“Loving Vincent”, Ibarat Sebuah Karya Seni

Jika film Coco sarat dengan nilai-nilai keluarga, Breadwinner tentang perjuangan gadis kecil menafkahi keluarganya di Afganistan, maka film animasi berjudul Loving Vincent ini ibarat sebuah karya seni. Ilustrasinya benar-benar menawan bak sebuah lukisan. Tentang apakah Loving Vincent yang berhasil raih nominasi Golden Globe 2018 dan nominasi Oscar 2018?

Kalian pasti sudah kenal Vincent van Gogh oleh karena ia pelukis asal Belanda yang termahsyur. Jika belum kenal, Vincent van Gogh dikenal memiliki gaya melukis yang unik dan kemudian memberikan pengaruh di dunia melukis. Ia disebut pelukis post-impressionism. Jika biasanya lukisan itu realistis atau naturalis dengan gambar yang mirip dengan realita atau tentang panorama yang indah, maka Vincent van Gogh punya teknik tersendiri sehingga lukisan-lukisannya begitu khas. Saya sendiri awam terhadap lukisan, tapi terkadang bisa mengenali gaya melukis dengan cat minyak yang terpengaruh oleh Vincent van Gogh, yaitu cat minyak tebal, nuansa dramatis, serta impulsif. Ia suka menggambar landscape, potret diri, dan aneka bunga. Lukisan-lukisannya yang terkenal adalah Sunflowers, The Starry Night, Wheatfield with Crows, dan Portrait of dr. Gachet.

Vincent Willem van Gogh (1853-1890) seorang pelukis yang produktif. Lukisannya kira-kira mencapai 860 buah dimana sebagian besar ia buat semasa dua tahun terakhir di Perancis. Konon ia mengalami delusi dan mentalnya kurang stabil pada jelang kematiannya.

Film ini berlatar satu tahun setelah kematian Vincent van Gogh. Kematiannya yang mendadak membuat orang sekelilingnya pun terguncang. Kenapakah dan ada apakah, semua bertanya-tanya?

Cerita kemudian berlanjut ke sudut pandang petugas pos dan putranya, Joseph Roulin dan Armand Roulin. Joseph meminta tolong kepada putranya untuk mengantar surat terakhir Vincent van Gogh kepada saudaranya, Theo. Surat terakhir kembali. Armand dengan enggan menerimanya. Ia kurang suka pada Vincent van Gogh karena ia meninggal disebabkan bunuh diri dengan menembak dirinya sendiri. Sebelumnya ia memutilasi kupingnya sendiri dan mengirimkannya ke seorang wanita penghibur.

Joseph yang telah lama mengenal van Gogh dan sering menyampaikan surat ke/dari Theo bercerita jika Vincent akhir-akhir merasa depresi. Ia merasa mendengar suara-suara. Tapi kemudian ia bercerita beberapa waktu sebelum kematiannya jika ia merasa tenang. Oleh karenanya ia sangat sedih ketika mendengar kabar kematiannya.

Armand kemudian berpetualang untuk mengirimkan surat tersebut. Ia bertemu dengan Pere Tanguy yang biasanya menyediakan kebutuhan melukis van Gogh. Ia bercerita jika saudaranya, Theo telah meninggal. Ia wafat enam bulan setelah kematian van Gogh. Ia bercerita jika van Gogh pernah mengalami masa-masa berat saat berkarir. Ia menyarankan Armand untuk bertemu dengan dokter yang merawatnya, dr Gachet.

Armand kemudian bertemu dengan berbagai orang sebelum bertemu dengan dr Gachet. Ada banyak pendapat dan kenangan dari mereka akan pelukis malang tersebut. Armand kemudian mengembangkan teorinya jika bisa jadi van Gogh dibunuh bukan bunuh diri. Benarkah itu yang terjadi?

Loving Vincent bisa disebut animasi biografi yang sarat akan nilai seni. Filmnya unik, dengan ada dua alur waktu, yang hitam putih untuk flashback dengan gambar condong ke realistis, dan yang berwarna ala sebuah lukisan menggambarkan masa kini. Frame dalam film ini dibuat dengan lukisan minyak dengan total 65 ribu frame dan melibatkan 125 pelukis. Wow luar biasa. Memang jika diperhatikan dengan seksama, tiap pelukis punya gaya masing-masing, sehingga tiap adegan terkadang gaya lukisannya sedikit berbeda, meskipun sebagian besar tidak mencolok. Selain lukisan yang dibuat sendiri, ada juga lukisan asli van Gogh yang ditayangkan di animasi ini.

Film ini merupakan proyek ambisius dari Dorota Kobiela dan Hugh Welchman sebagai sutradara. Dorota sendiri aalah seorang pelukis dan mempelajari teknis van Gogh. Ia juga paham riwayat hidup van Gogh. Ia awalnya membuat film animasi pendek tujuh menit pada tahun 2008 tentang van Gogh, kemudian dengan didanai oleh Polish Film Institute, ia berhasil menyelesaikan proyeknya pada tahun 2017. Film ini pun berhasil meraih penghargaan dalam European Film Awards dan meraih sejumlah nominasi bergengsi.

Oh ya film ini terinspirasi dari surat korespondensi intens yang dilakukan Vincent van Gogh kepada saudaranya, Theo. Istri Theo, Johanna, kemudian mempublikasikan surat-surat yang disimpan suaminya tersebut. Ada sekitar 600 surat yang dikirimkan Vincent kepada adiknya, namun hanya sebagian kecil yang tersimpan. Surat-suratnya dikenal ekspresif dan seperti diary.

Menurutku Loving Vincent merupakan penantang terbesar dari film Coco sebagai penerima penghargaan Oscar 2018 untuk kategori film animasi terbaik. Coco mengharukan dan kental dengan nilai keluarga, sedangkan Loving Vincent benar-benar ibarat sebuah karya seni.

Detail Film:
Judul : Loving Vincent
Sutradara: Dorota Kobiela, Hugh Welchman
Penulis naskah: Dorota Kobiela, Hugh Welchman, Jacek Dehnel
Genre : animasi, drama, biografi
Skor : 9/10 untuk ilustrasinya dan 8/10 untuk alur ceritanya
Gambar milik situs lovingvincent

Iklan

~ oleh dewipuspasari pada Februari 5, 2018.

2 Tanggapan to ““Loving Vincent”, Ibarat Sebuah Karya Seni”

  1. Duh kepengin nonton film ini…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: