Anak Bermain Gadget? Sah-sah Saja

Seminar gadget ramah anak

Kalian mungkin sudah sering melihat orang tua menyodorkan gadget ke buah hatinya agar tidak menangis. Pemandangan balita yang asyik bermain gadget bukan sesuatu hal yang asing. Adakah plus dan minusnya mengenalkan gadget sejak dini?

Dalam acara yang dihelat Mommies Daily dan Samsung Galaxy Tab A di Letter d’ Cuisine, Sabtu (23/7) para Ibu-ibu mendapat pencerahan tentang plus minusnya anak SD atau sejak batita mendapat permainan gadget. Temanya memang mengarah ke situ dan kekinian yaitu Jadikan Gadget Teman si Kecil.

Gadget mungkin ibarat video game jaman dulu. Sejak TK sih saya dulu juga sudah kenal dengan aneka games tapi baru mencandunya ketika masuk SD. Tapi kecanduannya masih normal sih, ada teman bermain ya bermain yang lain seperti gobak sodor, main tali, main tamiya, boneka, dan bongkar pasang hehehe.

Dibandingkan video game, gadget lebih pandai menguasai pemainnya sehingga rasanya dengan ber-gadget bisa apa saja. Bisa bermain, nonton video dan mendengarkan musik, juga ngobrol. Alhasil anak kecil seringkali nampak anteng bergadget.

Sekitar pukul 09.30 ruangan telah penuh terisi. Di belakang ada ruang bermain anak seperti lego, kuda kayu, tenda mungil dan sebagainya, sehingga anak-anak yang diajak peserta asyik bermain di situ, sementara ibunya mendengarkan materi.

Psikolog cantik Anna Surti Ariani pun kemudian menjelaskan hal-hal seputar gadget dan kebiasaan anak. Selain menjelaskan dan tanya jawab, ia mengajak peserta membentuk grup untuk berdikusi dan mengemukakan pendapatnya.

Saat batita diberi gadget maka biasanya ia gigit, banting, atau dilempar. Baru setelah berusia tiga tahun ia mulai bisa mempergunakannya. Si anak 3-5 tahun biasa mempergunakan gadget untuk bermain, nonton, dan berkomunikasi dengan orang tuanya. Lalu pada usia 6 tahun ke atas aktivitasnya dengan gadget bertambah, yaitu berkomunikasi dengan teman-temannya, bermedsos, memotret, bermain game, dan belajar.

Plus minus ber-gadget itu memang ada, seperti halnya menonton teve, menggunakan alat masak, dan sebagainya. Nah, saya coba rangkum yang minusnya dulu.

Minus ini terjadi karena penggunaan smartphone ataupun tablet yang berlebihan. Minus ini bisa dalam hal fisik dan motorik; kognitif dan bahasa: emosi dan sosial. Dari segi fisik dan motorik maka keterlambatan tumbuh kembang, kesulitan menulis, obesitas karena kurang bergerak, diabetes, gangguan sensori, dan gejala insomnia.

Dari segi kognitif dan bahasa, maka bisa terjadi kesulitan berkonsentrasi, prestasi menurun, dan daya ingat bermasalah. Sedangkan dari segi emosi dan sosial maka ia bisa kecanduan, kesepian, cenderung agresif, kurang mengenali emosi diri dan mengendalikan diri, serta mudah cemas.

Sedangkan segi positifnya juga tak kalah banyak. Dengan menggunakan smartphone ataupun tablet maka si anak akan dapat memperluas wawasan, mudah mencari informasi, bisa bereksplorasi, mampun berpikit strategis dan kreatif, serta membantu untuk mempelajari berbagai bahasa.

Agar tidak mempergunakannya secara berlebihan maka Nina menyarankan waktu penggunaan smartphone bagi anak usia 3-5 tahun yaitu satu jam. Setelah itu coba alihkan ke aktivitas lain yang membuat anak bergerak atau belajar membaca, bersosialisasi, dan sebagainya. Begitu pula dengan anak yang lebih tua, enam tahun ke atas tetap perlu dibatasi, yaitu dua jam.

Anak-anak yang telah remaja juga perlu diberikan aturan penggunaan smartphone di rumah. Misal jangan menggunakannya saat makan bersama. Atau bisa juga dengan jam tidur, misalnya jam 10 malam sudah harus tidur agar segar saat beraktivitas di sekolahnya.

Bagi anak-anak balita, agar mereka tidak bisa lagi memainkannya sesuai batasan waktu maka orang tua bisa menutup steker, memberikan smartphone dengan baterai pas-pasan dan tidak menyediakan charger.

Saat ini di pasaran juga tersedia gadget yang ramah anak. Jadi orang tua tidak merasa was-was saat si kecil mempergunakan gadget tersebut.

Fiturnya di antaranya mode anak, sehingga saat gadget di mode anak maka ia tidak bisa menggunakan fitur seperti browsing dan sebagainya. Saat fitur anak, orang tua bisa mengatur hanya permainan anak dan lagu-lagu anak yang tersedia, juga video-video lucu dan edukatif khas anak.

Juga ada batasan penggunaan gadget yang bisa diatur, sehingga setelah melebihi waktu tersebut si anak tidak bisa lagi mempergunakannya. Saat orang tua sibuk dan anak diasuh baby sitter maka Ibu tidak was-was si anak bermain gadget berlebihan.

Dalam gadget yang ramah anak juga ada rapor aktivitas anak ber-gadget. Apa saja yang tertera dalam rapor itu? Yakni waktu pemakaian dan aplikasi apa saja yang sering dimainkan si anak. Alhasil orang tua juga bisa tahu minat dari si anak sejak dini.

Si buah hati bisa diajak bermain lego daripada terus-terusan terpapar gadget

Iklan

~ oleh dewipuspasari pada Juli 24, 2016.

2 Tanggapan to “Anak Bermain Gadget? Sah-sah Saja”

  1. kalo dulu gadget kebanyakan kaya hp tuh cuma buat sms atau nelpon, dulu pas saya sma ada razia hp, dipikir pikir hp saya yg kena razia tuh cuma ada fungsi telpon,sms ama radio udah gak ada yg aneh2 lagi, tapi kalo jaman sekarang sih udah macem2 bgt

    • Hehehe bener. Dulu razia hape mungkin dianggap ganggu konsentrasi jika bunyi sms atau telpon di kelas. Tapi sekarang memang bisa dipake macem-macem, termasuk nyimpan kunci jawaban:p

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: