Tentang Imlek

Hujan hampir seharian mengguyur kota Jakarta kemarin. Beberapa tempat pun kebanjiran. Untunglah hari ini matahari bersinar terang, sehingga air pun mulai menyusut. Yang kuingat hujan memang intensitasnya lebih tinggi saat mendekati Imlek. Bahkan dulu waktu kecil biasanya mendekati Imlek umumnya Malang mengalami hujan angin.

Angin kencang kemudian hujan disertai angin terjadi dalam kurun waktu tertentu. Ibu dan nenek menanggapinya santai, sepertinya sebentar lagi tahun baru China alias Imlek. Padahal mereka tidak melihat kalender. Dan tebakan mereka rata-rata benar.

Kami tidak merayakan Imlek. Tapi aku dulu sejak kecil terbiasa dengan perayaan tersebut karena beberapa tetanggaku merayakannya. Setiap Imlek hampir selalu ada jenang China atau yang lazim disebut kue keranjang. Aku suka sekali menyantap kue keranjang atau yang juga disebut kue ranjang. Rasanya manis dan agak keras. Oleh ayah biasanya digoreng dengan tepung kadang juga dikukus lalu diberi parutan kelapa.

Selanjutnya ada pertunjukan barongsai. Juga ada petasan. Kedua hal ini membuat Imlek makin meriah. Saat Gus Dur menjabat sebagai Presiden maka Imlek ditetapkan sebagai hari libur. Tidak ada lagi yang merayakannya secara sembunyi-sembunyi. Saat aku jadi kuli tinta aku pun meliput berbagai atraksi menyambut dan memeriahkan Imlek. Meriah dan menarik.

Ketika aku remaja hingga kini aku suka membaca ramalan zodiak dan shio. Ramalan ini biasa kubaca saat tahun baru. Tidak kupercaya isi ramalannya. Baca sekarang besoknya juga biasanya lupa. Tapi aku gemar membacanya. Jika isinya buruk ya membuatku lebih berhati-hati. Tapi jika ramalannya bagus membuatku makin bersemangat. Lucunya antara ramalan satu majalah dengan majalah lainnya kadang kontradiktif. Tahun ini aku baca di web satu dan web lain juga berbeda. Ada yang berkata shioku masuk chiong alias sial, tapi ada juga yang berkata nasibku malah bagus di tahun Anjing tanah ini. Ah aku pilih yang bagus saja hehehe.

Dulu kami pernah merayakan Imlek sekaligus ulang tahun kawanku yang berdarah Tionghoa. Kami mengenakan baju merah dan menyantap kue keberuntungan. Lucu juga sih acaranya dan membuatku terkenang.

Ceritanya jadi ngalor-ngidul ya hahaha. Selamat berlibur kawan-kawan. Selamat merayakan Imlek. Semoga tahun Anjing Tanah ini memberikan berkah dan membuat kita lebih bersemangat dari hari ke hari.

Gambar dari pixabay dan everypixel

Iklan

~ oleh dewipuspasari pada Februari 16, 2018.

5 Tanggapan to “Tentang Imlek”

  1. Tidak kupercaya isi ramalannya. Baca sekarang besoknya juga biasanya lupa. Tapi aku gemar membacanya. Jika isinya buruk ya membuatku lebih berhati-hati. Tapi jika ramalannya bagus membuatku makin bersemangat. 
    Tepat sekali mbak, dulu juga sempet kek gini. Suka aja baca2 ramalan, skrang udah gg pernah . jarang nemuin heee

  2. Yang saya suka ketika imlek, keesokan harinya banyak yang bawa kue, termasuk kue keranjang di hari pertama masuk setelah libur, terutama mereka yang merayakannya 😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: