Ketika Mulai Berinvestasi di Pasar Modal

Pasar modal

Sejak menikah saya jadi makin melek terhadap pengelolaan keuangan. Sebelum menikah saya hanya berkutat di deposito dan tabungan rencana, setelah menikah baru kemudian belajar tentang pasar modal. Rupanya berinvestasi di pasar modal tidak cukup dengan pengetahuan tapi juga kontrol emosi dan berhati-hati.

Sebagai pemula maka saya pun nyemplung di obligasi dan reksadana. Hemmm nyesal juga tidak ikut ORI perdana, dulu bunganya bisa sampai 12%/tahun, akhir-akhir ini tidak terlalu beda jauh dengan bunga deposito, sekitar 7-9%. Tapi memang jika dibandingkan dulu bunga atau yield atau juga disebut imbal hasil itu begitu menurun. Dulu sekitar tahun 2008-2010, bunga deposito masih berkisar 6-8 %, akan tetapi sekarang hanya sekitar 5%. Bunga tabungan rencana atau tabungan rutin bulanan malah semakin turun.

Obligasi sebenarnya tidak beda jauh dengan deposito, hanya kurun waktunya lebih lama, 3-5 tahun. Cara membelinya bisa lewat bank atau institusi keuangan lainnya.

Nah, setelah praktik membeli obligasi, oh ya obligasi ternyata bukan hanya pemerintah yang mengeluarkan, BUMN juga bisa, akhirnya saya mencobai berinvestasi di reksadana. Ada empat jenis reksadana, pasar uang, campuran, pendapatan tetap dan saham.

Saya memulai berinvestasi di reksadana dari tahun 2011 hingga sekarang. Awalnya membeli di bank Mandiri, tapi ribet, harus datang ke cabang dan tidak semua cabang memiliki petugas yang paham. Kalau untuk setoran bulanan otomatis sih enak, tapi tidak enaknya model saya ini yang tidak setiap saat atau insidentil. Waktu itu saya mencobai produk Schroeder dan Mandiri (MiPu dan MiDo). Hasilnya lumayan, lebih besar daripada deposito. Waktu membeli rumah, maka seluruh reksadana saya ambil karena memang sedang sangat perlu.

Baru setelah urusan membeli rumah beres, meskipun masih mengangsur, saya kembali membuka reksadana tapi kali ini di bank Commonwealth. Alasannya kustomer bisa membeli secara online produk reksadana. Hanya perlu datang sekali saat membuka rekening dan melakukan pendaftaran reksadana. Waktu itu pembukaan rekening minimalnya Rp 500 ribu. Enaknya jaman itu tidak ada minimal saldo dan biaya administrasinya rendah. Sekarang minimal saldo adalah Rp 100 ribu dan biaya administrasi bulanan adalah Rp 10 ribu.

Meski makin memberatkan nasabah saya masih betah bertransaksi di Commonwealth. Kita dapat memantau besaran reksadana secara online. Dari hasil pantauan beberapa bulan ini, yang bisa diandalkan malah pasar uang dimana harga NAB-nya terus naik. Sedangkan kategori pasar modal dan pendapatan tetap untuk beberapa waktu ini tertekan. Rasanya ada kaitannya dengan situasi politik saat ini.

Oh ya saya juga pernah bertransaksi di DOne milik BUMN Danareksa. Di sini juga bisa membeli obligasi, reksadana juga jual beli saham. Dulu saya kenal saham dari sini, sekitar tahun 2012. Saya mengikuti kelasnya secara cuma-cuma dari tingkat dasar, menengah, dan expert. Di sini diajarkan cara membaca grafik, membuat analisa, dan sebagainya. Seru.

Saham
Saya juga punya kawan-kawan yang suka berbagai info tentang outlook dan rekomendasi saham. Masa itu 1 lot masih 500 lembar sehingga harga saham bisa dibilang lumayan. Yang bisa dijangkau adalah saham lapis dua. Untuk saham lapis pertama modalnya bisa jutaan masa itu.

Waktu itu rasanya seru melakukan jual beli saham. Saya sih tidak kemaruk, mungkin rata-rata hanya untung 10-50 ribu perhari. Modalnya juga kecil. Yang saya jual belikan hanya saham lapis dua dan tiga, sedangkan saham lapis pertama saya simpan. Beberapa kali dapat dividen, meski terbilang kecil saya pun bersyukur.

Pengalaman bermain saham ada suka dukanya. Positifnya saya jadi rajin baca berita dan mengetahui berbagai perusahaan yang dulu asing di telinga. Rumor ternyata besar pengaruhnya di pasar saham. Misal sebuah perusahaan disebut-sebut akan berekspansi usaha, eh bisa jadi besoknya harga saham melonjak.

Yang lucu adalah aksi goreng-gorengan. Kadang-kadang bengong kok ada saham murah tapi kok tiba-tiba melambung. Ternyata lagi ada aksi goreng-menggoreng. Saya pernah ikut-ikutan hehehe, untung ga lama-lama. Untung 10 ribu langsung saya jual. Saya dimarahi teman ikut-ikutan aksi tersebut, tidak baik. Tapi ia ngaku juga pernah melakukan hit and run.

Pernah suatu ketika IHSG bergejolak sehingga banyak saham yang terkoreksi. Saya was-was tapi diam saja, siapa tahu besok membaik. Eh ternyata berlanjut terus menurun. Waduh perasaan makin tidak enak. Sebelum rugi makin banyak, akhirnya saya jual. Eh beneran harga makin nyungsep. Jikapun mau naik lagi waktu recovery-nya bakalan lama.

Waktu di pelatihan saham, aku lihat beberapa orang nampak serius dan tertekan. Ketika kuajak ngobrol ternyata ada yang sampai rugi berjuta-juta. Temanku bilang kakaknya pernah rugi hampir dua Miliar dan ia nampak stress. Busyet deh.

Saat ini aku mundur dari dunia saham dan hanya berinvestasi di reksadana. Saya belum menemukan tempat trading yang peduli pada nasabahnya, dimana biaya pemakaian aplikasinya gratis dan hanya dipungut biaya jual dan beli. Tempat saya dulu tiba-tiba memberikan tarif Rp 35rb/bulan untuk jasa pemakaian aplikasi dimana saya rasa memberatkan. Jikapun ada biaya saya rasa disamakan saja dengan biaya administrasi bank karena saya hanya rumahan, bukan mereka yang memang bekerja di pasar saham.

Saya sangat setuju dengan Ellen May bahwa musuh terbesar dari bermain saham adalah ego. Saat nafsu serakah menguasai dan bermain emosi maka logika bisa tertutupi. Ellen melakukan jual beli saham seperti berjualan produk lainnya. Ia memberikan batas keuntungan dan batas kerugian. Jika sudah berada di ambang tersebut, maka putusan berikut adalah jual atau beli. Jadinya saat rugi, tidak rugi-rugi amat. Sebaliknya saat untung juga tidak serakah. Karena dunia saham itu dinamis dan bisa mudah berbalik.

Oh ya saat ini 1 lot saham adalah 100 lembar. Jadi tentunya siapapun bisa berinvestasi di pasar saham. Lebih baik Kalian memulai sekarang agar hasilnya bisa lebih besar. Tapi tetap berhati-hati dan kendalikan emosi.

Iklan

~ oleh dewipuspasari pada Desember 14, 2016.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: