Kopi dan Pertemanan

Pertemanan bisa lahir dari mana saja. Perekatnya beragam, bisa dari hobi dan minat yang sama, keluhan yang sama, musuh yang sama hahaha dan masih banyak lagi. Pertemanan itu juga bisa dilekatkan dari secangkir kopi. Jika dulu ada kopi persaudaraan, sekarang ada kopi pertemanan.

Kopi persaudaraan salah satu yang kuingat dari kampung halamanku. Nenek suka membuat kopi hitam dalam mug besar berwarna hijau bintik-bintik, mug model kuno. Ia membuatnya pagi dan sore, tapi jika akhir pekan biasanya ia membuatkan lebih.

Kopi hitam itu enak, tidak terlalu pahit. Ia dari bijih kopi khas Malang yang digiling, bukan kopi kemasan terkenal. Setelah diseduh dengan air mendidih, maka ia akan mengeluarkan aroma yang khas.

Dulu karena aku biasa ke sekolah pagi-pagi benar karena sekolah masuk pukul 06.30, maka sarapan utamaku adalah seteguk dua teguk kopi hangat. Kopi ini menghangatkanku dan membuatku siap menghadapi hari yang yang panjang, mengerjakan ulangan, olah raga, dan mengikuti ekskul.

Nenek menambahkan energi dari kopi dengan kopi persaudaraan. Kopi ini bebas diminum siapa saja di rumah kami. Mungkin kalau dilihat sekarang agak gimana gitu karena bisa siapa saja yang meminumnya. Biasanya yang suka meminum itu kalau bukan aku, ya kakak laki-lakiku dan sepupuku yang lebih muda dariku. Kalau paman yang datang, wah biasanya satu mug langsung ludes dan kemudian nenek membuatkan yang baru.

Bersama kopi itu kami berbagi cerita. Nenek biasanya membuatkan teman kopi. Pisang goreng yang hangat dan agak lengket karena pisangnya matang. Enak sekali. Nenek tahu aku suka pisang goreng yang manis, sehingga biasanya ia menyisihkannya untukku dan kusantap saat petang atau Minggu pagi.

Kopi pertemanan juga sama. Bukan sekedar secangkir atau segelas kopi, tapi di dalamnya juga ada nilai-nilai persahabatan. Saat kami sama-sama mereguk kopi (kali ini di cangkir yang berbeda), kami berbagi keluhan juga mimpi. Ada sesuatu yang kami resahkan, tapi juga ada sesuatu yang menjadi harapan besar.

Kopi  cappucino itu kusesap sebelum dingin. Rasanya creamy, lembut di lidah dan tenggorokan. Bersama kopi itu aku menikmati gerimis deras yang menyapa pada Sabtu siang. Saat gerimis mulai reda, aku dan mba Muthiah pun bergegas menuju stasiun kereta.

Terima kasih bang Rahab Ganendra eh Ramat Pudiantp hehehe atas kopi traktirannya, secangkir kopi pertemanan.

Iklan

~ oleh dewipuspasari pada November 2, 2017.

9 Tanggapan to “Kopi dan Pertemanan”

  1. Apalah arti teman tanpa kopi. What a beautiful writing 🙂

  2. salam persahabatan…. pengenya banyakin sharing ma kawan2, selepas acara…biar lbh fresh 😀

    nama salahhh euyyyyyyyy 😀

  3. Salam kenal Mba, saya juga penikmat kopi dan teh!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: