Kisah-Kisah Berdigital Marketing

img_20170218_190531-240x316

Berhenti dari pekerjaan rutin seminggu dua minggu mungkin menyenangkan. Tapi ketika setahun dua tahun cuti bisa menjadi permasalahan baru bagi mereka yang terbiasa sibuk. Ada yang kemudian menyiasatinya dengan berbisnis memanfaatkan media sosial. Ada yang berhasil, ada pula yang merasa gagal. Kalian masuk manakah?

Kedua kakakku yang mula-mula merambah memanfaatkan media sosial untuk bisnis sampingannya. Kakak pertama berhenti dari pekerjaannya di bidang statistika dan sibuk menjadi ibu rumah tangga. Saat ia merasa rindu dengan pekerjaannya yang mendatangkan penghasilan, ia teringat akan talentanya dalam membuat benda kerajinan. Ia lalu menjual aneka produk dari kain flanel dan ditawarkannya ke teman-temannya melalui akun di facebook. Eh rupanya responnya positif. Ia kemudian membuat blog bernama maiaflanel dan memajang berbagai produknya di situ dengan tetap aktif memamerkan benda kerajinannya di facebook. Ia pun kewalahan melayani pesanan, hingga ia merekrut beberapa orang untuk membantunya.

Kakak kedua punya usaha tahu bakso. Usahanya lumayan dengan menitipkan jajanannya ke toko-toko kue. Ia menambah jalur pesanan via artikel di blog dengan mencantumkan nonor yang bisa dihubungi. Ya ada imbas dari artikel tersebut. Ada saja yang memesan lewat jalur tersebut.

Saya sendiri belum berpengalaman menekuni usaha jual-beli terutama secara digital, oleh karenanya saya masih perlu banyak belajar dan terus belajar. Pengalaman saya berjualan yaitu berjualan buku buatan sendiri dan menjual cokelat praline bersama kawan-kawan. Sejak beberapa waktu lalu saya menjual buku, baik buku baru maupun buku bekas koleksi pribadi.

Berjualan memang lebih enak jika produknya sesuai dengan minat. Dulu saya ogah-ogahan menjual produk sebuah MLM karena saya sendiri merasa harga produknya kemahalan, tapi dengan menjual buku saya merasa senang dan tidak terbebani karena saya menyukainya.

Saya menjual buku lewat blog kisahbuku. Di situ saya kupas buku tersebut lewat ulasan kemudian saya deskripsikan kondisinya apakah bukunya baru atau bekas koleksi pribadi, kondisi sampul dan isinya dan sebagainya agar pembeli tak kecewa. Saya sendiri menganggap pembeli buku di kisahbuku adalah unik karena buku-buku yang saya jual sebagian termasuk segmented. Saya senang buku-buku saya punya rumah baru dan pemilik baru yang menyayanginya.

Penjualannya memang belum seperti toko buku online terkenal. Koleksi bukunya belum banyak dan pembelinya juga tidak tiap hari datang. Tapi jika ada yang membeli biasanya borongan, langsung membeli cukup banyak karena harganya juga terjangkau.

Selain punya blog, saya juga punya halaman tapi belum begitu saya fungsikan. Saya buat tautan ke arah blog dengan memasang foto menarik.
Saya juga mulai menjajagi marketplace dan menaruh beberapa buku di saja, tapi sejauh ini belum menunjukkan hasil signifikan karena buku yang saya jual belum banyak.

Beberapa waktu lalu saya membeli domain dotcom dan membuat blog khusus buku berjudul Keblingerbuku. Rencananya nanti konten di blog KisahBuku akan saya pindahkan ke KeblingerBuku. Saya juga menyiapkan email, twitter dan instagram dengan nama yang sama yaitu keblingerbuku. Rencananya blog Keblingerbuku akan membahas semua hal tentang perbukuan dari ulasan buku, even terkait buku dan promo buku yang saya jual. Buku-buku juga telah saya foto satu persatu untuk saya masukkan di akun instagram.

Instagram keblingerbuku

 

Saya ingat dulu seorang pembicara di sebuah workshop tentang penjualan di era digital mengingatkan pentingnya memiliki media sosial dengan nama akun yang sama agar lebih mudah. Selain masalah harga, juga penting dalam mengisi konten dengan hal-hal menarik untuk menarik pengunjung. Untuk jasa digital marketing Jakarta seperti ABAH Digital Marketing Specialist” bisa dipertimbangkan.

Kendala yang saya alami saat ini adalah belum fokus. Energinya masih berada di tempat lain yaitu menulis sesuka hati dan belum fokus untuk menyiapkan budget khusus untuk modal membeli buku, menyiapkan rak khusus karena buku rawan rusak. Tapi suatu saat saya juga ingin mengikuti mereka yang sukses dengan bisnis digitalnya. Saat itulah saya harus mengerahkan segala energi dan mengoptomalkan media sosial agar berhasil.

blog-writing-competition-768x768

Iklan

~ oleh dewipuspasari pada Februari 18, 2017.

3 Tanggapan to “Kisah-Kisah Berdigital Marketing”

  1. gudlak di lomba ini mbak, sukses keblingerbuku nya, jgn lupa colek2 🙂

  2. Bagi seorang penulis seperti mba Dewi Puspasari ini, tak perlu bingung mencari uang. Karna tak ada jasa penulis yang tak menguntungkan. 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: