabur dari pertemuan tersebut. Hatinya bingung, ia tidak tahu apakah ia senang atau hancur akan pertemuannya dengan pria tersebut.

Ia baru tersadar ke dunia masa kini ketika Hardi menyebut namanya. Ia berkata tertarik membaca novel karya Shita, lalu ia terkejut mendapati buku sketsa yang memiliki tema yang sama dan menarik karena berkat sketsa di dalamnya. Kedua buku ini seolah saling melengkapi dan seperti sebuah takdir ketika buku itu juga sama-sama laris dan berada di posisi yang berdampingan.

Pria itu terdiam. Hatinya sebenarnya sudah berkata bahwa penulis novel itu adalah Dara. Tapi ia tak tahu apa yang akan ia lakukan. Melihat Dara di sini baginya sebuah anugerah, tapi ia tak tahu apa yang akan ia ucapkan.

Saat pertemuan itu usai, pria itu ingin bercakap-cakap dengan Dara. Tapi gadis itu telah lenyap.

Dara berjalan dalam hujan. Ia merasa kacau. Ia merasa bermimpi. Ia tidak tahu apakah pertemuan itu jawaban mimpinya atau malah mimpi buruk.

Musim hujan telah berlalu. Pohon mangga telah mengeluarkan bunganya. Dara tersenyum karena pohon mangga tua itu sepertinya kembali berbuah. Dara menebak-nebak apakah ada buah yang masak.

Dara asyik membersihkan halamannya. Ia tak menyadari ada yang mengetuk pagarnya. Ia membuka pagarnya setelah si pengetuk hendak pergi. Ia melihat tamunya yang bertopi. Tamu itu memperlihatkan tangannya yang berisi buah mangga dan menunjuk pohon mangganya. Dara masih terpana. Senyumnya kemudian merekah ketika tamu itu melepas topinya.

Ketika film itu dirilis, kedua penulis itu nampak dikerumuni penggemar sekaligus penonton film itu. Mereka seolah bintangnya. Shita dan Satya nampak serasi dan di jari Shita nampak sebuah cincin.

Shita dan Raka

Sumber gambar: satu dan dua

Iklan

~ oleh dewipuspasari pada Juli 11, 2016.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: