Nasi Goreng Kambing dan Sebuah Cerita

Ibu itu mengusap keringat yang meleleh dari dahinya. Hawa di sekitar kompor itu memang sangat panas. Ia masih asyik menumis bumbu sebelum memasukkan sepiring nasi. Wangi bawang bumbu dan aneka bumbu itu menyebar ke seisi warung. Tangan yang sudah mulai keriput itu pun kemudian nampak masih lincah mencampur nasi dan bumbu hingga benar-benar matang.

Akhirnya sepiring nasi goreng itu siap. Sayangnya itu bukan milikku. Aku masih harus menunggu lagi.

Hari itu hari yang kurang baik. Jadwalku berantakan dan aku perlu waktu menenangkan diri agar aku bisa kembali tersenyum.

Aku ingin makan sesuatu. Kubiarkan sepatu merah jinggaku membawaku. Akhirnya aku memilih warung pinggir jalan yang dikelola seorang Ibu. Aku tidak tahu apa yang ditawarkan Ibu itu. Aku hanya ingin duduk, makan apa saja, dan mengobrol dengan orang yang asing.

Aku termasuk pendiam. Tapi kadang-kadang aku suka mengobrol jika topiknya pas dan orang yang kuajak ngobrol termasuk menyenangkan. Aku sering mengobrol dengan orang asing. Dimana saja. Di toilet sambil menunggu antrian, di dalam Trans Jakarta, di angkot, di warung, dan dimana saja. Kadang topiknya sederhana, tentang cuaca, tentang kemacetan, dan sebagainya. Tapi beberapa kali aku menemukan orang-orang asing yang tak segan curhat hal-hal pribadinya kepadaku. Tentang keluarganya, tentang kekasihnya dan hal-hal yang bersifat privat. Saat kami berpisah kami sudah seperti kawan lama, padahal kami hanya berjumpa secara sekejab dan tak pernah bertemu lagi.

Kali ini sambil menunggu pesananku siap aku lagi-lagi mengobrol. Entah apa yang kuperbincangkan, semuanya mengalir begitu saja.

Aku mungkin suka mengobrol dengan orang asing. Mereka tak tahu siapa aku dan setelah itu kemungkinan aku bertemu mereka lagi juga tipis sehingga aku bebas bercakap apa saja. Saat aku sedih atau saat aku gembira aku perlu teman mengobrol, tapi saat ini semakin susah ku menemuinya. Rata-rata sibuk menunduk menghadap gadgetnya.

Aku memesan nasi goreng kambing. Sudah lama aku tak menyantapnya. Daging kambing itu ditumis dengan bumbu. Si Ibu kemudian menambahkan cabe lalu dimasukkannya nasi beserta garam. Diaduk-aduknya sekian lama. Aku sudah begitu lapar. Seharian aku hanya menyantap tiga buah pisang karena aku sedang tidak nafsu makan.

Nasi goreng kambing itu terhidang. Bentuknya kurang menggugah. Minyaknya kebanyakan. Masih lebih bagusan aku jika memasak nasi goreng. Tak apalah aku sudah lapar.

Nasi goreng kambingnya ternyata lumayan enak. Daging kambingnya empuk dan menyumbang rasa gurih. Memang minyaknya agak mengganggu, tapi tak apalah.

Sambil menyantap makanan, aku lagi-lagi mengobrol. Kali ini dengan Ibu penjual yang ternyata berasal dari Madura. Kami melanjutkan percakapan dengan bahasa campur, bahasa Jawa dan bahasa Indonesia.

Mengobrol dan menyantap nasi goreng kambing membuat pikiranku teralihkan. Aku pulang dan langsung terlelap. Keesokan paginya aku siap bekerja dengan senyum ceria.

Iklan

~ oleh dewipuspasari pada Februari 23, 2018.

2 Tanggapan to “Nasi Goreng Kambing dan Sebuah Cerita”

  1. Duhhhh, gara – gara liat NasGorBing aku kok jadi laper lagi yaaa mba hihihi. Padahal baru aja sejam lalu makan sop kacang merah hahahaha.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: