Celengan Gerabah

Sebentar lagi lebaran tiba. Aku dan kedua kakakku mengelilingi ayahku yang sedang memegang sesuatu. Memegang si jago, celengan dari gerabah yang berbentuk ayam. Ia mengambil palu dan memecahnya. Kepingan celengan dan isinya pun berhamburan. Kami pun asyik mengumpulkan uang logam. Lalu sibuk menghitungnya untuk dibagi tiga.

Celengan gerabah dulu itu favorit untuk menabung. Ayah hampir selalu punya celengan jago dengan ukuran sedang. Ia rajin mengisinya. Biasanya setahun kemudian saat lebaran, celengannya sudah penuh. Celengan ayamnya siap disembelih.

Selain si jago, ayah juga suka menabung di bekas minuman kaleng. Kadang-kadang kulihat Ibu mencukit, mengambil duit di dalamnya untuk uang saku anak-anaknya. Mungkin celengan kaleng itu sengaja disiapkan buat kondisi darurat.

Entah mulai kapan ayah tak lagi punya celengan ayam baru. Celengan ayam sebelumnya dilubanginya dengan hati-hati di bagian bawah. Kemudian ditutupnya dengan selotip cokelat lebar untuk menutupnya.

Aku sendiri tidak punya celengan ayam. Dulu ayah membelikanku celengan plastik berbentuk monyet. Sedangkan sepupuku memberikanku kado celengan berbentuk peti harta karun lengkap dengan kuncinya.

Ketika ku pulang ke kampung halaman, kedua celengan itu masih ada. Tapi aku sudah enggan menabung di celengan. Dulu memang sempat menabung di wadah bening agar semangat menabung, juga mencoba-coba menabung khusus duit Rp 10 ribu. Entah kenapa aku kurang cocok dengan metode ini. Lalu memutuskan menabung di bank saja dengan sistem reksadana pasar uang. Duit mingguan kuambil hanya secukupnya.

Aku teringat akan celengan gerabah ini ketika jalan-jalan menuju Pasar Klewer. Ada beberapa penjual mainan dan celengan gerabah. Ukuran celengannya dari kecil hingga begitu besar. Wah kapan celengannya penuh ya?

Celengan gerabah bagi orang dewasa yang tinggal di kota megapolitan memang bukan sesuatu yang seksi. Akan tetapi celengan gerabah masih cocok jadi medium pengenalan ke anak-anak agar mereka rajin menabung. Oleh karena duit setelah dimasukkan ke celengan gerabah susah diambil lagi maka siapa tahu setelah setahun dua tahun jumlahnya cukup banyak.

Iklan

~ oleh dewipuspasari pada November 21, 2017.

4 Tanggapan to “Celengan Gerabah”

  1. Waa..lucu2 bgt celengannya, bikin makin rajin nabung harusnya yaa.. 🙂

  2. di deket rumah rumah masih banyak yang jual celengan gerabah ini

    • Wah, aku suka kasihan dengan penjual celengan gerabah, soalnya sekarang jarang orang yang menabung di celengan. Moga-moga masih laku ya. Aku biasanya nabung sementara di toples biar kelihatan isinya hehehe.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: