Praktik Resep Kue Kering, Kadang Gosong Kadang Kurang Matang

Lebaran itu punya berbagai kekhasan. Di kampung halaman, di Malang, setiap lebaran selalu ada opor ayam dan telur bumbu petis, galak gampil dan beragam kue kering. Entah sejak kapan kue kering ini menjadi ciri unik saat Idul Fitri. Tapi gara-gara tradisi tersebut, kami dulu suka praktik resep kue kering yang kami koleksi. Tidak semuanya berakhir baik, kadang ada yang gosong, kadang juga kurang matang.

Di Malang ada sebutan tersendiri untuk kue kering yaitu jajan pan-panan. Maksudnya adalah kue yang dipanggang dengan oven. Sebenarnya kalau ditelaah sih tidak semua kue kering dipanggang ya, bisa jadi ia digoreng seperti stik keju. Dan, ada beragam kue lainnya yang juga dipanggang seperti cake, roti, pizza, pastri, dan puding panggang. Tapi biasanya orang paham apa yang dirujuk dengan jajan pan-panan.

Kue kering yang umum dijumpai di tiap rumah itu ada tiga jenis, yaitu kue semprit yang berbentuk bunga dimana biasanya dihiasi sukade warna-warni ataupun selai, nastar dengan isian selai nanas dan kastengel yang berasa asin. Hampir di setiap rumah punya salah satu atau semua jenis kue kering tersebut. Lainnya ada kue lidah kucing, sus kering, pastel kering isi abon, stik keju, stik bawang, kue jahe, dan kue-kue kering modern yang memiliki bentuk lucu-lucu dan isian beragam.

Dulu biasanya ayah membeli kue kering jelang lebaran. Kue kering yang dibelikan ayah punya bentuk menarik, ada yang bentuk kupu-kupu, beruang, dan beragam hewan lainnya dengan rasa dominan cokelat. Sedangkan Ibu suka memesan kue semprit dari kakak perempuannya. Kue semprit milik budhe itu memiliki rasa enak dan tekstur unik karena tidak melalui proses pencampuran dengan mixer, bentuknya biasanya bunga atau bergelombang, dengan taburan misis atau selai.

Waktu kedua kakakku mendapat pelajaran memasak, baru kami suka membuat kue kering sendiri. Resepnya rata-rata adalah bangket kacang yaitu kue kering dengan kacang sangrai halus. Bahannya sih standar, telur, margarin, pengembang kue, gula, dan tepung terigu. Bedanya hanya terletak pada tambahan kacang. Kakak juga diajari membuat nastar. Yang sulit di sini adalah nastarnya menggunakan selai nanas buatan sendiri. Nanas yang telah dihaluskan itu kemudian dicampur gula kemudian dimasak hingga mengental. Untuk membentuk agar kue keringnya seperti yang dijual maka perlu cetakan nastar. Bahan nastar sih sama, cuma biar lebih harum maka ditambahkan roombutter.

Nah, waktu giliranku mendapat ilmu memasak kami diajari membuat kastengel. Tapi kastengelnya tidak pakai keju, melainkan kaldu ayam bubuk. Kami menggunakan merk margarine beken dimana memberikan efek wangi yang gurih. Lalu efek asin seperti keju diganti dengan kaldu ayam bubuk. Ternyata bikin kastengel tidak mudah karena ukurannya yang lebih tebal.

Ada beberapa kelompok yang kastengelnya kurang matang, ada juga yang gosong di satu sisi. Hihihi guru memasak pun ngamuk-ngamuk. Kelompokku sendiri waktu itu dapat nilai delapan. Rahasianya, kawanku telaten memindahkan bahan kastengel dari lapis bawah ke lapis atas. Waktu itu kami menggunakan oven nangkring di atas kompor, jadinya harus rajin memindahkan bahan dan memeriksanya agar matang beneran. Jika belum tanak bisa-bisa bikin sakit perut.

Saat ini aku juga bikin kue. Cuma gara-gara rumah direnovasi jadinya pakai bahan dan alat seadanya. Aku tidak menggunakan resep kue kering di internet, hanya resep kue kering yang kuingat dan standar.

Memanfaatkan bahan seadanya maka aku pun membuat kue kering

Jadilah kue semprit dengan taburan keju yang dibentuk asal-asalan dengan ditekan menggunakan garpu karena cetakan kue kering entah kemana. Saya tidak menggunakan oven nangkring atau otang, melainkan hanya wajan bertutup. Waktu itu saya juga pernah bikin cake tipis dan schotel menggunakan wajan ‘gembira’ ini dan lumayan berhasil.

Tapi kata suami rasanya lumayan enak dan habis dimakan kami berdua. Untuk disajikan pas lebaran kami pun beli kue kering wajib, ada nastar dan kastengel.

Bentuknya kurang menarik tapi ludes juga

Iklan

~ oleh dewipuspasari pada Juni 21, 2017.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: