Suatu Ketika Bersama Nero

Sebulan ini hujan hampir tiap hari turun. Begitu deras. Nero yang sedari tadi bergelung nampak kebosanan. Ia ingin menjelajah dan berpatroli seperti biasanya. Namun seperti kucing pada umumnya ia takut basah. Dingin dan basah itu tidak enak.

Aku sendiri tak jauh beda dengan Nero. Masih setia dengan piyama dan kaus kaki meskipun sudah mandi. Aku terlarut membaca buku, tentang manuskrip dan kisah spiritual.

Ada seseorang yang memencet bel. Aku melangkah dengan malas. Ah Anita. Tumben ia singgah ke sini.

Aku menyambutnya. Anita sahabat sejak SD. Aku sudah menganggapnya seperti saudara. Ia memandang penampilanku sambil mengercap-ngercapkan mulutnya. Ia kemudian sibuk menilai rumahku. Rumah yang astaga lupa kubersihkan hahaha. Wah bibi teliti beraksi nih, siap-siap nyari kapas untuk menyumpal kuping.

Ia rupanya tak jadi mengomel. Malah perhatiannya tertuju ke Nero yang mulai asyik berpose menarik perhatian. Nero kayaknya lebih menarik deh daripada aku.

“Rara, Kamu kalau berpakaian kayak begini terus, rumah berantakan, kapan punya yayang?” Waduh kebiasaannya mulai kambuh.

“Coba deh dandan rapi, cari kerjaan kantoran. Jangan asyik di rumah melulu, menggambar terus”.

Hehehe aku sudah setahun ini beralih profesi jadi ilustrator. Aku menyukainya apalagi aku sedang ada proyek membuat buku tentang kucing. Aku juga tidak perlu pusing dengan penampilan. Menggambar dengan piyama pun bakal tak ada yang protes. Kalau tentang pacar, toh aku dulu juga punya. Sayangnya ia alergi bulu kucing.

Aku meringis mendengar deretan omelan Anita. Ia kan kawanku ya bukan kakakku atau ibuku, tapi galaknya ngalah-ngalahin ibuku.

Eh si Nero juga kena omelan. “Ini juga kucing makin gendut aja, pasti kebiasaannya juga ngikut empunya”.

Si Nero kupingnya mengerut. Ia kayaknya juga tak suka diomeli. Kami jadi satu kubu. Kami memandang dengan sengit musuh kami bersama.

Untunglah telpon menyelamatkan kami. Save by the bell! Nita pulang. Ia mengangsurkan tali kepadaku. Hei buat apa nih tali? Ajak Nero jalan-jalan. Kamu dan Nero harus keluar. Awas kalau dalam seminggu ini tetap di rumah saja.

Busyet apa-apaan memangnya aku pengembala kucing?

Aku dan Nero masih tetap duo pemalas. Kami asyik bergulingan di kasur dan sofa dari pagi hingga matahari mulai tinggi. Kemudian kami memanfaatkan waktu 3-5 jam untuk bekerja menggambar. Si Nero terkadang juga ikut bekerja sebagai model. Kemudian kami berpesta, menyantap ikan atau bakso sepuasnya dan berjoget. Eh si Nero itu juga pandai lho joget-joget, ekornya ikut menari. Kadang ia juga berjoget dengan dua kaki. Eh kalau yang itu mungkin ilusiku saja.

Seminggu dari Anita singgah adalah besok. Wah gimana kalau Nita nyebar mata-mata dan tahu kalau aku masih asyik di rumah saja. Jangan-jangan aku dipaksa keluar dengan piyama dan menyeret kucing gendut sepanjang jalan.

Up up up ayo Nero kita berjalan-jalan. Nero kupasangi tali. Ia menggeliat dan memberontak. Susah sekali. Tapi akhirnya aku yang menang.

Aku mengenakan celana tiga perempatku, kaus bergambar kucing dan sneaker. Ah dandanan yang tak berubah sejak dulu. Si Nero nampak menjilat-jilat tubuhnya agar tampil keren sepanjang acara jalan-jalan nanti. Yes kami siap jalan-jalan. Maen ke taman saja deh, malu juga mengembala kucing.

Singkat kata kami berdua jadi tontonan. Jarang ada anak imut-imut, usia pertengahan 20-an yang berjalan-jalan dengan kucing gendutnya. Hehehe awas kalau bisik-bisik dan menggosip, kusuruh Nero menggigit biar tahu rasa.

Sudah 20 menit kami berjalan. Si Nero beberapa kali hampir saja berlari untuk mengajak kucing-kucing taman berkelahi. Aku mulai berkeringat.

Si Nero mulai nakal lagi. Ia sekonyong-konyong melesat. Aku waspada. Jangan Nero jangan kencang-kencang, aku sudah lama tak berlari.

Jika tadi pemandangannya instagrammable dengan sosok gadis manis dan kucing gendut lucu, kini adegannya jadi slapstick. Rambutku sudah berantakan dan aku nampak terengah-engah mengejar Nero.

Akhirnya aku tak sanggup. Si Nero menghilang. Aku hampir menangis. aku tak ingin kehilangan Nero. Bagaimana jika Nero tak bisa pulang karena ia tak pernah ke taman.

Aku terus berjalan dan memanggil-manggil Nero. Pus dimana Kamu?

Selama 20 menit kemudian aku berjalan terseok-seok kelelahan. Lantas sebuah pemandangan membuatku tersentak. Itu seperti Nero.

Ya, itu Nero. Garis belangnya sama. Mata jailnya juga sama. Tali itu dipegang seseorang. Waduh Nero diculik.

Aku sudah siap untuk merebut si Nero. Pemegang tali itu sepertinya tahu kedatanganku. Aku pun kemudian merasa kelu. Itu Rei, mantan kekasihku yang dulu alergi bulu kucing.

“Ra, ternyata aku sudah tak alergi lagi dengan bulu kucing”.

Gambar dari pixabay dan dokpri

Iklan

~ oleh dewipuspasari pada Maret 7, 2018.

4 Tanggapan to “Suatu Ketika Bersama Nero”

  1. Bagus cerpennya…. Atau kisah nyata nih?

  2. Trus akhirnya Rara dan Rei gimana mba?clbk ya?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: