Ketika Si Mungil Sakit

Kemarin si Mungil sakit dan kubawa ke klinik kucing. Sama dokternya ditanyai, kucingnya kapan pipis dan gimana pipisnya? Aku bingung jawabnya. Eh kemudian si Mungil langsung ngompol banyak banget, sampai ngotori meja pemeriksaan dan nyipratin dokternya. Antara malu sama kelakuan si Mungil dan pengin ngakak😆🤣

Duh maafkan Si Mungil, Dokter. Ia kucing kampung yang tidak pernah ke klinik, jadinya kelakuannya begitu poloa dan spontan. Yang penting pertanyaan dokter terjawab kan?!

Ya kemarin aku ijin pulang cepat untuk mengantar si Mungil ke klinik. Sudah sejak hari Senin ia nampak murung dan susah makan.

Awalnya aku hendak membawanya ke klinik tempat si Nero dulu pernah dirawat. Tapi tempatnya jauh dan biayanya lumayan mahal. Ketika kutanya tarif dokternya wajar di klinik yang hanya sekilo dari rumah, maka aku pun berojek daring membawa si Mungil ke sana. Duh gerimis lagi, si Mungil nangis.

Singkat kata kliniknya, Ciyo Pet Care, itu bersih dan petugasnya ramah. Si Mungil untunglah meski takut dan stress, tidak sampai kabur. Kalau sampai kabur ketakutan ampun dah.

Si Mungil dicek kapan mandi? Ooh dia meski kucing rumahan jenis yang enggan mandi. Dia juga suka kelahi dan tak betah seharian di rumah. Waduh alamat aku dimarahi nih. Aku hanya menerapkan prinsip demokrasi di rumah, si Nero dan Mungil bebas kemana saja, asal absen tiap harinya.

Untunglah aku nggak dimarahi. Cuma, diingatkan agar lebih perhatian ke si Mungil karena bisa jadi si Mungil diperlakukan tidak baik oleh manusia yang bukan penyayang kucing atau makan sesuatu yang tidak baik bagi pencernaannya. Melihat pipisnya yang pekat, dokter mengira-ngira si Mungil kena gejala liver. Busyet berat banget ya.

Akhirnya si Mungil disarankan untuk tes darah dan tes organ dalam. Walah…walah. Ya nggak apa-apalah daripada ia diopname dan diinfus. Dalam hati aku menghitung-hitung duitku cukup tidak ya.

Drama pun terjadi ketika si Mungil hendak diambil darah. Ia hendak menggigit dan mencakar hingga terpaksa diberangus. Ia dicukur dulu sedikit agar pembuluh darahnya terlihat. Ya, hasilnya ada komponen sel darah putihnya yang kurang dari rata-rata. Hasil tes lainnya menyusul.

Akhirnya pemeriksaan pun usai. Si Mungil harus minum antibiotika dan vitamin liver. Aku diajarkan cara memberikan obatnya, dengan melapisinya dengan pakan kucing basah.

Untuk pemeriksaan, obat, dua tes dan tiga pakan kucing basah aku harus merogoh kocek Rp 495 ribu, belum biaya ojek. Jadinya 500rb++ untuk biaya pengobatan si Mungil. Fuih mahal juga ya, coba kalau ada BPJS kucing. Honor nulisku dua artikelpun melayang demi si Mungil.

Lagi-lagi drama. Hujan deras. Keranjang si Mungil pun harus berjas hujan dulu. Sepanjang jalan ibu pengendara ojeknya tertawa geli. Ia baru kali itu merasakan penumpangnya adalah kucing.

Eit drama belum berakhir. Tadi pagi sebelum ngantor aku susah payah memasukkan obat ke dalam mulut si Mungil. Hahaha si Mungil jangan sakit lagi ya.

Iklan

~ oleh dewipuspasari pada Maret 15, 2018.

2 Tanggapan to “Ketika Si Mungil Sakit”

  1. Ih lucu foto kucingnya. Semoga cepet sembuh ya Si Mungilnya. Aamiin.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: