Lapar Mata Saat Bulan Puasa

Aku tersenyum membaca judul sebuah artikel “Berpuasalah Seperti Ulat, Jangan Seperti Ular”. Judul itu mengingatkanku untuk lebih mengendalikan mata dan nafsu agar tidak mudah lapar mata.

Cuaca Jakarta pada bulan Mei ini begitu gerah. Hawa di rumah juga ikut panas, kecuali rumah ber-AC. Rasanya ingin berendam atau mandi berulang kali untuk meredamkan hawa panas ini. Ya, seperti tahun lalu ujian puasa saat ini adalah hawa panas sehingga rasanya mata mudah tergiur melihat sesuatu yang dingin.

Saat kami berdua berbelanja bumbu dan lauk di pasar, di sepanjang jalan banyak pedagang jajanan dan aneka minuman untuk takjil. Banyak sekali pedagang makanan dadakan, rasanya setiap lima meter sekali ada dan menunya rata-rata sama. Ada gorengan, lontong yang berisi kentang dan pedas, juga wadah makanan berkuah seperti candil, kolak, coctail buah, es degan aneka rasa dan es lainnya.

Diam-diam saya perhatikan menu yang dijual. Wah kok rata-rata sama dan penampakannya mirip ya. Apakah dari satu produsen. Ketika melihat seseorang penjual menuangkan sebuah minuman dari wadah besar, seketika aku tak berselera. Esnya juga dari balok-balok es yang dibawa oleh truk. Apakah esnya dari air matang?

Ketika pasangan meminta membelikan bubur candil dan sumsum di sebuah pedagang aku agak ragu. Sebenarnya aku lebih suka membeli minuman seperti es degan atau jajan pasar yang penjualnya sudah kukenal. Memang sih buburnya nampak menggoda. Harganya masih masuk hitungan yaitu Rp 5 ribu.

Setelah bubur, pasangan masih mengincar makanan terbuat dari ketan. Lupis, namanya. Jajan ini diberi kelapa dan disantap bersama kinca atau larutan gula merah. Harganya 10 ribu untuk tiga lupis.

Semakin mendekati waktu Maghrib, jalanan makin padat. Sepertinya orang-orang padha ingin ngabuburit. Bahkan beberapa ruas jalan pun mampat karena tak ada yang mengalah.

Singkat cerita di rumah ada tiga jenis kudapan, pisang goreng buatan sendiri, lupis, dan bubur candil. Wah aku ikutan lapar mata dan tergoda menyantap bubur sumsum dan candil.

Waktu kubuka tutupnya, aku mendadak merasa mual. Bahan kimia tercium menyengat. Aku langsung tidak berselera. Punya pasangan juga sama, tapi katanya sih rasanya masih tidak apa-apa. Enggan sakit perut maka aku pun tidak menyantapnya.

Lupisnya sih enak. Aku menyantapnya sebuah dan merasa cukup. Pisang goreng juga kucomot sebuah. Wah rasanya sudah kenyang.

Pelajaran sih buatku untuk tidak lapar mata dan berhati-hati memilih menu takjil yang dijual di jalan.

Iklan

~ oleh dewipuspasari pada Mei 28, 2017.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: