#CatStories Anak Kucing Buta

Pagi-pagi begini halaman rumah sudah ramai. Kucing-kucing nampak asyik bertelekan menikmati sinar matahari. Sebagian besar dari mereka kucing liar, lainnya kucing tetangga. Si Mungil sibuk bergulingan di halaman. Sementara Nero malah asyik meringkuk di sofa.

Aku melengos ketika melihat seekor induk kucing dengan santainya menerobos pagar. Di samping kanan kirinya nampak empat anak kucing. Waduh jangan-jangan mereka hendak menetap di sini? Aku merasa was-was. Sudah cukup ada si Nero dan si Mungil, keluhku.

Menambah jumlah kucing bukan sekedar menambah waktu untuk merawat dan menambah biaya bagi keperluan makanan mereka. Ada sesuatu yang kuhindari, yaitu menjalin emosi.

Dengan santainya si induk kucing mendekati tempat minum yang sengaja kusediakan bagi para kucing. Ia menyedot air di ember tersebut nampak kehausan. Aku jadi merasa kasihan. Tentunya menjadi induk kucing itu cukup berat. Anak-anak kucingnya pun tak sabar hendak menyusu.

Anak kucing itu nampak kotor dan kurus. Warna bulunya belang kecokelatan, hitam, kelabu dan putih hitam. Mungkin kalau mereka sudah bersih bakal lebih manis.

Perhatianku kemudian terpaku ke seekor anak kucing. Sementara tiga saudaranya tekun menyusu, ia masih berkeliaran. Ia nampak kebingungan mencari induknya.

Ia anak kucing buta.

Ada sesuatu pada matanya. Penglihatannya bermasalah. Ia selalu ketinggalan akan urusan menyusu dan mendapatkan makanan. Ia tertatih-tatih berjalan.

Anak kucing itu membuatku prihatin. Si Mungil yang penuh kasih terkadang membantu membersihkan tubuhnya. Matanya yang besar nampak bergerak-gerak. Mungkin ia berterima kasih ke si Mungil.

Anak kucing buta itu bergerak ke sini dan ke sana. Ia mengandalkan hidungnya untuk meraih makanan dan susu induknya. Beberapa kali tubuhnya hampir terjatuh ke ember penuh air.

Satu-persatu kucing itu tidak bertahan lama.Penyakit kucing kecil yang masih perlu air susu induknya dan kasih.

Induknya tega menghilang. Melakukan kesalahan lama berulang. Rupanya ada induk kucing yang suka menelantarkan anaknya.

Dua kakaknya telah tiada. Seekor kucing berwarna putih dengan motif hitam pun menyusul. Yang bertahan hanya si anak kucing buta.

Ia masih kurus. Pekerjaannya meringkuk di antara pot-pot tanaman. Tapi nalurinya mulai terasah.

Bila kubuka pintu depan, ia langsung berlari kencang. Terkadang ia menabrak ini dan itu. Kasihan.

Anak kucing buta tersebut kemudian menghilang. Rupanya ia dibuang tetangga yang merasa kucing-kucing mencemari lingkungan.

Halaman rumahku tidak seramai dulu. Entah kemana para kucing liar itu sekarang tinggal.

Apa kabar si anak kucing buta? Mungkin ia sudah di alam baka dengan mata yang terbuka lebar.

Gambar dari shutterstock

Iklan

~ oleh dewipuspasari pada Juni 3, 2017.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: