Nasi Goreng Saat Ramadhan?

Nasi goreng buat menu berbuka atau sahur? Apa nggak bikin serat dan kering di kerongkongan? Nggak juga tuh, asal racikannya pas.

Nasi goreng yang terkenang saat tumbuh dan besar di kota Malang adalah Nasi Mawut. Nasi goreng ini enak banget, ada perpaduan nasi goreng, mie dan kemudian potongan daging sapi dan suwiran daging ayam. Penjualnya menggunakan saus tertentu yang membuat nasi goreng berwarna merah dan lezat.

Kalau untuk buatan Mama, yang paling kusukai adalah Nasi Goreng Jelantah, yaitu nasi goreng berwarna putih kekuningan dengan menggunakan minyak sisa penggorengan. Jenis nasi goreng ini cocok disantap dengan ikan teri. Tapi rasanya memang lebih kering dibandingkan jenis nasi goreng pada umumnya.

Saat berkuliah dan bekerja di Surabaya, aku jadi menyukai nasi goreng, baik yang dijual keliling atau yang punya tempat mangkal. Nasi gorengnya itu beda dengan buatan sendiri yang menggunakan bumbu kecap atau bumbu tomat. Nasi goreng Surabaya memiliki warna merah dengan suwiran ayam. Rasanya enak banget. Dulu jika lelah mengerjakan tugas di kampus atau kecapekan bekerja sebagai juru tinta, aku menghibur diri dengan nasi goreng ini. Jaman dulu murah meriah. Di kampus dijual dengan harga Rp 3 ribu, sedangkan di warung tenda Chinesse Food berkisar mulai Rp 4 ribu. Lidahku pun kemudian berdecak menikmati petualangan rasa.

Rupanya nasi goreng Jakarta berbeda. Rata-rata menggunakan kecap. Saat magang di Jakarta, aku suka membeli nasi goreng di kawasan Warung Buncit. Harganya lumayan terjangkau yaitu Rp 4 ribu. Yang favorit adalah nasi goreng susis yang berlimpah dengan irisan susis atau nasi goreng terasi dan nasi goreng ikan asin. Rasanya unik sih untuk dua jenis nasi goreng terakhir, sedikit mirip dengan nasi goreng jelantah ala Mama.

Baru kemudian aku mengenal nasi goreng kambing. Wah rasanya nikmat berkat potongan daging kambing. Nyam…nyam…nyam.

Berbeda dengan penjual nasi goreng keliling di Surabaya yang rata-rata nasi gorengnya enak, di Jakarta tidak semua nasgornya rasanya bisa kuterima. Seringkali rasanya minimalis banget. Kalau tidak berasa kecap ya sambal tomat, malah terkadang hambar.

Kembali ke tentang nasi goreng untuk menu sahur atau menu berbuka. Sebenarnya sih sah-sah saja asal tetap ada nutrisi lainnya seperti buah-buahan, sayuran, dan air putih. Soalnya nasi goreng itu cenderung berminyak dan bikin kering kerongkongan. Kalau misalkan membikin sendiri nasi gorengnya maka bisa ditambahkan sawi hijau agar lebih sehat.

Sreng…sreng…masukkan bumbu lalu setelah harum kemudian masukkan nasi berikut sawi hijau, suwiran ayam dan saus. Kemudian masak hingga matang dan bumbu tercampur rata. Jadilah nasi goreng.

Iklan

~ oleh dewipuspasari pada Juni 19, 2017.

2 Tanggapan to “Nasi Goreng Saat Ramadhan?”

  1. Saya pun suka nasi goreng, bila berbuka dan sahur

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: